Wishful Thinking Fallacy

Dipublikasikan: 3 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 3 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando Wishful Thinking Fallacy adalah kesalahan penalaran ketika seseorang menerima suatu klaim sebagai benar hanya karena mereka ingin klaim itu benar, bukan karena bukti objektif mendukungnya. Fallacy ini terjadi ketika harapan, keinginan, atau optimisme emosional dijadikan dasar penalaran, sehingga seseorang menolak fakta yang bertentangan. Kesalahan ini sering ditemui dalam pengambilan keputusan finansial, hubungan pribadi, kepercayaan kesehatan alternatif, dan prediksi politik, di mana preferensi subjektif lebih dominan daripada evaluasi rasional.

Pengertian Wishful Thinking Fallacy

Wishful Thinking Fallacy adalah informal fallacy yang terjadi ketika evaluasi terhadap suatu pernyataan didasarkan pada emosi positif atau keinginan psikologis, bukan bukti. Individu terdorong untuk mempercayai sesuatu karena hasil tersebut menyenangkan, menguntungkan, atau memberi rasa aman, meskipun tidak ada dasar logis untuk mendukungnya.

Fallacy ini sering berakar pada:

  • Optimisme bias: kecenderungan berpikir yang terlalu positif.
  • Motivated reasoning: menilai bukti secara selektif untuk mendukung apa yang ingin dipercaya.
  • Illusion of control: kepercayaan bahwa keinginan dapat memengaruhi realitas.
  • Penolakan terhadap ketidakpastian: orang memilih keyakinan yang menyenangkan daripada kenyataan yang sulit.

Ciri-ciri umum:

  • Keyakinan dibangun karena “akan lebih baik kalau itu benar.”
  • Menolak bukti yang tidak sesuai dengan harapan.
  • Mengasosiasikan keinginan pribadi dengan probabilitas objektif.
  • Mengambil keputusan berisiko tanpa dasar kuat.

Contoh Wishful Thinking Fallacy

  1. Keuangan:
    “Saya yakin saham ini akan naik karena saya butuh uang tambahan bulan depan.”
    → Kebutuhan pribadi tidak memengaruhi pasar.
  2. Hubungan:
    “Dia pasti setia karena saya benar-benar mencintainya.”
    → Perasaan sendiri tidak membuktikan perilaku orang lain.
  3. Kesehatan:
    “Obat ini pasti berhasil karena saya ingin cepat sembuh.”
    → Optimisme tidak menggantikan efektivitas medis yang terbukti.
  4. Politik:
    “Calon favorit saya pasti menang karena dia paling saya suka.”
    → Preferensi tidak sama dengan probabilitas kemenangan.
  5. Bisnis:
    “Proyek ini akan sukses karena kami semua sangat bersemangat.”
    → Semangat tidak menjamin profit atau kelayakan pasar.
  6. Pendidikan:
    “Saya pasti lulus karena saya benar-benar ingin lulus.”
    → Keinginan tidak menggantikan usaha dan penilaian objektif.
Orang lain juga membaca :  Poisoning the Well Fallacy

Cara Mengatasi Wishful Thinking Fallacy

  1. Fokus pada bukti, bukan emosi:
    Evaluasi klaim berdasarkan data, riset, dan rasionalitas.
  2. Gunakan pendekatan probabilistik:
    Tanyakan: “Seberapa besar kemungkinan ini terjadi berdasarkan fakta?”
  3. Cari bukti yang bertentangan:
    Aktif mencari counter-evidence membantu menyeimbangkan bias optimisme.
  4. Gunakan standar penilaian objektif:
    Misalnya indikator pasar, studi ilmiah, daftar periksa risiko, atau rubrik penilaian.
  5. Sadari motivasi pribadi:
    Identifikasi apakah keinginan memengaruhi interpretasi bukti.
  6. Berlatih toleransi terhadap ketidakpastian:
    Banyak keputusan memerlukan penerimaan bahwa hasil mungkin tidak sesuai harapan.
  7. Diskusi dengan pihak luar:
    Orang lain sering lebih objektif dalam menilai situasi yang melibatkan emosi pribadi.

Referensi

  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
  • Tversky, A., & Kahneman, D. (1974). Judgment under Uncertainty: Heuristics and Biases. Science.
  • Gilovich, T. (1991). How We Know What Isn’t So: The Fallibility of Human Reason in Everyday Life. Free Press.
  • Nisbett, R., & Ross, L. (1980). Human Inference: Strategies and Shortcomings of Social Judgment. Prentice Hall.
  • Plous, S. (1993). The Psychology of Judgment and Decision Making. McGraw-Hill.

Citation

Previous Article

Weak Analogy Fallacy

Next Article

Yogi Fallacy

Citation copied!