Raymond Kelvin Nando — Walker Connor adalah seorang filsuf politik dan ilmuwan sosial asal Amerika Serikat yang dikenal luas karena pemikirannya tentang nasionalisme dan identitas etnonasional. Ia termasuk salah satu pemikir paling berpengaruh abad ke-20 dalam studi tentang bangsa, etnisitas, dan politik identitas. Pemikiran Connor menegaskan bahwa nasionalisme bukanlah konstruksi politik semata, tetapi ekspresi emosional dan eksistensial yang berakar dalam kesadaran etnis kolektif.
Daftar Isi
Biografi Walker Connor
Walker Connor lahir pada 19 April 1926 di South Orange, New Jersey, Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan di Princeton University dan melanjutkan studi pascasarjana di Georgetown University. Selama karier akademiknya, Connor mengajar di sejumlah universitas ternama, termasuk Trinity College, Rensselaer Polytechnic Institute, dan Middlebury College.
Connor mengembangkan pemikirannya pada masa pasca-Perang Dunia II, ketika banyak negara kolonial mulai memperoleh kemerdekaan dan muncul berbagai gerakan etnonasional di seluruh dunia. Ia melihat bahwa teori politik Barat yang berpusat pada konsep negara-bangsa modern gagal memahami realitas psikologis dan emosional dari identitas kolektif manusia.
Selama hidupnya, Connor menulis banyak karya penting, termasuk Ethnonationalism: The Quest for Understanding (1994) dan The National Question in Marxist-Leninist Theory and Strategy (1984). Ia juga dikenal karena pendekatan multidisiplin yang memadukan filsafat politik, psikologi sosial, dan antropologi dalam memahami fenomena kebangsaan.
Walker Connor wafat pada 28 Februari 2017. Warisannya tetap hidup melalui konsep-konsep yang mengubah cara kita memahami nasionalisme sebagai pengalaman emosional dan eksistensial manusia, bukan sekadar proyek politik atau ideologis.
Konsep-Konsep Utama
Ethnonationalism (Etnonasionalisme)
Konsep utama yang diperkenalkan oleh Walker Connor adalah ethnonationalism, yang ia bedakan dari civic nationalism. Menurut Connor, nasionalisme sejati berakar pada kesadaran etnis — pada perasaan memiliki asal-usul yang sama, bukan semata pada institusi politik atau hukum negara.
Connor mengatakan dalam bukunya Ethnonationalism: The Quest for Understanding:
The essence of nationalism is the emotional sense of belonging to a people who are believed to share common ancestry. (Ethnonationalism, 1994, hlm. 206)
Kutipan ini memperlihatkan bahwa nasionalisme, bagi Connor, adalah fenomena psikologis dan eksistensial, bukan semata rasional. Ia berargumen bahwa identitas nasional tidak dibentuk melalui kontrak sosial seperti dalam teori politik modern, tetapi tumbuh dari keyakinan akan kesamaan darah, sejarah, dan budaya.
Connor juga menegaskan bahwa banyak konflik politik modern berakar pada ketidaksesuaian antara batas-batas etnis dan batas-batas negara. Karena itu, ethnonationalism menjadi kekuatan politik yang sangat kuat dan sering kali lebih mendalam daripada kesetiaan terhadap negara.
Dengan pendekatan ini, Connor mengoreksi pandangan modernis seperti Ernest Gellner atau Benedict Anderson yang menekankan dimensi sosial konstruktif dari bangsa. Bagi Connor, ethnonationalism bukanlah ciptaan elite politik, melainkan kebutuhan emosional yang sangat manusiawi — kebutuhan untuk merasa “berasal dari suatu tempat.”
The Primordial Attachment (Keterikatan Primordial)
Dalam analisisnya terhadap psikologi nasionalisme, Connor memperkenalkan gagasan tentang primordial attachment atau keterikatan primordial. Ia berpendapat bahwa keterikatan terhadap kelompok etnis bersifat mendasar, hampir sebanding dengan naluri biologis, karena berakar pada rasa kebersamaan yang diwariskan sejak lahir.
Ia menulis dalam salah satu artikelnya:
The bond of kinship is not rationally chosen; it is felt, not reasoned. (A Nation is a Nation, Is a State, Is an Ethnic Group, Is a…, 1978, hlm. 389)
Pandangan ini menolak asumsi rasionalisme politik yang menganggap identitas kolektif sebagai hasil pilihan atau kalkulasi. Sebaliknya, Connor melihatnya sebagai emotional commitment, suatu bentuk keterikatan yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh teori politik formal.
Konsep ini berimplikasi besar dalam filsafat politik dan sosiologi, karena menempatkan emosi dan simbolisme di pusat analisis politik. Connor menegaskan bahwa kesetiaan etnis sering kali lebih kuat daripada kesetiaan terhadap ideologi atau lembaga negara, sebab ia berakar pada perasaan eksistensial tentang siapa kita dan dari mana kita berasal.
Dalam Konteks Lain
Filsafat Politik dan Identitas Kolektif
Dalam konteks filsafat politik, pemikiran Walker Connor dapat dibaca sebagai kritik terhadap tradisi liberal yang mendasarkan politik pada individu otonom. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak hidup sebagai individu terisolasi, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang didefinisikan oleh simbol, bahasa, dan memori bersama.
Connor menulis dalam The National Question in Marxist-Leninist Theory and Strategy:
The nation precedes the state and gives meaning to it; without the nation, the state is an empty shell. (The National Question, 1984, hlm. 45)
Kutipan ini menunjukkan bahwa negara hanyalah bentuk eksternal dari kesadaran nasional. Ketika negara gagal mencerminkan identitas etnis rakyatnya, maka muncul ketegangan dan konflik yang bersumber dari perbedaan eksistensial antara kekuasaan politik dan kesetiaan emosional.
Dengan demikian, bagi Connor, filsafat politik yang sejati harus memperhitungkan dimensi simbolik dan emosional manusia. Nasionalisme bukan sekadar ideologi, tetapi ekspresi mendalam dari kebutuhan akan pengakuan, kebersamaan, dan makna historis.
Etnonasionalisme dan Globalisasi
Dalam konteks globalisasi, gagasan Connor tetap relevan. Ia berpendapat bahwa modernisasi tidak menghapus nasionalisme, melainkan justru memperkuatnya. Ketika dunia menjadi semakin homogen secara ekonomi, kebutuhan akan identitas yang unik semakin meningkat.
Hal ini terlihat dari munculnya gerakan etnonasional di berbagai belahan dunia, seperti di Skotlandia, Katalonia, Kurdistan, dan Tibet. Pandangan Connor membantu menjelaskan mengapa manusia tetap mencari akar dan makna kolektif, meskipun hidup dalam dunia yang serba global dan rasional.
Kesimpulan
Walker Connor adalah pemikir yang menegaskan bahwa nasionalisme tidak dapat dipahami tanpa memahami dimensi emosional dan etnis manusia. Melalui konsep ethnonationalism dan primordial attachment, ia memperlihatkan bahwa kesetiaan terhadap bangsa berakar dalam perasaan eksistensial yang lebih dalam daripada logika politik. Pemikirannya membuka jalan bagi pendekatan humanistik dan psikologis dalam studi tentang identitas kolektif dan politik global.
FAQ
Apa yang dimaksud dengan ethnonationalism menurut Walker Connor?
Ethnonationalism adalah pandangan bahwa nasionalisme berakar pada kesadaran etnis dan perasaan memiliki asal-usul bersama, bukan pada struktur politik atau hukum negara.
Apa arti konsep primordial attachment dalam pemikiran Connor?
Itu adalah gagasan bahwa keterikatan etnis bersifat emosional dan bawaan, bukan hasil pilihan rasional, dan menjadi dasar utama kesetiaan manusia terhadap kelompoknya.
Bagaimana Connor memandang hubungan antara negara dan bangsa?
Menurutnya, bangsa mendahului negara; negara hanyalah wadah politik yang memperoleh legitimasi dari identitas etnis rakyatnya.
Referensi
- Connor, W. (1978). A Nation is a Nation, Is a State, Is an Ethnic Group, Is a…. Ethnic and Racial Studies, 1(4), 377–400.
- Connor, W. (1984). The National Question in Marxist-Leninist Theory and Strategy. Princeton University Press.
- Connor, W. (1994). Ethnonationalism: The Quest for Understanding. Princeton University Press.
- Gellner, E. (1983). Nations and Nationalism. Cornell University Press.
- Smith, A. D. (1991). National Identity. Penguin Books.
- Hutchinson, J., & Smith, A. D. (1996). Ethnicity. Oxford University Press.