Verification Fallacy

Dipublikasikan: 3 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 3 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando Verification Fallacy adalah kesalahan penalaran ketika seseorang menganggap bahwa suatu klaim benar hanya karena dapat diverifikasi, atau sebaliknya menganggap klaim salah hanya karena tidak dapat diverifikasi dalam kondisi tertentu. Fallacy ini sering muncul dalam diskusi ilmiah, debat filosofis, sampai percakapan sehari-hari, ketika orang secara keliru menggunakan keterverifikasian sebagai bukti kebenaran absolut. Padahal, kemampuan memverifikasi suatu klaim tidak selalu berkaitan dengan nilai kebenaran atau keabsahan logisnya.

Pengertian Verification Fallacy

Verification Fallacy adalah informal fallacy di mana kebenaran sebuah pernyataan dianggap identik dengan fakta bahwa pernyataan tersebut dapat diverifikasi. Fallacy ini sering bermula dari asumsi bahwa:

  • “Jika sesuatu dapat diverifikasi, maka itu pasti benar.”
  • “Jika sesuatu tidak dapat diverifikasi, maka itu pasti salah.”

Kedua asumsi tersebut keliru karena:

  1. Verifikasi tidak sama dengan kebenaran. Banyak hal dapat diverifikasi dalam kondisi tertentu tetapi tetap salah (misalnya data bias, eksperimen cacat, laporan palsu).
  2. Ketiadaan verifikasi bukan berarti klaim salah. Banyak fenomena benar tetapi belum bisa diverifikasi karena keterbatasan teknologi, metode, atau waktu.
  3. Beberapa klaim benar secara logis tetapi tidak dapat diuji empiris.

Fallacy ini juga berkaitan dengan filsafat positivisme logis yang menyatakan bahwa makna suatu pernyataan bergantung pada verifikasinya—sebuah pandangan yang kemudian dikritik secara luas karena menyederhanakan epistemologi.

Ciri-ciri umum:

  • Menggunakan “bukti dapat diverifikasi” sebagai satu-satunya patokan kebenaran.
  • Menolak klaim yang belum dapat diuji empiris.
  • Menganggap hasil verifikasi selalu valid tanpa memeriksa metode atau bias.
  • Mengaburkan perbedaan antara epistemic access dan truth value.

Contoh Verification Fallacy

  1. Ilmiah:
    “Fenomena itu tidak bisa diverifikasi sekarang, jadi pasti tidak benar.”
    → Banyak teori ilmiah awalnya belum terverifikasi (contoh: gelombang gravitasi).
  2. Sehari-hari:
    “Saya melihat sendiri videonya, jadi pasti itu benar.”
    → Verifikasi perseptual atau visual tidak menjamin kebenaran (contoh: deepfake, editing).
  3. Filosofis:
    “Konsep keadilan tidak dapat diverifikasi secara empiris, maka itu tidak bermakna.”
    → Klaim normatif tidak harus dapat diverifikasi secara ilmiah.
  4. Hukum:
    “Tidak ada bukti langsung, maka tuduhan itu pasti salah.”
    → Ketiadaan verifikasi tidak berarti ketiadaan kebenaran; bisa terjadi karena kurangnya saksi atau dokumentasi.
  5. Metode penelitian:
    “Penelitian itu menggunakan survei yang jelas dan bisa diverifikasi, jadi kesimpulannya pasti benar.”
    → Metode verifikasi bisa buruk (sampel bias, desain buruk, responden tidak jujur).
Orang lain juga membaca :  Historical Fallacy

Cara Mengatasi Verification Fallacy

  1. Bedakan antara verifikasi dan kebenaran:
    Sesuatu bisa benar tetapi sulit diverifikasi, atau tampak terverifikasi tetapi keliru.
  2. Evaluasi kualitas verifikasi:
    Periksa apakah metode, sampel, instrumen, dan proses pengumpulan data valid.
  3. Akui keterbatasan bukti:
    Bukan semua klaim dapat diuji saat ini; beberapa menunggu metode baru.
  4. Gunakan pendekatan triangulasi bukti:
    Jangan hanya mengandalkan satu bentuk verifikasi; kombinasikan berbagai sumber.
  5. Periksa bias observasional:
    Verifikasi dapat menjadi keliru karena kesalahan persepsi, teknologi, atau asumsi ilmiah.
  6. Terbuka terhadap penundaan keputusan:
    Jika tidak dapat diverifikasi, keputusan tidak harus langsung menganggapnya salah; dapat menggunakan kategori uncertain.
  7. Pelajari konteks epistemologi:
    Beberapa klaim adalah normatif, logis, atau metafisik sehingga verifikasi empiris tidak relevan.

Referensi

  • Ayer, A. J. (1952). Language, Truth, and Logic. Dover Publications.
  • Chalmers, A. (2013). What Is This Thing Called Science? Open University Press.
  • Popper, K. (2002). The Logic of Scientific Discovery. Routledge.
  • Haack, S. (1993). Evidence and Inquiry: Towards Reconstruction in Epistemology. Blackwell.
  • Godfrey-Smith, P. (2003). Theory and Reality: An Introduction to the Philosophy of Science. University of Chicago Press.

Citation

Previous Article

Vagueness Fallacy

Next Article

Virtue Signaling Fallacy

Citation copied!