Dipublikasikan: 5 November 2025
Terakhir diperbarui: 5 November 2025
Dipublikasikan: 5 November 2025
Terakhir diperbarui: 5 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Totalitarianisme adalah ideologi dan sistem politik yang menempatkan negara sebagai kekuasaan absolut yang mengontrol seluruh aspek kehidupan masyarakat — ekonomi, politik, budaya, dan bahkan pikiran individu. Dalam sistem ini, tidak ada ruang bagi oposisi atau kebebasan individu; semua aktivitas diarahkan untuk mendukung tujuan dan ideologi negara. Totalitarianisme sering muncul dalam konteks pemerintahan diktator yang memanfaatkan propaganda, sensor, dan teror untuk mempertahankan kekuasaan.
Daftar Isi
Totalitarianisme dapat diartikan sebagai bentuk pemerintahan di mana negara menguasai secara menyeluruh kehidupan publik dan privat warganya, serta menuntut kesetiaan total kepada ideologi resmi.
“Totalitarianism strives not toward despotic rule over men, but toward a system in which men are superfluous.”
— Hannah Arendt, The Origins of Totalitarianism (1951), p. 457
Dalam sistem ini, negara berperan bukan hanya sebagai pengatur sosial, tetapi juga sebagai pembentuk kesadaran, di mana seluruh warga diharapkan berpikir dan bertindak sesuai dengan tujuan ideologi resmi.
Ciri paling utama dari totalitarianisme adalah penghapusan batas antara kehidupan publik dan pribadi. Negara menuntut kesetiaan penuh, bahkan dalam hal keyakinan dan moral pribadi.
“Everything within the State, nothing outside the State, nothing against the State.”
— Benito Mussolini, La Dottrina del Fascismo (1932), p. 15
Individu kehilangan otonomi, karena seluruh keputusan dan norma kehidupan ditentukan oleh negara.
Sistem totalitarian selalu memiliki ideologi tunggal yang dijadikan dasar legitimasi, serta pemimpin karismatik yang dipuja layaknya tokoh mesianis.
“The Leader is infallible because he embodies the will of the people.”
— Carl J. Friedrich & Zbigniew Brzezinski, Totalitarian Dictatorship and Autocracy (1956), p. 62
Kultus individu digunakan untuk menghapus kritik dan membangun kesetiaan emosional terhadap pemimpin.
Rezim totalitarian menguasai media, pendidikan, dan seni untuk membentuk kesadaran kolektif. Propaganda menjadi alat utama untuk menciptakan realitas baru yang sesuai dengan ideologi negara.
“He who controls the past controls the future. He who controls the present controls the past.”
— George Orwell, 1984 (1949), p. 37
Dengan cara ini, negara memonopoli kebenaran dan membungkam semua bentuk pemikiran kritis.
Salah satu instrumen kunci totalitarianisme adalah teror sistematis, yang digunakan untuk menakut-nakuti rakyat dan menghancurkan oposisi.
“Terror is the essence of totalitarian domination.”
— Hannah Arendt, The Origins of Totalitarianism (1951), p. 466
Melalui lembaga-lembaga seperti polisi rahasia dan kamp tahanan, negara memastikan bahwa setiap penyimpangan ideologis dihukum dengan keras.
Totalitarianisme juga memanfaatkan organisasi massa tunggal yang mengintegrasikan semua warga negara dalam struktur kontrol politik. Tidak ada ruang bagi partai atau organisasi independen.
“The totalitarian movement is the organization of the masses into one-man rule.”
— Hannah Arendt, The Origins of Totalitarianism (1951), p. 421
Dengan demikian, masyarakat sepenuhnya diserap ke dalam sistem yang tunduk kepada negara dan pemimpinnya.
Otoritarianisme membatasi kebebasan politik tetapi masih memberi ruang bagi kehidupan pribadi, sedangkan totalitarianisme mengontrol seluruh aspek kehidupan publik dan privat tanpa pengecualian.
Karena sistem ini meniadakan kebebasan berpikir dan bertindak, menjadikan individu sekadar instrumen ideologi negara, bukan subjek moral yang otonom.
Rezim Nazi Jerman di bawah Adolf Hitler dan Uni Soviet di bawah Joseph Stalin sering disebut sebagai contoh klasik totalitarianisme modern.