Thomas Nagel

Dipublikasikan: 14 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 14 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Thomas Nagel adalah seorang filsuf Amerika Serikat yang menempati posisi sangat berpengaruh dalam filsafat pikiran, etika, dan filsafat politik kontemporer. Ia dikenal luas karena pembelaannya terhadap realitas subjektivitas, kritiknya terhadap reduksionisme fisikalis, serta upayanya mempertahankan objektivitas rasional tanpa meniadakan sudut pandang orang pertama. Melalui gaya argumentasi yang jernih dan ketat, Nagel menantang kecenderungan filsafat modern yang ingin menjelaskan seluruh realitas manusia hanya melalui sains alam, sambil tetap menolak solusi metafisik tradisional seperti dualisme substansial atau teologi.

Biografi Thomas Nagel

Thomas Nagel lahir pada 4 Juli 1937 di Beograd, Yugoslavia (kini Serbia), dan dibesarkan di Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan sarjana di Cornell University, kemudian melanjutkan studi di University of Oxford sebagai Rhodes Scholar, di mana ia belajar di bawah bimbingan tokoh-tokoh penting filsafat analitik Inggris. Pengaruh tradisi analitik Oxford, khususnya ketelitian konseptual dan perhatian pada bahasa serta argumen, sangat membentuk gaya filsafat Nagel.

Nagel meraih gelar doktor dari Harvard University dan menghabiskan sebagian besar karier akademiknya di New York University, tempat ia menjadi salah satu figur sentral dalam filsafat kontemporer. Selain karya akademik, Nagel dikenal sebagai penulis esai filosofis yang dapat diakses oleh pembaca non-spesialis tanpa mengorbankan kedalaman analisis. Ia juga aktif dalam perdebatan publik mengenai moralitas, politik liberal, dan hubungan antara sains dan filsafat.

Orang lain juga membaca :  Niccolò Cusano

Pemikiran Thomas Nagel

Subjektivitas dan Sudut Pandang Orang Pertama

Tema sentral dalam pemikiran Nagel adalah pembelaan terhadap subjektivitas sebagai fakta yang tidak dapat dihapus dari gambaran dunia. Ia berargumen bahwa pengalaman sadar selalu memiliki karakter “bagaimana rasanya” bagi subjek yang mengalaminya, dan dimensi ini tidak dapat direduksi menjadi deskripsi objektif semata. Subjektivitas bukanlah ilusi atau kekurangan epistemik, melainkan aspek fundamental realitas yang harus diakomodasi oleh teori filosofis apa pun yang memadai. Dengan demikian, Nagel menolak upaya filsafat dan sains yang berusaha menghilangkan perspektif orang pertama demi objektivitas total.

“What Is It Like to Be a Bat?” dan Masalah Kesadaran

Esai Nagel yang paling terkenal, “What Is It Like to Be a Bat?”, menjadi tonggak penting dalam filsafat kesadaran. Dalam esai ini, Nagel menunjukkan bahwa meskipun kita dapat mengetahui segala fakta fisik tentang kelelawar, kita tetap tidak akan mengetahui bagaimana rasanya menjadi kelelawar. Argumen ini menantang fisikalisme reduktif dengan menunjukkan adanya celah konseptual antara pengetahuan objektif tentang sistem fisik dan pengalaman subjektif. Kesadaran, menurut Nagel, memiliki aspek fenomenologis yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh ilmu fisika.

Kritik terhadap Reduksionisme Ilmiah

Nagel secara konsisten mengkritik reduksionisme ilmiah yang mengklaim bahwa semua fenomena dapat dijelaskan sepenuhnya oleh hukum-hukum fisika. Ia tidak menolak sains, tetapi menolak klaim filosofis berlebihan yang sering menyertai keberhasilan ilmiah. Menurut Nagel, proyek reduksionis gagal karena mengabaikan dimensi normatif, subjektif, dan teleologis dari pengalaman manusia. Ia menegaskan bahwa penjelasan ilmiah perlu dilengkapi oleh refleksi filosofis yang mengakui keterbatasannya sendiri.

Objektivitas dan Pandangan dari “Nowhere”

Dalam karyanya tentang objektivitas, Nagel mengembangkan gagasan tentang “pandangan dari nowhere”, yaitu upaya rasional untuk melampaui sudut pandang subjektif individual demi mencapai pemahaman yang lebih objektif tentang dunia. Namun, ia juga menegaskan bahwa objektivitas tidak pernah sepenuhnya menghapus subjektivitas. Filsafat, bagi Nagel, harus bergerak di antara dua kutub ini: usaha menuju objektivitas universal dan pengakuan terhadap keterbatasan perspektif manusia. Ketegangan ini bukan masalah yang harus dihilangkan, melainkan kondisi permanen refleksi rasional.

Orang lain juga membaca :  Herbert Marcuse

Etika dan Moralitas Objektif

Dalam etika, Nagel membela kemungkinan moralitas objektif yang tidak bergantung pada preferensi subjektif atau relativisme budaya. Ia berargumen bahwa alasan moral memiliki kekuatan normatif yang dapat diakses melalui rasionalitas, bukan melalui emosi semata atau konvensi sosial. Namun, ia juga menyadari konflik antara sudut pandang pribadi dan tuntutan impersonal moralitas. Ketegangan antara kepentingan diri dan tuntutan objektif moral merupakan ciri inheren kehidupan etis, bukan kontradiksi yang dapat diselesaikan secara tuntas.

Konflik Moral dan Tragedi Etis

Nagel menekankan bahwa kehidupan moral sering kali melibatkan konflik yang tidak dapat diselesaikan tanpa sisa. Dalam situasi tragis tertentu, apa pun pilihan yang diambil akan melibatkan kehilangan nilai yang nyata. Pandangan ini menolak optimisme moral yang menganggap bahwa setiap konflik etis dapat diselesaikan melalui kalkulasi rasional sederhana. Dengan mengakui realitas tragedi moral, Nagel memberikan gambaran etika yang lebih realistis dan manusiawi.

Filsafat Politik dan Liberalisme

Dalam filsafat politik, Nagel mengembangkan pembelaan terhadap liberalisme yang berakar pada netralitas negara terhadap pandangan hidup individu. Ia berargumen bahwa dalam masyarakat pluralistik, negara tidak boleh memaksakan konsepsi kebaikan tertentu, melainkan harus menyediakan kerangka keadilan yang memungkinkan individu mengejar nilai-nilai mereka sendiri. Pandangan ini menempatkan Nagel dalam dialog kritis dengan teori keadilan kontemporer, khususnya pemikiran John Rawls.

Kritik terhadap Neo-Darwinisme Reduksionis

Dalam karya-karya lanjutannya, Nagel mengajukan kritik kontroversial terhadap neo-Darwinisme yang sepenuhnya materialistik. Ia mempertanyakan apakah evolusi biologis yang bersifat mekanistik cukup untuk menjelaskan kemunculan kesadaran, rasionalitas, dan nilai. Meskipun tidak menawarkan alternatif teologis, Nagel membuka ruang bagi kemungkinan prinsip-prinsip alam tambahan yang belum dipahami. Kritik ini memicu perdebatan luas karena menantang konsensus naturalisme dominan dalam filsafat dan sains.

Orang lain juga membaca :  Benedetto Croce

Karya Thomas Nagel

  • The Possibility of Altruism
  • Mortal Questions
  • What Does It All Mean?
  • The View from Nowhere
  • Equality and Partiality
  • Mind and Cosmos

Referensi

  • Nagel, T. (1970). The possibility of altruism. Oxford: Clarendon Press.
  • Nagel, T. (1979). Mortal questions. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Nagel, T. (1986). The view from nowhere. New York: Oxford University Press.
  • Nagel, T. (1991). Equality and partiality. Oxford: Oxford University Press.
  • Nagel, T. (2012). Mind and cosmos: Why the materialist neo-Darwinian conception of nature is almost certainly false. New York: Oxford University Press.

Citation

Previous Article

John Rogers Searle

Next Article

Alvin Carl Plantinga

Citation copied!