Sufisme

Dipublikasikan: 8 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Sufisme adalah cabang spiritualitas dalam Islam yang menekankan pencapaian kedekatan dengan Allah melalui pengalaman batin, meditasi, dan disiplin spiritual. Sufisme dikenal sebagai jalan mistik Islam yang menekankan kesucian hati, pengendalian diri, dan cinta ilahi, serta menekankan hubungan pribadi dengan Tuhan di luar formalitas ritual semata. Aliran ini berperan penting dalam penyebaran Islam melalui dakwah, seni, dan budaya.

Ajaran Sufisme

Beberapa prinsip inti Sufisme meliputi:

  1. Tarekat dan Guru Spiritual
    • Sufi menekankan pentingnya bimbingan seorang guru (shaykh atau murshid) untuk menapaki jalan spiritual (tariqa).
    • Hubungan murid-guru menjadi kunci pertumbuhan spiritual dan pembinaan karakter.
  2. Dzikir dan Meditasi
    • Dzikir: pengulangan nama Allah atau doa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan.
    • Meditasi (muraqaba) dan kontemplasi membantu mencapai kesadaran ilahi dan pengendalian diri.
  3. Cinta Ilahi (Ishq-e-Haqiqi)
    • Sufi menekankan cinta murni kepada Allah sebagai jalan mencapai kesucian dan pembebasan dari ego (nafs).
    • Banyak syair, puisi, dan musik Sufi mengekspresikan pengalaman cinta ilahi ini.
  4. Etika dan Disiplin Spiritual
    • Mengendalikan hawa nafsu, mengamalkan kebaikan, dan menjaga moralitas.
    • Menekankan rendah hati, sabar, dan pengabdian tanpa pamrih.
  5. Integrasi dengan Syariat
    • Meskipun fokus pada batin dan pengalaman mistik, Sufisme tetap menekankan kepatuhan terhadap rukun Islam dan hukum syariat.
    • Jalan spiritual dianggap sebagai pelengkap praktik formal Islam.

Sejarah Perkembangan Sufisme

  1. Abad Awal Islam (7–10 M)
    • Ajaran mistik awal muncul sebagai reaksi terhadap dunia materi dan penekanan pada ibadah formal.
    • Tokoh awal seperti Hasan al-Basri menekankan kesederhanaan, pengendalian nafsu, dan cinta Tuhan.
  2. Abad Pertengahan (10–15 M)
    • Pembentukan tarekat Sufi dan penyebaran praktik dzikir dan meditasi.
    • Tokoh-tokoh besar: Rabi’a al-Adawiyya, Al-Ghazali, dan Abdul Qadir al-Jilani.
    • Sufisme menyebar ke Asia Selatan, Persia, Afrika Utara, dan Turki.
  3. Era Modern
    • Sufisme tetap berpengaruh dalam seni, musik, dan budaya Islam.
    • Beberapa tarekat tetap aktif mengajarkan spiritualitas, meditasi, dan pengabdian.
Orang lain juga membaca :  Vaishnavisme

Tokoh-Tokoh Berpengaruh dalam Sufisme

  1. Rabi’a al-Adawiyya (717–801) – Penyair mistik perempuan, menekankan cinta ilahi tanpa pamrih.
  2. Al-Ghazali (1058–1111) – Teolog dan filsuf, mengintegrasikan Sufisme dengan hukum Islam.
  3. Jalaluddin Rumi (1207–1273) – Penyair dan filsuf Persia, terkenal dengan karya Masnavi dan ajaran cinta ilahi.
  4. Abdul Qadir al-Jilani (1077–1166) – Pendiri tarekat Qadiriyah, menekankan disiplin spiritual dan pengabdian.
  5. Bulleh Shah (1680–1757) – Penyair dan guru Sufi dari Punjab, menekankan persatuan manusia dan cinta ilahi.

Referensi

  • Schimmel, A. (1975). Mystical Dimensions of Islam. University of North Carolina Press.
  • Ernst, C. W. (1997). The Shambhala Guide to Sufism. Shambhala.
  • Chittick, W. C. (2000). Sufism: A Beginner’s Guide. Oneworld Publications.
  • Trimingham, J. S. (1998). The Sufi Orders in Islam. Oxford University Press.
  • Lewisohn, L. (2000). The Heritage of Sufism. Oneworld Publications.

Citation

Previous Article

Syiah

Next Article

Ahmadiyah

Citation copied!