Raymond Kelvin Nando — Søren Kierkegaard adalah seorang filsuf dan teolog Denmark yang dianggap sebagai bapak eksistensialisme modern. Ia menempatkan individu dan pengalaman eksistensial sebagai pusat refleksi filosofis, menolak sistem-sistem metafisis dan rasionalisme abstrak yang mengabaikan dimensi personal kehidupan manusia. Pemikirannya menyoroti kecemasan, pilihan, iman, dan subjektivitas sebagai inti keberadaan, menjadikannya figur penting dalam peralihan filsafat dari spekulasi rasional menuju refleksi eksistensial tentang makna hidup.
Daftar Isi
Biografi Søren Kierkegaard
Søren Aabye Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark, pada 5 Mei 1813. Ia berasal dari keluarga Lutheran yang religius dan penuh disiplin, terutama karena pengaruh kuat ayahnya, Michael Pedersen Kierkegaard, seorang pedagang kaya namun muram. Pengalaman masa kecil yang sarat rasa bersalah dan kesalehan mendalam membentuk pandangan eksistensialnya tentang dosa, iman, dan penderitaan.
Kierkegaard belajar teologi di Universitas Kopenhagen dan pada usia muda menunjukkan ketertarikan besar terhadap filsafat klasik, terutama karya-karya Socrates dan Hegel. Namun, ia kemudian menolak sistem filsafat Hegelian karena dianggap meniadakan eksistensi konkret individu demi struktur rasional universal.
Pada 1841, ia menulis disertasi berjudul The Concept of Irony with Constant Reference to Socrates, yang menandai awal pemikiran filosofisnya. Tak lama kemudian, ia membatalkan pertunangannya dengan Regine Olsen — peristiwa yang menjadi pengalaman eksistensial paling penting dalam hidupnya, tercermin dalam banyak karya seperti Either/Or, Fear and Trembling, dan The Concept of Anxiety.
Kierkegaard menghabiskan hidupnya di Kopenhagen, menulis secara intensif antara tahun 1843–1855. Ia wafat pada 11 November 1855, dalam kesendirian dan konflik dengan gereja resmi Denmark. Meskipun semasa hidupnya kurang dikenal, pemikirannya kemudian menjadi fondasi bagi filsafat eksistensial abad ke-20.
Konsep-Konsep Utama
Subjektivitet er Sandhed (Subjektivitas adalah Kebenaran)
Salah satu tesis utama Kierkegaard adalah bahwa kebenaran sejati bersifat subjektif, yakni berakar pada pengalaman eksistensial pribadi, bukan pada pengetahuan objektif universal.
Subjectivity is truth, and truth is subjectivity. (Concluding Unscientific Postscript, 1846, hlm. 203)
Menurut Kierkegaard, kebenaran tidak dapat ditemukan dalam sistem rasional atau logika abstrak, melainkan dalam relasi pribadi antara manusia dan keberadaannya sendiri, terutama relasinya dengan Tuhan. Subjektivitas di sini bukan relativisme, melainkan keaslian eksistensial: keberanian untuk hidup sesuai dengan keyakinan terdalam, bahkan di tengah ketidakpastian.
Melalui gagasan ini, ia menolak sistem filsafat Hegelian yang berusaha menafsirkan seluruh realitas dalam struktur rasional. Bagi Kierkegaard, hidup manusia tidak dapat direduksi menjadi konsep, karena setiap individu harus “menjadi diri sendiri” melalui keputusan dan komitmen eksistensial.
Angest (Kecemasan)
Dalam The Concept of Anxiety (1844), Kierkegaard menjelaskan bahwa kecemasan adalah kondisi batin yang muncul dari kesadaran akan kebebasan dan kemungkinan.
Anxiety is the dizziness of freedom. (The Concept of Anxiety, 1844, hlm. 61)
Kecemasan bukan sekadar ketakutan terhadap sesuatu yang konkret, melainkan kegelisahan metafisik karena manusia menyadari kemampuannya untuk memilih, termasuk kemungkinan untuk berbuat dosa. Dalam kecemasan, manusia dihadapkan pada ambiguitas eksistensinya — antara keberadaan yang terbatas dan potensi tak terbatas untuk menentukan diri.
Kierkegaard menganggap kecemasan sebagai syarat lahirnya tanggung jawab moral dan spiritual, sebab hanya melalui kecemasan manusia menyadari kebebasan sejatinya. Dengan demikian, kecemasan adalah jalan menuju iman, bukan sekadar penderitaan psikologis.
Springet i Troen (Lompatan Iman)
Salah satu gagasan paling terkenal dari Kierkegaard adalah “lompatan iman”, yang menandai peralihan eksistensial dari rasionalitas menuju kepercayaan penuh kepada Tuhan.
Faith begins precisely where thinking leaves off. (Fear and Trembling, 1843, hlm. 92)
Iman, menurutnya, tidak bisa dijelaskan secara rasional atau dibuktikan logis; ia adalah tindakan eksistensial — sebuah keputusan tanpa jaminan. Dalam Fear and Trembling, Kierkegaard menggunakan kisah Abraham yang bersedia mengorbankan Ishak sebagai contoh bagaimana iman sejati melampaui etika universal demi ketaatan absolut pada Tuhan.
Konsep ini menegaskan bahwa iman bukan kesesuaian intelektual, melainkan keberanian eksistensial untuk percaya di tengah absurditas. Di sinilah Kierkegaard menjadi pelopor eksistensialisme religius, di mana keaslian spiritual ditempatkan di atas logika dan norma sosial.
Dalam Konteks Lain
Filsafat Eksistensial dan Modernitas
Kierkegaard menentang impersonalitas zaman modern yang menurutnya telah kehilangan makna personal dalam iman dan moralitas. Ia menyerang “Christendom”, yaitu bentuk agama yang hanya bersifat sosial dan formal tanpa keterlibatan pribadi.
The greatest hazard of all, losing one’s self, can occur very quietly in the world, as if it were nothing at all. (The Sickness Unto Death, 1849, hlm. 27)
Bagi Kierkegaard, kehilangan diri sendiri berarti hidup tanpa kesadaran eksistensial; tanpa hubungan autentik dengan Tuhan dan tanpa keputusan pribadi yang sejati. Pemikirannya ini menginspirasi Jean-Paul Sartre, Martin Heidegger, dan Gabriel Marcel, yang mengembangkan eksistensialisme dalam arah sekuler dan fenomenologis.
Etika, Iman, dan Tahapan Eksistensi
Kierkegaard membagi perjalanan eksistensial manusia ke dalam tiga tahap: estetis, etis, dan religius.
- Tahap estetis ditandai oleh pencarian kenikmatan dan pengalaman inderawi.
- Tahap etis adalah kehidupan moral, komitmen terhadap tanggung jawab sosial dan nilai-nilai universal.
- Tahap religius melampaui keduanya, di mana individu berhadapan langsung dengan Tuhan melalui iman yang personal dan paradoksal.
Tahapan ini menunjukkan bagaimana manusia berproses menjadi diri sendiri — bukan melalui spekulasi rasional, tetapi melalui pengalaman eksistensial yang nyata.
Kesimpulan
Søren Kierkegaard adalah filsuf eksistensial pertama yang menempatkan individu, kebebasan, dan iman di pusat refleksi filsafat. Melalui konsep tentang subjektivitas, kecemasan, dan lompatan iman, ia menegaskan bahwa menjadi manusia berarti mengambil keputusan eksistensial dalam ketidakpastian. Pemikirannya melahirkan paradigma baru dalam filsafat modern, menjadikan eksistensi manusia sebagai sumber utama makna dan kebenaran.
FAQ
Apa inti pemikiran Kierkegaard?
Bahwa kebenaran sejati bersifat subjektif dan hanya dapat ditemukan dalam relasi eksistensial pribadi antara manusia dan Tuhan.
Apa makna “lompatan iman” menurut Kierkegaard?
Itu adalah keputusan eksistensial untuk percaya meski tanpa bukti rasional, tindakan yang melampaui logika dan moralitas umum.
Mengapa Kierkegaard disebut bapak eksistensialisme?
Karena ia menempatkan pengalaman pribadi, kebebasan, dan tanggung jawab individu di pusat refleksi filosofis, mendahului tokoh-tokoh eksistensialis abad ke-20.
Referensi
- Kierkegaard, S. (1843). Fear and Trembling. Copenhagen: C. A. Reitzel.
- Kierkegaard, S. (1844). The Concept of Anxiety. Copenhagen: C. A. Reitzel.
- Kierkegaard, S. (1846). Concluding Unscientific Postscript. Copenhagen: C. A. Reitzel.
- Kierkegaard, S. (1849). The Sickness Unto Death. Copenhagen: C. A. Reitzel.
- Hannay, A. (1999). Kierkegaard: A Biography. Cambridge: Cambridge University Press.
- Evans, C. S. (2006). Kierkegaard: An Introduction. Cambridge: Cambridge University Press.