Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Sikhisme adalah sebuah agama monoteistik yang lahir pada abad ke-15 di wilayah Punjab, India Utara, melalui ajaran Guru Nanak dan kemudian dikembangkan oleh sembilan Guru Sikh berikutnya. Agama ini menekankan penyembahan kepada satu Tuhan yang Maha Esa, kesetaraan seluruh manusia, keadilan sosial, dan kehidupan yang disiplin dalam kerja, meditasi, serta pelayanan kepada sesama. Sikhisme memadukan unsur spiritualitas, filsafat moral, dan simbol identitas religius yang kuat, sehingga membentuk salah satu tradisi keagamaan besar di dunia dengan pengaruh yang luas, terutama di India dan diaspora global.
Daftar Isi
Ajaran inti Sikhisme terkonsentrasi pada tiga prinsip dasar: Naam Japna (meditasi dan mengingat Tuhan secara terus-menerus), Kirat Karni (mencari nafkah dengan cara jujur), dan Vand Chhakna (berbagi rezeki dan menolong sesama). Sikhisme menolak hierarki kasta, takhayul, dan ritualisme, serta menekankan kehidupan moral yang bersih, disiplin spiritual, dan kebaikan sosial.
Sikhisme mengajarkan bahwa Tuhan adalah satu, tak berwujud, tak terbagi, dan hadir dalam seluruh ciptaan. Kitab suci utama, Guru Granth Sahib, berisi puisi, himne, dan ajaran dari para Guru Sikh serta sejumlah mistikus Hindu dan Muslim, mencerminkan inklusivitas spiritual agama ini.
Salah satu identitas utama Sikhisme adalah Khalsa, komunitas suci yang didirikan oleh Guru Gobind Singh. Anggota Khalsa mengikuti kode etik spiritual dan moral yang ketat, termasuk penggunaan lima simbol K (Five Ks): Kesh (rambut panjang yang tidak dipotong), Kangha (sisir kayu), Kara (gelang besi), Kachera (celana pendek suci), dan Kirpan (pedang atau pisau kecil). Simbol-simbol ini melambangkan kesucian, keberanian, dan dedikasi pada kebenaran.
Sejarah Sikhisme dimulai pada akhir abad ke-15 ketika Guru Nanak (1469–1539) mengajarkan bahwa Tuhan adalah satu dan bahwa manusia harus hidup dalam kebenaran, kesetaraan, dan cinta kasih. Guru Nanak menolak praktik ritualistik dan pembagian sosial yang kaku, seperti sistem kasta, sehingga ajarannya menarik banyak pengikut dari berbagai kelompok etnis dan agama. Setelah wafatnya Nanak, kepemimpinan rohani diteruskan oleh serangkaian Guru Sikh yang memperkaya doktrin dan memperkuat identitas komunitas.
Pada masa Guru kedelapan, doktrin Sikhisme berkembang pesat melalui peningkatan literatur suci, pendidikan rohani, serta pembentukan komunitas yang lebih terorganisir. Masa Guru Arjan Dev menjadi titik penting ketika Adi Granth, cikal bakal Guru Granth Sahib, dikodifikasi sebagai kitab suci. Konflik antara komunitas Sikh dengan penguasa Mughal meningkat, terutama karena pertumbuhan politik dan agama Sikhisme dianggap mengancam stabilitas.
Pada masa Guru Hargobind dan Guru berikutnya, komunitas Sikh mulai mengembangkan kekuatan militer sebagai respons terhadap penindasan. Puncaknya terjadi pada masa Guru Gobind Singh, yang mendirikan Khalsa untuk memperkuat identitas dan integritas spiritual Sikhisme. Setelah wafatnya Guru Gobind Singh pada tahun 1708, ia menegaskan bahwa tidak ada lagi Guru manusia, dan otoritas rohani diserahkan sepenuhnya kepada Guru Granth Sahib sebagai Guru abadi.
Pada abad ke-18 dan 19, komunitas Sikh mengalami masa perlawanan dan konsolidasi politik, yang berpuncak pada berdirinya Kekaisaran Sikh di bawah Maharaja Ranjit Singh, sebuah kerajaan kuat yang berpusat di Punjab hingga akhirnya ditaklukkan oleh Inggris. Pada era kolonial dan pascakemerdekaan India, Sikhisme memainkan peran penting dalam identitas sosial-politik Punjab, migrasi global, dan pembentukan komunitas diaspora yang kini tersebar di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur.
Saat ini, Sikhisme menjadi agama yang dinamis, mempertahankan tradisinya sambil beradaptasi dengan konteks global modern. Komunitas Sikh terkenal dengan kontribusi besar mereka dalam pelayanan publik, kemanusiaan, dan nilai kerja keras, serta semakin dikenal di dunia berkat kegiatan sosial seperti langar (dapur umum gratis) yang melayani semua orang tanpa memandang latar belakang.
Tokoh paling utama dalam Sikhisme adalah Sepuluh Guru Sikh, yaitu Guru Nanak, Guru Angad, Guru Amar Das, Guru Ram Das, Guru Arjan Dev, Guru Hargobind, Guru Har Rai, Guru Har Krishan, Guru Tegh Bahadur, dan Guru Gobind Singh.
Guru Arjan Dev berperan penting dalam penyusunan kitab suci, sementara Guru Hargobind dan Guru Gobind Singh memperkuat aspek militer dan spiritual komunitas Sikh. Guru Tegh Bahadur dihormati karena pengorbanannya dalam membela kebebasan beragama. Selain para Guru, tokoh seperti Maharaja Ranjit Singh memiliki peran besar dalam membangun kekuatan politik Sikhisme, sedangkan tokoh kontemporer dari diaspora Sikh berkontribusi pada pelestarian identitas dan penyebaran nilai Sikhisme secara internasional.