Sextus Empiricus

Raymond Kelvin Nando — Sextus Empiricus adalah seorang filsuf Yunani kuno dan dokter yang dikenal sebagai tokoh terakhir besar dari skeptisisme Yunani. Ia merupakan figur sentral dalam pengembangan skeptisisme Pirronian, yakni tradisi filsafat yang menolak klaim kepastian pengetahuan dan menegaskan bahwa penangguhan penilaian (epoché) adalah jalan menuju ketenangan jiwa (ataraxia). Melalui karya-karyanya yang sistematis, Sextus berperan besar dalam mentransmisikan skeptisisme klasik ke dunia modern.

Biografi Sextus Empiricus

Sextus Empiricus hidup sekitar abad ke-2 hingga awal abad ke-3 Masehi. Meskipun sedikit yang diketahui tentang kehidupan pribadinya, para sejarawan menyimpulkan bahwa ia kemungkinan besar berasal dari Aleksandria atau Athena, pusat intelektual dunia Helenistik pada masa itu. Ia mengenyam pendidikan dalam bidang kedokteran dan filsafat, menjadi bagian dari sekolah Empiris, yang menolak spekulasi metafisik dan menekankan observasi klinis.

Sebagai dokter, ia mengikuti tradisi Empiric school yang menolak teori penyebab penyakit dan lebih menekankan pengalaman praktis. Dalam filsafat, ia dikenal sebagai penerus Pyrrho dari Elis, mengembangkan ajaran skeptisisme dalam bentuk yang paling sistematis melalui karya-karyanya seperti Outlines of Pyrrhonism (Hypotypōseis Pyrrhōneioi) dan Against the Mathematicians (Adversus Mathematicos).

Sextus menghabiskan hidupnya di lingkungan intelektual yang penuh perdebatan antara Stoik, Epikurean, dan Peripatetik. Namun, ia tetap konsisten dengan sikap skeptis: tidak menolak atau menerima klaim kebenaran secara mutlak, melainkan menunda penilaian sampai bukti yang tak terbantahkan muncul — yang menurutnya, tidak pernah terjadi.

Orang lain juga membaca :  Thales

Ia meninggal sekitar awal abad ke-3 Masehi, meninggalkan warisan pemikiran yang kemudian memengaruhi René Descartes, David Hume, dan Immanuel Kant dalam refleksi mereka tentang keraguan dan batas-batas pengetahuan manusia.

Konsep-Konsep Utama

Epoché (Penangguhan Penilaian)

Konsep utama dalam skeptisisme Sextus Empiricus adalah epoché, yaitu penangguhan penilaian terhadap klaim kebenaran apa pun.

When we oppose appearances to judgments, and suspend judgment, tranquillity follows as by chance. (Outlines of Pyrrhonism, I.10, hlm. 12)

Menurut Sextus, ketika seseorang dihadapkan pada dua pandangan yang sama kuatnya, yang satu tidak dapat dipastikan lebih benar daripada yang lain. Dalam keadaan itu, sikap paling bijak adalah menangguhkan penilaian. Dari penangguhan inilah lahir ataraxia, yaitu ketenangan batin yang terbebas dari kegelisahan karena dogmatisme.

Sextus menegaskan bahwa epoché bukan bentuk relativisme, tetapi metode kritis untuk menanggulangi penderitaan intelektual akibat keinginan akan kepastian mutlak. Dengan demikian, skeptisisme menjadi praktik hidup, bukan hanya teori epistemologis.

Ataraxia (Ketenangan Jiwa)

Tujuan akhir skeptisisme menurut Sextus adalah ataraxia, yaitu keseimbangan jiwa yang muncul dari kesadaran bahwa tidak ada yang dapat diketahui dengan pasti.

Scepticism is an ability, by opposing appearances to judgments, to arrive first at suspension of judgment and then at tranquillity. (Outlines of Pyrrhonism, I.4, hlm. 9)

Ketenangan ini bukan berasal dari pengetahuan, tetapi dari ketidakterikatan terhadap klaim kebenaran. Dalam kondisi ini, individu terbebas dari dogma dan kekacauan intelektual, hidup dalam kedamaian dengan kesadaran akan keterbatasan akalnya.

Konsep ini kemudian menjadi dasar bagi banyak filsafat eksistensial dan fenomenologis yang menekankan pentingnya sikap non-dogmatis dalam memahami realitas.

Ten Modes of Skepticism (Sepuluh Cara Skeptisisme)

Dalam Outlines of Pyrrhonism, Sextus menguraikan sepuluh cara (modes) untuk menunjukkan relativitas pengetahuan dan mendorong penangguhan penilaian.

The same object appears different according to the differences in animals, men, senses, circumstances, positions, mixtures, quantities, and so on. (Outlines of Pyrrhonism, I.14, hlm. 15)

Sepuluh mode tersebut menyoroti variasi persepsi berdasarkan kondisi subjek dan objek, waktu, tempat, serta hubungan kontekstual lainnya. Melalui metode ini, Sextus menunjukkan bahwa tidak ada persepsi atau penilaian yang bersifat universal dan pasti, karena semuanya bergantung pada situasi dan pandangan pengamat.

Orang lain juga membaca :  Justus Lipsius

Dengan demikian, skeptisisme bukan nihilisme, melainkan kesadaran metodologis terhadap keterbatasan persepsi manusia.

Dalam Konteks Lain

Skeptisisme dan Epistemologi

Pemikiran Sextus Empiricus memiliki pengaruh besar dalam perkembangan epistemologi Barat. Ia membedakan antara dogmatis, akademik, dan skeptis sejati.

The dogmatists think they have discovered the truth; the academics say that it cannot be apprehended; but the skeptics continue to investigate. (Against the Mathematicians, VII.150, hlm. 220)

Sextus menolak kepastian yang diklaim baik oleh para dogmatis (seperti Stoik) maupun para akademik (yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak mungkin dicapai). Bagi Sextus, skeptisisme adalah aktivitas penyelidikan yang tak pernah berhenti — pencarian tanpa kesimpulan final, tetapi penuh kesadaran reflektif.

Konsep ini kemudian menjadi fondasi bagi keraguan metodologis dalam modernisme, terutama pada Descartes dan empirisme Inggris.

Skeptisisme sebagai Etika Hidup

Bagi Sextus, skeptisisme bukan semata teori pengetahuan, melainkan etika kehidupan. Ia mengajarkan bahwa manusia sebaiknya hidup sesuai dengan kebiasaan dan persepsi tanpa mengklaimnya sebagai kebenaran mutlak. Dengan begitu, manusia dapat mencapai harmoni dengan dunia tanpa terperangkap dalam ilusi kepastian.

Gagasan ini menjadikan skeptisisme sebagai seni hidup dalam ketidaktahuan, bukan penolakan terhadap realitas. Pemikiran ini memberi dasar bagi etika kontemplatif dan filsafat praktis dari masa Yunani hingga modern.

Kesimpulan

Sextus Empiricus adalah penyusun terakhir sistem skeptisisme Yunani yang komprehensif dan rasional. Melalui konsep epoché, ataraxia, dan ten modes of skepticism, ia menunjukkan bahwa penerimaan terhadap ketidakpastian adalah sumber ketenangan sejati. Filsafatnya menjadi refleksi abadi tentang batas-batas pengetahuan dan kebijaksanaan hidup tanpa dogma.

FAQ

Apa tujuan skeptisisme menurut Sextus?

Tujuannya adalah mencapai ataraxia, ketenangan batin yang lahir dari kesadaran akan keterbatasan pengetahuan manusia.

Apa pengaruh Sextus terhadap filsafat modern?

Pemikirannya menjadi dasar bagi metode keraguan Descartes dan bagi skeptisisme empiris Hume serta Kant.

Referensi

  • Sextus Empiricus. (1933). Outlines of Pyrrhonism. Trans. R. G. Bury. Cambridge, MA: Harvard University Press.
  • Sextus Empiricus. (1949). Against the Logicians. Trans. R. G. Bury. Cambridge, MA: Harvard University Press.
  • Annas, J., & Barnes, J. (1985). The Modes of Scepticism: Ancient Texts and Modern Interpretations. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Burnyeat, M. (1980). The Sceptical Tradition. Berkeley: University of California Press.
  • Bett, R. (2000). Pyrrho, His Antecedents and His Legacy. Oxford: Oxford University Press.
  • Popkin, R. H. (2003). The History of Scepticism: From Savonarola to Bayle. Oxford: Oxford University Press.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Samuel Clarke

Next Article

Shankara