Dipublikasikan: 5 November 2025
Terakhir diperbarui: 5 November 2025
Dipublikasikan: 5 November 2025
Terakhir diperbarui: 5 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Sektarianisme adalah ideologi atau sikap sosial yang menekankan loyalitas eksklusif terhadap suatu kelompok, sekte, atau aliran tertentu, disertai dengan penolakan terhadap pihak lain yang dianggap berbeda atau menentang. Dalam konteks politik maupun agama, sektarianisme sering muncul sebagai bentuk fanatisme yang membatasi kerja sama lintas kelompok dan memperkuat perpecahan sosial. Fenomena ini dapat muncul dalam berbagai ranah — agama, politik, etnisitas, bahkan ideologi — di mana identitas kelompok menjadi dasar utama penilaian moral dan sosial terhadap individu lain.
Daftar Isi
Sektarianisme dapat diartikan sebagai paham atau praktik sosial yang menempatkan kepentingan dan keyakinan suatu kelompok tertentu di atas kepentingan umum, disertai dengan diskriminasi atau permusuhan terhadap kelompok lain.
“Sectarianism is a form of social identity that prioritizes the interests of one’s sect over the collective good.”
— Michael D. Driessen, Religion and Democratization (2014), p. 27
Sektarianisme tidak hanya berkaitan dengan konflik antaragama, tetapi juga mencakup polarisasi ideologis dan politik di masyarakat modern.
Sektarianisme bukanlah ideologi yang dikembangkan oleh satu tokoh tertentu, melainkan fenomena sosial yang dikaji oleh berbagai pemikir, seperti:
Salah satu prinsip utama sektarianisme adalah penekanan ekstrem terhadap identitas kelompok sebagai ukuran nilai, kebenaran, dan solidaritas.
“In sectarian societies, belonging to the group becomes more important than the truth itself.”
— Hannah Arendt, The Origins of Totalitarianism (1951), p. 243
Dalam kondisi seperti ini, individu dinilai bukan berdasarkan tindakan atau ide, tetapi pada afiliasi kelompoknya.
Sektarianisme memperkuat batas-batas sosial dan memicu polarisasi antara ‘kami’ dan ‘mereka’. Ini sering kali menjadi sumber konflik politik maupun kekerasan sosial.
“Sectarian divisions, once politicized, can become self-perpetuating cycles of mistrust and retaliation.”
— Fanar Haddad, Sectarianism in Iraq: Antagonistic Visions of Unity (2011), p. 88
Fenomena ini dapat menghambat proses demokratisasi dan memperlemah solidaritas sosial antarwarga.
Sektarianisme menolak pluralitas ide dan menuntut keseragaman pandangan di dalam kelompok, sering kali disertai dengan represi terhadap kritik internal.
“The sectarian mind seeks purity, not truth.”
— Max Weber, Economy and Society (1922), p. 411
Akibatnya, sektarianisme cenderung mengarah pada dogmatisme yang menutup ruang dialog dan inovasi sosial.
Dalam ranah politik, sektarianisme sering dimanfaatkan oleh elit kekuasaan untuk memperkuat legitimasi melalui politik identitas dan pembelahan sosial.
“Elites use sectarian identity not as a reflection of society, but as a tool to control it.”
— Bassel F. Salloukh, The Politics of Sectarianism in Postwar Lebanon (2015), p. 52
Hal ini memperkuat ketimpangan dan memperdalam konflik horizontal antarwarga.
Fanatisme mengacu pada keyakinan ekstrem terhadap suatu ide atau nilai, sedangkan sektarianisme menitikberatkan pada loyalitas kelompok dan penolakan terhadap pihak luar.
Karena sektarianisme mengikis rasa kebersamaan dan memperkuat konflik identitas, yang pada akhirnya menghambat kompromi dan dialog publik.
Dengan memperkuat pendidikan inklusif, dialog antaragama atau antarideologi, serta kebijakan politik yang menekankan kesetaraan dan keadilan sosial bagi semua kelompok.