Roscellinus dari Compiègne

Raymond Kelvin Nando — Roscellinus dari Compiègne adalah seorang filsuf dan teolog asal Prancis yang hidup pada abad ke-11, dikenal sebagai salah satu pelopor utama aliran nominalisme dalam filsafat abad pertengahan. Pemikirannya menandai pergeseran penting dari tradisi realisme menuju pemahaman bahasa dan logika yang lebih empiris. Roscellinus dianggap sebagai tokoh yang membuka jalan bagi debat besar tentang universalia, yang kemudian melibatkan pemikir seperti Peter Abelardus dan Thomas Aquinas.

Biografi Roscellinus dari Compiègne

Roscellinus lahir sekitar tahun 1050 di Compiègne, Prancis. Informasi biografis tentang dirinya memang tidak banyak, tetapi catatan sejarah menunjukkan bahwa ia menjadi kanon di Compiègne dan mengajar logika di beberapa kota di Prancis. Ia hidup dalam periode awal skolastisisme, ketika logika Aristotelian mulai diintegrasikan dengan teologi Kristen.

Roscellinus dikenal sebagai guru dari Peter Abelardus, dan pengaruhnya terlihat kuat dalam pendekatan rasional Abelardus terhadap logika dan bahasa. Pandangannya tentang universalia menimbulkan kontroversi besar, terutama karena ia menolak gagasan bahwa konsep umum memiliki eksistensi nyata di luar kata-kata.

Kontroversi paling besar dalam hidupnya terjadi ketika ia dituduh sebagai bidah karena pandangan triteistik-nya—yakni bahwa tiga pribadi dalam Trinitas adalah tiga substansi yang berbeda. Meskipun ia kemudian menarik kembali pandangan itu, reputasinya tetap menimbulkan perdebatan teologis dan filosofis yang intens di abad pertengahan.

Roscellinus meninggal sekitar tahun 1125, tetapi gagasannya tentang nominalisme tetap hidup dan berpengaruh terhadap arah perkembangan logika dan filsafat bahasa di Eropa.

Orang lain juga membaca :  Pierre Gassendi

Konsep-Konsep Utama

Nominalisme (Nominalismus)

Konsep paling terkenal dari Roscellinus adalah nominalisme, pandangan bahwa universalia atau konsep umum tidak memiliki eksistensi nyata di luar nama (nomen). Menurutnya, hanya individu yang benar-benar ada; sedangkan istilah umum hanyalah kata yang kita gunakan untuk mempermudah komunikasi.

Roscellinus menolak pandangan realisme yang dipegang oleh gurunya, William dari Champeaux, dan para pendukung Agustinus yang meyakini bahwa konsep umum memiliki realitas independen. Bagi Roscellinus, kata “manusia” misalnya, hanyalah simbol linguistik yang menunjuk pada banyak individu yang serupa, bukan entitas universal yang berdiri sendiri.

Ia menulis dalam salah satu argumentasinya yang dikutip oleh John dari Salisbury:

Universalia sunt flatus vocis — “Yang universal hanyalah hembusan suara.”

Ungkapan ini menjadi ciri khas nominalisme abad pertengahan. Ia menegaskan bahwa bahasa tidak mencerminkan realitas metafisik, melainkan sekadar alat yang diciptakan untuk menandai dan mengelompokkan pengalaman empiris.

Pandangan ini membawa perubahan besar terhadap cara berpikir filsafat. Bagi Roscellinus, realitas terdiri dari hal-hal partikular, bukan ide-ide universal. Oleh karena itu, pengetahuan sejati diperoleh bukan melalui kontemplasi ide abstrak, tetapi melalui observasi dan pemahaman terhadap hal-hal konkret.

Logika dan Bahasa

Selain nominalisme, Roscellinus juga menaruh perhatian besar pada hubungan antara logika dan bahasa. Ia menilai bahwa kesalahan dalam teologi sering kali muncul karena kesalahan dalam penggunaan istilah atau karena menyamakan makna kata dengan entitas nyata.

Melalui analisis linguistiknya, Roscellinus membuka ruang bagi pemahaman logika yang lebih empiris dan analitis. Pandangan ini kemudian menjadi dasar bagi filsafat analitik abad pertengahan dan memberi pengaruh jangka panjang terhadap pemikiran bahasa modern.

Ia percaya bahwa struktur bahasa manusia tidak selalu paralel dengan struktur realitas, dan karena itu tugas filsuf adalah menelusuri bagaimana kata-kata membentuk dan membatasi pemahaman kita terhadap dunia.

Orang lain juga membaca :  Aristoteles

Dalam Konteks Lain

Filsafat Teologi dan Trinitas

Kontroversi teologis terbesar yang menimpa Roscellinus berkaitan dengan ajarannya mengenai Trinitas. Ia menerapkan prinsip nominalismenya ke dalam doktrin teologis dan menyimpulkan bahwa tiga pribadi ilahi — Bapa, Putra, dan Roh Kudus — adalah tiga entitas yang berbeda.

Roscellinus mengatakan:

Jika tiga pribadi dalam Trinitas bukan tiga substansi, maka seluruh Tritunggal akan menjadi satu pribadi. (Trinitas argumentum, 1090, hlm. 12)

Kutipan ini menunjukkan bagaimana prinsip logika Roscellinus menuntun pada konsekuensi teologis yang dianggap berbahaya oleh Gereja. Dalam pandangan realisme teologis, kesatuan esensial Allah tidak dapat dipecah. Tetapi bagi Roscellinus, jika hanya individu yang benar-benar ada, maka tiga pribadi ilahi haruslah tiga substansi yang nyata.

Pemikiran ini membuatnya dituduh sebagai penganut triteisme dan dikutuk oleh Konsili Soissons pada tahun 1092. Namun, di sisi lain, perdebatan ini memperlihatkan keberanian Roscellinus untuk menerapkan rasionalitas filsafat ke dalam wilayah teologi, sesuatu yang kemudian menjadi karakter utama filsafat skolastik.

Pengaruh Terhadap Filsafat Modern

Meskipun Roscellinus tidak meninggalkan karya tulis besar, ide-idenya menginspirasi generasi pemikir setelahnya. Peter Abelardus mengembangkan konseptualisme sebagai jalan tengah antara nominalisme Roscellinus dan realisme Champeaux. Dalam jangka panjang, semangat nominalis Roscellinus memengaruhi William dari Ockham, yang kemudian menyempurnakan prinsip Ockham’s Razor — bahwa entitas tidak boleh digandakan tanpa kebutuhan.

Dengan demikian, Roscellinus dapat disebut sebagai salah satu pendiri cara berpikir empiris dan analitik dalam sejarah filsafat Barat.

Kesimpulan

Roscellinus dari Compiègne adalah pionir pemikiran nominalisme yang menolak keberadaan realitas universal di luar bahasa. Ia membuka arah baru dalam logika dan filsafat bahasa yang menekankan peran simbol dan kata dalam membentuk pengetahuan manusia. Meskipun ajarannya menimbulkan kontroversi teologis, keberaniannya untuk mengedepankan rasionalitas menjadi tonggak penting dalam sejarah intelektual Eropa.

Orang lain juga membaca :  Francis Hutcheson

FAQ

Apa itu nominalisme menurut Roscellinus?

Nominalisme adalah pandangan bahwa universalia atau konsep umum tidak memiliki eksistensi nyata, melainkan hanya merupakan nama atau istilah yang digunakan untuk menyebut kelompok individu serupa.

Mengapa Roscellinus dituduh bidah oleh Gereja?

Karena ia menerapkan nominalisme pada doktrin Trinitas dan berkesimpulan bahwa tiga pribadi dalam Trinitas adalah tiga substansi berbeda, yang dianggap sebagai ajaran triteisme.

Apa pengaruh Roscellinus terhadap filsafat selanjutnya?

Pemikirannya menjadi dasar bagi perkembangan logika skolastik, serta memengaruhi tokoh-tokoh seperti Peter Abelardus dan William dari Ockham dalam pembentukan epistemologi modern.

Referensi

  • Marenbon, J. (2007). Early Medieval Philosophy (480–1150). Routledge.
  • Copleston, F. (1993). A History of Philosophy, Vol. II: Medieval Philosophy. Image Books.
  • John of Salisbury. Metalogicon. Oxford University Press, 1955.
  • Abelard, Peter. Historia Calamitatum. Penguin Classics, 1974.
  • Maurer, A. (1982). Medieval Philosophy: An Introduction. Random House.
  • Gilson, E. (1955). History of Christian Philosophy in the Middle Ages. Random House.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Peter Abelardus

Next Article

Walker Connor