Retrospective Determinism Fallacy

Dipublikasikan: 3 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 3 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando Retrospective Determinism Fallacy adalah kekeliruan berpikir yang menganggap bahwa suatu peristiwa di masa lalu “pasti” terjadi karena kini kita mengetahui hasil akhirnya. Dengan kata lain, apa yang sudah terjadi dianggap sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi dengan cara lain. Fallacy ini lahir dari kesalahan dalam memandang sejarah secara deterministik dan linier, seolah-olah semua faktor penyebab jelas, pasti, dan tidak dapat berubah. Padahal, banyak peristiwa masa lalu bersifat kontingen dan dipengaruhi oleh ketidakpastian, peluang, serta keputusan yang kompleks.

Pengertian Retrospective Determinism Fallacy

Retrospective Determinism Fallacy adalah kesalahan logika ketika seseorang menilai bahwa hasil suatu peristiwa adalah sesuatu yang tak terelakkan, hanya karena peristiwa itu sudah terjadi.
Fallacy ini menciptakan ilusi kepastian dengan memproyeksikan pengetahuan masa kini ke masa lalu, mengabaikan ketidakpastian yang sebenarnya dialami oleh para pelaku pada waktu itu.

Ciri-ciri fallacy ini:

  • Menganggap bahwa “apa yang terjadi” identik dengan “apa yang pasti akan terjadi”.
  • Menghapus kemungkinan hasil lain yang juga masuk akal pada kondisi saat itu.
  • Menggunakan keberhasilan atau kegagalan yang sudah terjadi untuk menilai keputusan masa lalu secara tidak adil (outcome bias).
  • Memandang sejarah secara simplistik dan deterministik.
  • Mengabaikan faktor kebetulan, risiko, dan variabel yang tak diketahui pada masanya.

Fallacy ini sering muncul dalam analisis sejarah, penilaian strategi bisnis, ilmu politik, dan debat publik yang mendasarkan argumen pada “kepastian” hasil masa lalu.

Contoh Retrospective Determinism Fallacy

  1. Dalam sejarah:
    “Revolusi Prancis pasti akan terjadi karena rakyat sudah sangat menderita.”
    → Banyak faktor lain yang bisa menghasilkan hasil berbeda; revolusi tidak otomatis terjadi.
  2. Dalam bisnis:
    “Perusahaan itu memang pasti bangkrut karena model bisnisnya buruk.”
    → Banyak perusahaan dengan model serupa tetap bertahan; kebangkrutan bukan sesuatu yang pasti.
  3. Dalam sains dan teknologi:
    “Penemuan internet adalah hal yang tidak bisa dihindari.”
    → Ada banyak jalur perkembangan teknologi; internet bukan satu-satunya kemungkinan.
  4. Dalam politik:
    “Kandidat itu pasti kalah karena kampanyenya lemah.”
    → Banyak variabel pemilu yang tidak dapat diprediksi, seperti opini publik yang berubah mendadak.
Orang lain juga membaca :  False Dilemma Fallacy

Cara Mengatasi Retrospective Determinism Fallacy

  1. Pisahkan hasil dari proses:
    Nilai keputusan berdasarkan informasi yang tersedia saat itu, bukan pengetahuan setelah kejadian.
  2. Kenali peran ketidakpastian:
    Sadari bahwa banyak peristiwa sejarah atau keputusan penting berada di bawah kondisi risiko yang nyata.
  3. Evaluasi alternatif yang mungkin:
    Tanyakan: apakah hasil lain mungkin terjadi jika kondisi sedikit berbeda?
    Jika iya, maka hasil yang terjadi bukan sesuatu yang “tak terhindarkan”.
  4. Hindari penilaian dengan kacamata masa kini:
    Proyeksi pengetahuan modern ke masa lalu menghasilkan bias yang tidak realistis.
  5. Gunakan analisis kausal yang kompleks:
    Peristiwa besar biasanya memiliki banyak faktor penyebab, bukan satu jalur deterministik.
  6. Sadari outcome bias:
    Keberhasilan atau kegagalan tidak otomatis membuktikan keputusan masa lalu benar atau salah.

Referensi

  • Tetlock, P. E., & Gardner, D. (2015). Superforecasting: The Art and Science of Prediction. Crown.
  • Fischer, D. H. (1970). Historians’ Fallacies: Toward a Logic of Historical Thought. Harper & Row.
  • Taleb, N. N. (2007). The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable. Random House.
  • Gigerenzer, G. (2007). Gut Feelings: The Intelligence of the Unconscious. Viking.
  • Walsh, D. M. (2015). The Philosophy of History. Routledge.

Citation

Previous Article

Relative Privation Fallacy

Next Article

Slippery Slope Fallacy

Citation copied!