Dipublikasikan: 14 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 14 Desember 2025
Dipublikasikan: 14 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 14 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Raymond Brassier adalah seorang filsuf kontemporer kelahiran Skotlandia yang dikenal karena pendekatannya yang keras, rasional, dan anti-humanis terhadap filsafat, terutama melalui keterlibatannya dalam speculative realism, nihilisme filosofis, dan filsafat sains. Brassier menempati posisi yang khas dan sering kontroversial dalam filsafat kontemporer karena penolakannya terhadap romantisasi makna, pengalaman subjektif, dan filsafat yang berorientasi pada “kehidupan” atau “makna eksistensial”. Ia justru menekankan bahwa filsafat harus berani menghadapi implikasi ontologis dan epistemologis dari sains modern, bahkan jika implikasi tersebut meruntuhkan asumsi-asumsi manusia tentang makna, tujuan, dan sentralitas eksistensi manusia itu sendiri.
Daftar Isi
Raymond Brassier lahir pada tahun 1965 di Skotlandia. Ia menempuh pendidikan filsafat di Universitas Warwick, sebuah institusi yang dikenal sebagai pusat pemikiran filsafat radikal dan eksperimental di Inggris. Lingkungan intelektual Warwick, yang kuat dalam teori kritis, filsafat kontinental, dan refleksi atas sains, memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan pemikiran Brassier. Ia kemudian melanjutkan studi doktoralnya dengan fokus pada hubungan antara fenomenologi, nihilisme, dan filsafat sains.
Brassier pernah mengajar di berbagai institusi akademik dan lama berafiliasi dengan Middlesex University London, tempat ia terlibat dalam diskursus filsafat kontemporer yang menantang batas-batas tradisi filsafat Eropa. Ia juga dikenal sebagai penerjemah karya-karya filsuf Prancis, termasuk Alain Badiou dan Quentin Meillassoux, yang memperkuat perannya sebagai penghubung penting antara filsafat Prancis dan dunia berbahasa Inggris. Meskipun tidak produktif secara kuantitas dalam menerbitkan buku, pengaruh Brassier sangat besar karena ketajaman konseptual dan konsistensi radikal posisi filosofisnya.
Salah satu ciri paling menonjol dari pemikiran Brassier adalah pembelaannya terhadap nihilisme sebagai konsekuensi rasional dari pengetahuan ilmiah modern. Berbeda dari pandangan populer yang melihat nihilisme sebagai ancaman terhadap kehidupan bermakna, Brassier justru menegaskan bahwa nihilisme harus dipahami sebagai pembebasan dari ilusi metafisik. Ia berargumen bahwa sains modern—khususnya kosmologi, fisika, dan neurosains—menunjukkan bahwa alam semesta tidak berorientasi pada manusia dan tidak menjamin makna, nilai, atau tujuan. Alih-alih menolak temuan ini, filsafat harus menghadapinya secara jujur dan konseptual.
Brassier secara tajam mengkritik tradisi filsafat yang berpusat pada pengalaman hidup, makna eksistensial, dan subjektivitas, termasuk fenomenologi dan berbagai bentuk filsafat kehidupan. Ia menilai bahwa pendekatan ini cenderung menghindari konsekuensi paling radikal dari sains dengan kembali pada pengalaman subjektif sebagai sumber makna terakhir. Bagi Brassier, langkah ini bersifat regresif karena menolak realitas objektif yang tidak bergantung pada kesadaran manusia. Kritiknya terhadap fenomenologi tidak bertujuan menolak pengalaman, tetapi menolak klaim bahwa pengalaman memiliki prioritas ontologis atas realitas yang dijelaskan oleh sains.
Dalam pemikiran Brassier, anti-humanisme bukanlah sikap misantropis, melainkan posisi filosofis yang menolak menjadikan manusia sebagai pusat ontologi. Ia menentang berbagai bentuk filsafat kontemporer yang masih mempertahankan sisa-sisa humanisme, baik dalam bentuk etika, politik, maupun estetika. Menurutnya, filsafat harus berani mengakui bahwa manusia hanyalah hasil kontingen dari proses alam semesta yang buta dan tidak bertujuan. Pengakuan ini bukanlah kehancuran filsafat, melainkan kesempatan untuk membangun pemikiran yang lebih jujur dan konsisten secara rasional.
Brassier sering dikaitkan dengan speculative realism, namun posisinya di dalam gerakan ini bersifat kritis dan tidak sepenuhnya sejalan dengan tokoh-tokoh lain seperti Graham Harman atau Quentin Meillassoux. Jika Harman menekankan otonomi objek dan Meillassoux menekankan kontingensi absolut, Brassier lebih menekankan implikasi epistemologis dan eksistensial dari realisme ilmiah. Ia skeptis terhadap pendekatan metafisik yang terlalu spekulatif dan menuntut agar filsafat tetap terikat pada disiplin konseptual yang ketat serta temuan empiris sains.
Bagi Brassier, rasionalitas bukanlah alat untuk menghibur manusia dengan makna, melainkan sarana untuk memahami realitas apa adanya, betapapun tidak nyamannya. Ia menolak relativisme epistemologis dan menegaskan bahwa sains memiliki kapasitas unik untuk mengungkap struktur realitas yang independen dari pikiran manusia. Namun, ia juga menolak positivisme dangkal yang mengabaikan refleksi filosofis. Filsafat, dalam pandangannya, harus bekerja bersama sains untuk menafsirkan implikasi ontologis dan epistemologis dari pengetahuan ilmiah.
Salah satu tema penting dalam pemikiran Brassier adalah refleksi tentang kematian dan kepunahan sebagai fakta kosmologis, bukan sekadar pengalaman eksistensial individual. Ia menekankan bahwa pada skala kosmik, kepunahan manusia adalah keniscayaan, dan tidak ada narasi metafisik yang dapat menyelamatkan makna manusia dari fakta ini. Namun, alih-alih melihat ini sebagai alasan untuk keputusasaan, Brassier menganggapnya sebagai tantangan bagi filsafat untuk berpikir melampaui kepentingan manusia dan mengembangkan pemahaman tentang realitas yang sepenuhnya non-antropo-sentris.
Brassier juga mengkritik kecenderungan filsafat kontemporer untuk menjadikan seni dan budaya sebagai pelarian dari realitas ilmiah yang keras. Ia menolak gagasan bahwa seni atau estetika dapat menggantikan kebenaran ilmiah atau memberikan makna metafisik alternatif. Bagi Brassier, seni memiliki nilai, tetapi tidak boleh digunakan untuk menutupi implikasi nihilistik dari pengetahuan ilmiah. Sikap ini menegaskan konsistensinya dalam mempertahankan rasionalitas filosofis di hadapan godaan romantisme intelektual.