Presbiterianisme

Dipublikasikan: 8 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Presbiterianisme adalah sebuah tradisi dalam Kekristenan Protestan yang menekankan sistem kepemimpinan gereja melalui para penatua (presbyteroi), otoritas Kitab Suci, teologi Reformed, dan kehidupan gereja yang tertata. Tradisi ini berakar pada reformasi yang dipimpin John Calvin di Jenewa pada abad ke-16, kemudian berkembang luas di Skotlandia melalui pengaruh John Knox dan menyebar ke berbagai wilayah dunia, termasuk Amerika Utara, Afrika, Asia, dan Oseania. Presbiterianisme menjadi salah satu bentuk institusional dari teologi Reformed yang paling berpengaruh dalam sejarah gereja.

Ajaran Presbiterianisme

Presbiterianisme dibangun atas sejumlah doktrin teologis khas yang mencerminkan tradisi Reformed serta praktik gereja yang terstruktur:

  1. Otoritas Alkitab
    Alkitab dipandang sebagai sumber utama wahyu ilahi dan pedoman tertinggi bagi iman serta praktik gereja. Tradisi dan rasionalitas dihargai, namun tunduk pada Kitab Suci.
  2. Sistem Kepemimpinan Presbiterial
    Gereja dipimpin oleh sekelompok penatua yang terdiri dari teaching elders (pendeta) dan ruling elders. Kekuasaan gereja tidak terpusat pada individu tunggal, melainkan pada suatu dewan (session, presbytery, synod, general assembly).
  3. Teologi Reformed
    Presbiterianisme meyakini doktrin-doktrin khas Calvinisme, seperti kedaulatan Allah, pemilihan, anugerah yang tidak dapat ditolak, serta penekanan pada providensi Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan.
  4. Sakramen sebagai Tanda Anugerah
    Dua sakramen yang diakui ialah Baptisan dan Perjamuan Kudus. Sakramen dipandang sebagai tanda dan meterai anugerah Allah, bukan sekadar simbol kosong.
  5. Katekismus dan Pengakuan Iman
    Presbiterian menggunakan dokumen-dokumen pengajaran seperti Westminster Confession of Faith, Shorter Catechism, dan Larger Catechism sebagai pedoman doktrin.
  6. Ibadah yang Teratur dan Berpusat pada Firman
    Presbiterianisme menekankan liturgi yang terstruktur, pembacaan Kitab Suci, khotbah ekspositori, dan keterlibatan jemaat.
  7. Etika Sosial dan Keterlibatan Publik
    Tradisi Presbiterian memiliki komitmen yang kuat terhadap pendidikan, pelayanan sosial, keadilan, dan reformasi masyarakat.
Orang lain juga membaca :  Gnostisisme

Sejarah Perkembangan Presbiterianisme

Presbiterianisme berakar pada Reformasi Protestan di Jenewa pada abad ke-16 di bawah kepemimpinan John Calvin, yang mengembangkan suatu bentuk teologi dan organisasi gereja berdasarkan penatua (presbyteroi) sebagaimana terlihat dalam Perjanjian Baru.

Gerakan ini kemudian dibawa ke Skotlandia oleh John Knox, yang menjadi tokoh pendiri Gereja Skotlandia (Church of Scotland). Melalui Skotlandia, model gereja Presbiterian menyebar ke Irlandia Utara dan kemudian ke Amerika Utara pada abad ke-17 dan 18. Komunitas Presbiterian memainkan peran penting dalam pembentukan pendidikan tinggi dan perkembangan institusi-institusi sosial di Amerika, termasuk pendirian sekolah dan universitas.

Pada abad ke-19 dan 20, gereja-gereja Presbiterian berkembang pesat secara global melalui misi, khususnya di Korea Selatan, Taiwan, Afrika, dan bagian lain Asia. Gereja Presbiterian Korea, misalnya, tumbuh menjadi salah satu gereja Reformed terbesar di dunia.

Di era kontemporer, Presbiterianisme terfragmentasi ke dalam berbagai denominasi, mulai dari yang sangat konservatif hingga yang lebih liberal, seperti Presbyterian Church (USA), Presbyterian Church in America (PCA), dan badan-badan Presbiterian nasional di berbagai negara.

Tokoh-Tokoh Presbiterianisme

  1. John Calvin (1509–1564) – Teolog Reformasi yang membentuk dasar teologi dan tata gereja Presbiterian.
  2. John Knox (c. 1514–1572) – Pendiri Gereja Skotlandia dan penyebar teologi Calvinis di Britania.
  3. Samuel Rutherford (1600–1661) – Teolog dan penulis Lex, Rex, yang memengaruhi teori pemerintahan modern.
  4. Charles Hodge (1797–1878) – Teolog Princeton yang berpengaruh dalam teologi Reformed Amerika.
  5. Horace Greeley (1811–1872) – Tokoh Presbiterian terkemuka dalam budaya dan politik Amerika.

Referensi

  • Ball, B. C. (2016). The Presbyterian Tradition: A Guide for the Perplexed. T&T Clark.
  • Hall, D. W. (2010). Calvin in the Public Square: Liberal Democracies, Rights, and Civil Liberties. P&R Publishing.
  • McKim, D. K. (2001). Introducing the Reformed Faith. Westminster John Knox Press.
  • Noll, M. A. (2002). America’s God: From Jonathan Edwards to Abraham Lincoln. Oxford University Press.
  • Torrance, T. F. (1996). Scottish Theology: From John Knox to John McLeod Campbell. T&T Clark.
Orang lain juga membaca :  Konservatisme

Citation

Previous Article

Pentakostalisme

Next Article

Deisme

Citation copied!