Raymond Kelvin Nando — Plotinus adalah seorang filsuf Yunani-Romawi yang dikenal sebagai pendiri aliran Neoplatonisme, sebuah sistem filsafat yang berupaya menyatukan warisan Plato dengan elemen mistik dan metafisika. Ia hidup pada abad ke-3 Masehi dan menjadi tokoh sentral dalam mengembangkan pandangan bahwa realitas tertinggi adalah Yang Esa (The One), sumber segala keberadaan dan pengetahuan. Melalui karyanya, Plotinus menggabungkan filsafat dengan pengalaman spiritual, sehingga pemikirannya menjadi jembatan antara filsafat Yunani klasik dan tradisi religius kemudian, termasuk Kristen, Islam, dan mistisisme Yahudi.
Daftar Isi
Biografi Plotinus
Plotinus lahir sekitar tahun 204/205 M di Lycopolis, Mesir (kini Asyut). Sejak muda, ia menunjukkan minat yang mendalam terhadap pengetahuan spiritual dan filsafat. Pada usia 28 tahun, ia pergi ke Alexandria dan berguru pada Ammonius Saccas, seorang guru yang kemudian diakui sebagai pendiri aliran Neoplatonisme.
Pada usia 39 tahun, Plotinus bergabung dalam ekspedisi militer Kaisar Gordianus III ke Persia untuk mempelajari kebijaksanaan Timur. Namun, setelah kegagalan ekspedisi itu, ia menetap di Roma sekitar tahun 244 M dan mendirikan sekolah filsafat yang sangat berpengaruh.
Plotinus tidak menulis untuk waktu yang lama; ia baru mulai menulis karya-karyanya pada usia sekitar 50 tahun. Karyanya kemudian disusun oleh muridnya, Porphyry, menjadi enam kelompok tulisan (Enneads), yang berarti “kelompok sembilan”, karena setiap buku berisi sembilan risalah.
Dalam hidupnya, Plotinus dikenal sebagai pribadi yang asketis dan berorientasi spiritual. Ia menolak hal-hal duniawi dan berusaha hidup selaras dengan prinsip filsafatnya. Ia wafat sekitar tahun 270 M di Campania, Italia, meninggalkan warisan intelektual yang mendalam yang memengaruhi Augustinus, Pseudo-Dionysius, Al-Farabi, Ibn Sina, hingga Marsilio Ficino.
Konsep-Konsep Utama
The One (To Hen) — Yang Esa
Plotinus mengajarkan bahwa segala realitas bermula dari Yang Esa, prinsip tertinggi yang melampaui segala kategori keberadaan. The One adalah sumber mutlak yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata atau pikiran, karena ia melampaui bentuk, keberadaan, dan bahkan pemikiran itu sendiri.
To Hen estin epekeina tēs ousias. (Enneads, V.2.1)
Yang Esa berada di atas hakikat itu sendiri.
Yang Esa bukanlah Tuhan dalam pengertian teistik, tetapi prinsip metafisis tertinggi yang memancarkan (emanasi) seluruh tataran realitas tanpa kehilangan kesempurnaan-Nya. Dari Yang Esa memancar Nous (Pikiran atau Intelek), dari Nous memancar Psyche (Jiwa Dunia), dan dari Jiwa Dunia memancar alam material.
Dengan demikian, realitas menurut Plotinus bersifat hierarkis dan emanatif — semakin jauh dari Yang Esa, semakin rendah tingkat keberadaannya. The One tidak bertindak secara sukarela, tetapi memancar sebagaimana matahari memancarkan cahaya.
Nous (Intellect) — Akal Ilahi
Nous adalah tingkat kedua dalam hirarki realitas. Ia merupakan pikiran kosmis yang berisi seluruh Forms (bentuk-bentuk ideal) Plato. Di dalam Nous, subjek dan objek pengetahuan bersatu — ia berpikir dan sekaligus menjadi isi pikirannya sendiri.
En to Noei kai to nooumenon hen estin. (Enneads, V.9.5)
Dalam Nous, yang berpikir dan yang dipikir adalah satu.
Nous berfungsi sebagai jembatan antara Yang Esa dan Jiwa Dunia. Ia mencerminkan kesempurnaan Yang Esa dalam bentuk intelektual. Melalui kontemplasi terhadap Nous, manusia dapat mendekati sumber segala kebenaran.
Psyche (Soul) — Jiwa Dunia
Tingkat ketiga realitas adalah Psyche, yang menghubungkan dunia spiritual dengan dunia material. Jiwa ini bersifat ganda: sebagian tetap berada di dunia intelektual, sebagian lain turun untuk membentuk dan menghidupkan alam semesta.
Psyche panton estin aitia zōēs. (Enneads, IV.7.14)
Jiwa adalah penyebab kehidupan segala sesuatu.
Manusia, sebagai bagian dari Jiwa Dunia, memiliki kemampuan untuk naik kembali (anabasis) ke tingkat yang lebih tinggi melalui kontemplasi dan askese spiritual. Plotinus percaya bahwa melalui pembersihan diri dan perenungan filosofis, jiwa dapat kembali bersatu dengan asalnya, yaitu Yang Esa.
Emanation and Return (Prohodos kai Epistrophe) — Pancaran dan Kembali
Struktur kosmos dalam pemikiran Plotinus bersifat sirkular: semua yang ada berasal dari Yang Esa dan akan kembali kepada-Nya. Proses ini disebut emanasi (prohodos) dan kembali (epistrophē).
Panta gar ek tou Henos kai pros auto epistrephei. (Enneads, VI.9.8)
Segala sesuatu berasal dari Yang Esa dan kembali kepada-Nya.
Kembalinya jiwa ke Yang Esa bukan melalui pengetahuan diskursif, tetapi melalui ekstasi mistik, keadaan di mana jiwa melampaui intelek dan bersatu dengan sumbernya. Plotinus menggambarkan pengalaman ini sebagai union mistik, di mana individu kehilangan identitasnya dan menyatu dengan realitas mutlak.
The Ascent of the Soul — Kenaikan Jiwa
Dalam kerangka etika dan spiritualitasnya, Plotinus menekankan pentingnya kenaikan jiwa melalui tahapan kontemplasi: dari dunia indrawi, menuju pikiran rasional, hingga mencapai kesadaran tertinggi dalam penyatuan dengan Yang Esa.
Hē psychē, anabainousa, theōrei kai menei en tō theō. (Enneads, VI.9.9)
Jiwa, ketika naik, memandang dan berdiam dalam Yang Ilahi.
Kenaikan ini menuntut askese, pembebasan dari hasrat jasmani, dan orientasi total kepada dunia intelektual. Tujuannya bukan hanya pengetahuan, tetapi transformasi ontologis — menjadi serupa dengan Yang Esa.
Dalam Konteks Lain
Dalam Tradisi Kristen dan Islam
Pemikiran Plotinus memberi pengaruh besar terhadap mistisisme Kristen dan filsafat Islam. The One diinterpretasikan sebagai Tuhan yang transenden, sementara konsep emanasi memengaruhi sistem kosmologi Augustinus dan teolog Muslim seperti Al-Farabi dan Ibn Sina.
Augustinus, misalnya, mengadaptasi gagasan tentang return to the One dalam kerangka teologi Kristen, dengan mengidentifikasikan Yang Esa sebagai Tuhan dan perjalanan jiwa sebagai bentuk kasih ilahi.
Dalam Filsafat Modern dan Eksistensial
Pemikiran Plotinus tentang hierarki realitas dan kesatuan eksistensial menginspirasi banyak filsuf modern seperti Hegel, Schelling, dan Bergson. Ide tentang emanation and return juga menjadi dasar refleksi metafisik mengenai hubungan antara individu dan totalitas, yang kelak diolah dalam eksistensialisme dan fenomenologi.
Dalam konteks ini, Plotinus bukan hanya filsuf metafisis, tetapi juga pembimbing spiritual yang melihat filsafat sebagai jalan penyucian dan penyatuan dengan realitas mutlak.
Kesimpulan
Plotinus adalah arsitek Neoplatonisme dan salah satu pemikir terbesar dalam sejarah metafisika. Ia menegaskan bahwa segala realitas memancar dari satu sumber tunggal — Yang Esa — dan bahwa tujuan tertinggi manusia adalah kembali bersatu dengannya. Melalui sintesis antara rasio dan mistik, Plotinus menunjukkan bahwa filsafat sejati adalah jalan menuju keheningan ilahi di pusat segala keberadaan.
FAQ
Apa inti ajaran Plotinus tentang realitas?
Bahwa segala sesuatu berasal dari Yang Esa, realitas tertinggi yang melampaui keberadaan dan pikiran.
Bagaimana cara jiwa bersatu dengan Yang Esa?
Melalui kontemplasi, penyucian diri, dan ekstasi mistik yang melampaui intelek.
Apa hubungan antara Plotinus dan Plato?
Plotinus mengembangkan ajaran Plato menjadi sistem metafisika dan mistik yang disebut Neoplatonisme.
Referensi
- Plotinus. (1991). The Enneads. Translated by A. H. Armstrong. Harvard University Press.
- Rist, J. M. (1967). Plotinus: The Road to Reality. Cambridge University Press.
- O’Meara, D. J. (1993). Plotinus: An Introduction to the Enneads. Oxford University Press.
- Gerson, L. P. (2014). From Plato to Platonism. Cornell University Press.
- Emilsson, E. K. (2007). Plotinus on Intellect. Oxford University Press.
- Remes, P. (2008). Neoplatonism. Routledge.