Dipublikasikan: 12 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 12 Desember 2025
Dipublikasikan: 12 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 12 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Peter Frederick Strawson adalah salah satu filsuf paling berpengaruh dalam tradisi analitik abad ke-20. Ia memainkan peran besar dalam filsafat bahasa, metafisika, teori tindak tutur, serta interpretasi Kant. Strawson dikenal sebagai figur penting dalam kebangkitan kembali metafisika melalui pendekatan “metafisika deskriptif” yang bertujuan mengungkap struktur konseptual dasar yang digunakan manusia dalam memahami dunia. Pemikirannya menghadirkan titik temu antara filsafat bahasa berorientasi penggunaan dan analisis metafisika yang sistematis.
Daftar Isi
Peter Frederick Strawson lahir pada 23 November 1919 di Ealing, London. Setelah mengenyam pendidikan awal di Brentwood School, ia melanjutkan studi di St. John’s College, Oxford, dengan fokus pada filsafat. Pada masa Perang Dunia II, Strawson bekerja untuk badan intelijen militer Inggris. Setelah perang berakhir, ia kembali ke Oxford dan memulai karier akademis panjang yang akan menjadikannya salah satu pemikir terkemuka di universitas tersebut.
Pada 1968, Strawson diangkat sebagai Gilbert Ryle Professor of Metaphysical Philosophy, sebuah posisi prestisius yang mengakui perannya dalam mengembangkan pendekatan metafisika baru di dalam tradisi analitik. Karya-karyanya seperti “On Referring” (1950) dan Individuals (1959) menciptakan pergeseran besar dalam diskusi mengenai referensi, identitas objek, serta struktur pengalaman manusia. Strawson juga banyak menulis tentang Kant, dan karyanya The Bounds of Sense menjadi salah satu interpretasi modern paling berpengaruh terhadap Critique of Pure Reason. Ia mengajar dan menulis hingga akhir hayatnya, sebelum meninggal pada 2006.
Dalam makalahnya yang terkenal, “On Referring” (1950), Strawson menolak teori deskripsi Russell yang menganggap bahwa semua kalimat memiliki nilai kebenaran tertentu, bahkan ketika referensinya tidak ada. Russell berpendapat bahwa kalimat seperti “Raja Prancis saat ini botak” adalah salah karena tidak ada raja Prancis pada masa itu.
Strawson membantah hal ini dengan menekankan bahwa bahasa tidak selalu berfungsi untuk menyatakan proposisi bernilai benar atau salah. Menurutnya:
Pendekatan Strawson menekankan pentingnya konteks penggunaan bahasa dan peran penutur dalam membentuk makna. Pemisahan antara struktur logis formal dan praktik linguistik sehari-hari menjadi salah satu kontribusi besar karya ini.
Dalam Individuals (1959), Strawson menghidupkan kembali metafisika dalam tradisi analitik melalui konsep “metafisika deskriptif.” Metafisika deskriptif tidak bertujuan mengubah pandangan kita tentang dunia, melainkan menguraikan struktur konseptual dasar yang sudah digunakan manusia untuk memahami realitas. Dalam pandangan Strawson:
Metafisika deskriptif diusulkan sebagai respons terhadap kecenderungan positivistik yang ingin menghapus metafisika. Strawson justru menunjukkan bahwa metafisika tidak dapat dieliminasi, karena ia tertanam dalam cara manusia memahami dunia.
Strawson menekankan bahwa konsep “orang” adalah dasar dalam pengalaman dan moralitas. Ia menolak reduksi identitas personal menjadi sekadar hubungan psikologis atau biologis. Dalam kerangka konseptual manusia:
Konsep ini memengaruhi perdebatan modern tentang personhood, agensi moral, dan tanggung jawab.
Strawson memperkenalkan perbedaan penting antara presuposisi dan implikasi logis. Menurutnya:
Konsep-konsep Strawson membuka jalan bagi perkembangan pragmatik modern, termasuk karya-karya Grice tentang implikatur dan teori tindak tutur Austin.
Dalam The Bounds of Sense (1966), Strawson memberikan salah satu interpretasi paling berpengaruh terhadap Kant. Ia berusaha mengekstraksi bagian-bagian Critique of Pure Reason yang dapat dipertahankan dalam kerangka filsafat analitik modern. Strawson berpendapat bahwa:
Interpretasi Strawson membuat filsafat Kant lebih mudah didekati oleh generasi baru filsuf analitik.