Dipublikasikan: 1 November 2025
Terakhir diperbarui: 1 November 2025
Dipublikasikan: 1 November 2025
Terakhir diperbarui: 1 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Nihilisme adalah pandangan filosofis yang menekankan ketidakpercayaan terhadap nilai-nilai, makna, atau tujuan objektif dalam hidup, moralitas, dan eksistensi manusia. Ideologi ini muncul sebagai kritik terhadap struktur sosial, agama, dan tradisi yang dianggap mengekang kebebasan individu atau ilusi makna. Nihilisme menantang asumsi bahwa kehidupan memiliki tujuan intrinsik dan mendorong refleksi kritis mengenai makna, kebebasan, dan eksistensi manusia.
Daftar Isi
Nihilisme dapat didefinisikan sebagai pendekatan filosofis yang meragukan atau menolak eksistensi nilai-nilai moral, makna hidup, atau prinsip objektif, menekankan ketidakpastian dan relativitas eksistensi.
“Nihilism is not only despair and negation, but above all the desire to overcome despair and to build something new.”
— Friedrich Nietzsche, The Will to Power (1901), p. 12
Pandangan ini tidak selalu pesimistis; dalam banyak interpretasi, nihilisme juga membuka ruang bagi kebebasan dan penciptaan nilai baru.
Nihilisme menekankan bahwa nilai moral, etika, atau tujuan hidup tidak bersifat objektif, melainkan dibentuk secara subjektif oleh manusia atau masyarakat.
“There are no moral phenomena at all, only a moral interpretation of phenomena.”
— Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil (1886), p. 45
Pandangan ini menantang norma tradisional dan dogma agama, serta membuka ruang bagi refleksi kritis.
Nihilisme sering digunakan untuk mengkritik institusi sosial dan agama yang dianggap menekan kebebasan individu.
“Man has invented God and institutions to impose meaning where there is none.”
— Ivan Turgenev, Fathers and Sons (1862), p. 89
Kritik ini menekankan pentingnya kesadaran diri dan otonomi moral.
Nihilisme membuka peluang bagi kebebasan mutlak dalam menentukan makna hidup sendiri, sekaligus menuntut tanggung jawab atas keputusan dan tindakan individu.
“Freedom is the right to create one’s own values in a world devoid of inherent meaning.”
— Max Stirner, The Ego and Its Own (1844), p. 67
Individu dihadapkan pada kondisi eksistensial yang menuntut kesadaran dan refleksi kritis.
Nihilisme menekankan bahwa ketidakpercayaan terhadap nilai dan tujuan dapat menimbulkan krisis eksistensial, yang dapat direspons dengan penciptaan nilai baru atau penegasan kebebasan individu.
“When one has lost the illusion of purpose, one gains the power to create anew.”
— Friedrich Nietzsche, The Will to Power (1901), p. 18
Respons ini membuka ruang bagi kreativitas, otonomi, dan transformasi pribadi.
Nihilisme mendorong penciptaan nilai-nilai baru secara individual atau kolektif, untuk mengisi kekosongan makna yang ditinggalkan oleh hilangnya nilai tradisional.
“One must still have chaos in oneself to be able to give birth to a dancing star.”
— Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra (1883), p. 38
Penciptaan nilai ini menjadi inti dari interpretasi nihilisme yang produktif dan transformatif.
Nihilisme menolak nilai dan tujuan yang objektif, tetapi tidak menutup kemungkinan individu menciptakan makna dan nilai sendiri.
Nihilisme menekankan ketiadaan nilai atau makna objektif, sedangkan eksistensialisme menekankan kebebasan individu untuk menciptakan makna dalam dunia yang tidak memiliki makna bawaan.
Tidak; nihilisme juga dapat menjadi sarana refleksi kritis, pembebasan dari dogma, dan penciptaan nilai baru yang lebih otentik dan relevan bagi individu.