Nicholas Malebranche

Raymond Kelvin Nando — Nicholas Malebranche adalah seorang filsuf dan teolog Prancis yang dikenal sebagai tokoh utama Rasionalisme Kristen pada abad ke-17. Ia berusaha menyatukan ajaran René Descartes dengan teologi Augustinus, melahirkan sistem metafisika yang menekankan kebergantungan total manusia pada Tuhan dalam berpikir dan bertindak. Filsafatnya dikenal dengan istilah Occasionalism — gagasan bahwa Tuhan adalah satu-satunya penyebab sejati, sementara makhluk hanya menjadi “kesempatan” bagi kehendak ilahi untuk bertindak.

Biografi Nicholas Malebranche

Nicholas Malebranche lahir di Paris pada tahun 1638 dan menempuh pendidikan di Collège de la Marche serta Sorbonne. Pada tahun 1660, ia bergabung dengan Ordo Oratorian, sebuah komunitas religius yang menekankan pendidikan dan kontemplasi intelektual.

Karya besar pertamanya, De la recherche de la vérité (Pencarian Kebenaran), diterbitkan pada 1674–1675, menjadi salah satu teks metafisika paling berpengaruh di Eropa modern. Dalam karya ini, ia mengembangkan ide bahwa manusia tidak melihat benda secara langsung, melainkan melihat segala sesuatu dalam Tuhan — suatu konsep yang disebut Vision in God.

Malebranche wafat di Paris pada tahun 1715, meninggalkan warisan intelektual yang menghubungkan rasionalisme Cartesian dengan mistisisme teologis.

Konsep-Konsep Utama

Vision en Dieu (Melihat dalam Tuhan)

Bagi Malebranche, manusia tidak dapat mengenal dunia luar secara langsung melalui pancaindra. Pikiran kita hanya dapat mengenal “gagasan” tentang benda, dan gagasan itu tidak berasal dari diri manusia, melainkan ada dalam Tuhan.

Nous voyons toutes choses en Dieu, parce que c’est en lui que nous voyons les vérités immuables. (De la recherche de la vérité, 1674, Buku III, Bab II)

Kita melihat segala sesuatu dalam Tuhan, karena di dalam Dia kita melihat kebenaran yang tidak berubah.

Orang lain juga membaca :  Themistius

Artinya, Tuhan adalah medium pengetahuan, tempat di mana ide-ide universal berada. Dengan demikian, ketika manusia memahami kebenaran, ia sebenarnya sedang berpartisipasi dalam pengetahuan ilahi.

Konsep ini menggabungkan dua tradisi besar:

  • Descartes, yang menekankan ide-ide bawaan dan rasio sebagai sumber kebenaran.
  • Augustinus, yang menyatakan bahwa pengetahuan sejati datang dari pencerahan ilahi.

Dengan Vision en Dieu, Malebranche berusaha menyatukan iman dan rasio dalam satu sistem epistemologis yang koheren.

Occasionalisme (Teori Penyebab Ilahi)

Konsep occasionalisme adalah inti dari metafisika Malebranche. Ia menolak gagasan bahwa makhluk ciptaan memiliki kekuatan kausal yang sejati. Menurutnya, hanya Tuhan yang dapat menyebabkan sesuatu terjadi; semua hubungan sebab-akibat di dunia hanyalah “kesempatan” (occasions) bagi kehendak Tuhan untuk bertindak.

Il n’y a point de véritable cause dans les créatures; Dieu seul est la cause efficiente de tout ce qui arrive. (Traité de la nature et de la grâce, 1680, hlm. 73)

Tidak ada sebab sejati dalam makhluk; hanya Tuhan yang menjadi penyebab efisien dari segala sesuatu yang terjadi.

Sebagai contoh, ketika bola satu memukul bola lain dan bola kedua bergerak, bukan bola pertama yang menyebabkan gerakan itu — tetapi Tuhan yang menciptakan gerakan tersebut berdasarkan hukum yang telah Ia tetapkan.

Dengan demikian, dunia ini berjalan karena hukum-hukum umum Tuhan, bukan karena kekuatan alamiah benda. Occasionalisme menjadi bentuk metafisika teologis yang menegaskan kebergantungan total ciptaan pada Sang Pencipta.

Union de l’âme et du corps (Kesatuan Jiwa dan Tubuh)

Malebranche juga mengembangkan teori tentang hubungan antara jiwa dan tubuh, yang menjadi persoalan utama dalam filsafat Cartesian. Ia menolak gagasan bahwa jiwa dapat secara langsung memengaruhi tubuh. Sebaliknya, setiap hubungan antara jiwa dan tubuh terjadi karena intervensi Tuhan.

Orang lain juga membaca :  John Scotus Eriugena

Ketika seseorang menginginkan sesuatu (misalnya menggerakkan tangan), kehendak itu hanyalah “kesempatan” bagi Tuhan untuk menggerakkan tubuh sesuai dengan hukum alam yang Ia tentukan.

Dengan demikian, union de l’âme et du corps bukanlah hubungan kausal langsung, melainkan koordinasi ilahi yang menjamin keteraturan antara dunia rohani dan dunia fisik.

L’amour de l’ordre divin (Cinta terhadap Tatanan Ilahi)

Dalam etika, Malebranche menekankan bahwa moralitas sejati muncul dari cinta terhadap tatanan ilahi — bukan dari emosi atau keinginan pribadi. Manusia harus mencintai segala sesuatu dalam proporsi yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Aimer Dieu, c’est aimer l’ordre immuable de sa sagesse. (Traité de morale, 1684, Bab I)

Mencintai Tuhan berarti mencintai tatanan yang tak berubah dari kebijaksanaan-Nya.

Moralitas, bagi Malebranche, adalah bentuk rasionalitas spiritual, di mana kehendak manusia diarahkan untuk menyesuaikan diri dengan struktur kebaikan yang telah Tuhan tetapkan.

Dalam Konteks Lain

Hubungan dengan Rasionalisme Cartesian

Malebranche menganggap dirinya sebagai penerus Descartes, tetapi dengan koreksi teologis. Jika Descartes menekankan rasio manusia sebagai sumber kepastian, Malebranche menambahkan bahwa kepastian sejati hanya mungkin karena Tuhan menghadirkan kebenaran dalam intelek manusia.

Dengan kata lain, ia menggantikan cogito ergo sum (“aku berpikir maka aku ada”) dengan “aku berpikir karena Tuhan membuatku melihat kebenaran.”

Pengaruh terhadap Pemikir Modern

Pemikiran Malebranche memengaruhi banyak tokoh besar, termasuk Leibniz, Berkeley, dan bahkan Hume. Dari Malebranche, mereka mewarisi kesadaran bahwa hubungan sebab-akibat tidak dapat dibuktikan secara langsung melalui pengalaman — suatu ide yang kemudian menjadi dasar skeptisisme empiris.

Selain itu, pengaruh teologisnya terasa dalam pemikiran Blaise Pascal dan Jonathan Edwards, yang mengembangkan tema kebergantungan manusia pada rahmat ilahi.

Orang lain juga membaca :  Ibn Rushd (Averroes)

Kesimpulan

Nicholas Malebranche adalah salah satu rasionalis besar Prancis yang berhasil mensintesiskan filsafat Descartes dan teologi Augustinus. Melalui konsep Vision en Dieu dan Occasionalisme, ia menegaskan bahwa Tuhan adalah sumber pengetahuan, penyebab segala peristiwa, dan dasar moralitas. Pemikirannya menandai peralihan dari rasionalisme murni menuju rasionalisme religius, yang menempatkan Tuhan di pusat sistem metafisik.

FAQ

Apa yang dimaksud dengan Vision en Dieu?

Itu adalah gagasan bahwa manusia melihat semua kebenaran dalam Tuhan, karena ide-ide universal dan abadi hanya ada di dalam pikiran ilahi.

Mengapa Malebranche menolak kausalitas alami?

Karena baginya, hanya Tuhan yang memiliki kekuatan sejati untuk menyebabkan sesuatu; hubungan sebab-akibat antar benda hanyalah kesempatan bagi Tuhan untuk bertindak.

Apa hubungan Malebranche dengan Descartes?

Ia melanjutkan proyek Descartes tetapi menolak otonomi rasio, menekankan bahwa rasio hanya dapat berfungsi karena diterangi oleh cahaya ilahi.

Referensi

  • Malebranche, N. (1674). De la recherche de la vérité. Paris: André Pralard.
  • Malebranche, N. (1680). Traité de la nature et de la grâce. Paris: André Pralard.
  • Lennon, T. M., & Olscamp, P. J. (Eds.). (1997). The Search after Truth. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Nadler, S. (1993). Malebranche and Ideas. Oxford: Oxford University Press.
  • Schmaltz, T. (2000). Malebranche’s Theory of the Soul. Oxford: Oxford University Press.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Nicholas dari Autrecourt

Next Article

Pierre Gassendi