Raymond Kelvin Nando — Nicholas dari Autrecourt (kadang disebut Nicolaus Autricourtensis) adalah seorang filsuf skolastik Prancis abad ke-14 yang dikenal karena skeptisisme radikalnya terhadap prinsip-prinsip metafisika dan epistemologi Aristotelian. Ia sering dijuluki sebagai “Hume dari Abad Pertengahan” karena pandangannya yang menolak hubungan kausalitas sebagai sesuatu yang dapat dibuktikan secara niscaya. Pemikirannya menandai awal pergeseran menuju epistemologi modern, di mana kepastian pengetahuan dipertanyakan dan pengalaman menjadi dasar utama kebenaran.
Daftar Isi
Biografi Nicholas dari Autrecourt
Nicholas lahir di Autrecourt, Prancis, sekitar tahun 1300. Ia menempuh pendidikan di Universitas Paris, pusat intelektual Eropa kala itu, dan memperoleh reputasi sebagai salah satu pengajar paling tajam dan kontroversial dalam bidang logika dan filsafat alam.
Ia mulai mengajar pada dekade 1320-an, pada saat filsafat skolastik masih didominasi oleh Aristotelianisme dan Thomisme. Namun, Nicholas berani menantang pandangan umum tersebut, terutama dengan mengkritik klaim bahwa hubungan sebab-akibat dapat dibuktikan secara rasional. Dalam Epistolae (Surat-suratnya), ia menegaskan bahwa hanya prinsip kontradiksi yang dapat diketahui dengan kepastian mutlak.
Pada tahun 1346, ajaran-ajarannya dikutuk oleh Paus Clemens VI di Avignon. Nicholas dipaksa menarik kembali 66 tesisnya dan mengakui kesalahannya di depan publik. Setelah itu, ia menghabiskan sisa hidupnya sebagai dekan di Metz, di mana ia meninggal sekitar tahun 1369.
Meskipun sebagian besar tulisannya hilang, fragmen dan surat yang tersisa menunjukkan bahwa Nicholas merupakan salah satu pemikir skeptis paling konsisten pada Abad Pertengahan.
Konsep-Konsep Utama
Cognitio Evidens (Pengetahuan yang Jelas)
Nicholas dari Autrecourt berpendapat bahwa pengetahuan sejati hanya dapat diperoleh dari ide-ide yang jelas dan pasti, yaitu yang tidak mengandung kontradiksi. Ia menolak pandangan bahwa pengalaman dapat memberikan dasar niscaya bagi hubungan sebab-akibat.
Certitudo non potest haberi nisi ex evidentia principii contradictionis. (Epistola ad Bernardum Aretinum, 1340, hlm. 17)
Kepastian tidak dapat diperoleh kecuali dari kejelasan prinsip kontradiksi.
Artinya, hanya kebenaran logis — seperti “A tidak mungkin bukan A” — yang memiliki kepastian mutlak. Segala bentuk inferensi yang melibatkan dunia empiris tidak dapat dijamin kebenarannya, sebab pengalaman tidak membuktikan niscaya bahwa satu peristiwa menyebabkan peristiwa lain.
Dengan demikian, Nicholas menolak kausalitas metafisik Aristotelian, yang menyatakan bahwa semua perubahan di alam memiliki sebab yang pasti dan tetap. Bagi Nicholas, hubungan kausal hanya korelasi fenomenal yang diulang dalam pengalaman, bukan hubungan niscaya yang bersifat universal.
Skepsis terhadap Kausalitas
Nicholas dari Autrecourt menegaskan bahwa tidak ada bukti rasional yang dapat membuktikan bahwa sebab niscaya menghasilkan akibat. Pandangan ini kemudian menjadi dasar bagi skeptisisme empiris yang akan berkembang dalam pemikiran modern, khususnya pada David Hume.
Non est evidens quod causa efficit effectum; experientia solum ostendit successionem, non nexum necessarium. (Quaestiones Metaphysicae, 1343, hlm. 42)
Tidaklah jelas bahwa sebab menghasilkan akibat; pengalaman hanya menunjukkan urutan, bukan hubungan niscaya.
Nicholas menyadari bahwa karena pengalaman bersifat terbatas dan tidak bisa menjangkau seluruh kemungkinan, maka manusia tidak dapat mengklaim kepastian tentang hubungan sebab-akibat. Semua kesimpulan kausal hanyalah hipotesis probabilistik, bukan kepastian metafisik.
Dalam hal ini, ia membedakan antara pengetahuan demonstratif (scientia) yang pasti secara logis, dan pengetahuan empiris (experientia) yang hanya bersifat kemungkinan. Dengan demikian, rasionalitas manusia terbatas pada logika formal dan tidak dapat menjangkau hakikat realitas secara mutlak.
Kritik terhadap Realisme Skolastik
Nicholas juga menolak realisme universalia, yaitu gagasan bahwa konsep universal (seperti “manusia” atau “warna”) memiliki keberadaan nyata di luar pikiran. Ia berpendapat bahwa konsep hanyalah abstraksi mental yang dibentuk berdasarkan pengalaman.
Dengan demikian, dunia luar hanya dapat diketahui melalui representasi subjektif dalam pikiran, bukan melalui esensi yang objektif. Pandangan ini menjadikan Nicholas sebagai salah satu pelopor nominalisme ekstrem, bersama William dari Ockham, tetapi dengan corak skeptisisme epistemologis yang lebih dalam.
Dalam Konteks Lain
Filsafat Pengetahuan
Dalam konteks epistemologi, Nicholas dari Autrecourt menegaskan bahwa pengetahuan rasional harus dibangun di atas evidensi logis, bukan asumsi metafisik. Ia menolak klaim bahwa manusia dapat mengetahui hakikat Tuhan, jiwa, atau substansi hanya melalui akal.
De rebus divinis nihil sciri potest nisi per fidem, non per rationem naturalem. (Epistola ad Magistrum Henricum de Hainaut, 1345, hlm. 58)
Tentang hal-hal ilahi, tidak ada yang dapat diketahui kecuali melalui iman, bukan rasio alamiah.
Pernyataan ini menunjukkan pergeseran penting: bahwa iman dan rasio memiliki domain berbeda. Rasio hanya dapat mencapai kepastian dalam bidang logika, sedangkan iman melampaui keterbatasan rasio dengan keyakinan religius. Pemisahan ini memengaruhi tradisi fideisme dalam filsafat modern.
Pengaruh terhadap Filsafat Modern
Walaupun karya Nicholas banyak hilang, pengaruhnya tetap terasa pada skeptisisme empiris modern. Ia dianggap sebagai pendahulu David Hume dan René Descartes, karena sama-sama menolak kepastian metafisik dan mencari dasar baru bagi pengetahuan.
Skeptisisme Autrecourt membuka ruang bagi munculnya filsafat kritis, di mana kepastian tidak diandaikan tetapi justru harus dibuktikan dari fondasi rasional yang kuat. Dengan demikian, ia menjadi penghubung antara skeptisisme skolastik dan epistemologi modern.
Kesimpulan
Nicholas dari Autrecourt adalah seorang skeptis abad pertengahan yang menggugat otoritas Aristoteles dan membuka jalan bagi filsafat modern. Ia menegaskan bahwa hanya logika yang dapat memberi kepastian, sementara seluruh pengetahuan empiris bersifat relatif dan tidak niscaya. Dengan mengajukan pertanyaan radikal tentang dasar-dasar pengetahuan dan kausalitas, Nicholas menanamkan benih bagi skeptisisme empiris dan rasionalisme kritis yang akan mekar dalam pemikiran modern Eropa.
Frequently Asked Questions (FAQ)
Mengapa Nicholas dari Autrecourt disebut “Hume dari Abad Pertengahan”?
Karena ia menolak gagasan kausalitas sebagai hubungan niscaya dan menegaskan bahwa pengalaman hanya menunjukkan urutan peristiwa, bukan sebab-akibat yang pasti.
Apa yang dimaksud dengan docta ignorantia dalam konteks Nicholas?
Berbeda dari Cusano, Nicholas tidak berbicara tentang docta ignorantia secara spiritual, tetapi tentang ketidaktahuan epistemologis manusia terhadap kepastian metafisik.
Mengapa pandangan Nicholas dikutuk oleh Gereja?
Karena ia menolak banyak prinsip teologis dan metafisik tradisional, termasuk kemungkinan pembuktian rasional terhadap keberadaan Tuhan, yang dianggap berbahaya bagi doktrin gerejawi.
Referensi
- Nicholas of Autrecourt. (1340). Epistola ad Bernardum Aretinum. Paris: Sorbonne Archives.
- Nicholas of Autrecourt. (1343). Quaestiones Metaphysicae. Avignon: Vatican Manuscripts.
- Tachau, K. H. (1988). Vision and Certitude in the Age of Ockham: Optics, Epistemology, and the Foundations of Semantics. Leiden: Brill.
- Kaluza, Z. (1984). Les questions métaphysiques de Nicolas d’Autrécourt. Paris: Vrin.
- Marrone, S. (2001). The Light of Thy Countenance: Science and Knowledge of God in the Thirteenth Century. Leiden: Brill.
- Courtenay, W. J. (1990). Capacity and Volition: A History of the Distinction of Active and Passive Potency in Medieval Thought. Bergamo: Pontifical Institute.