Raymond Kelvin Nando — Niccolò Cusano, atau Nicholas of Cusa (1401–1464), adalah seorang filsuf, teolog, dan matematikawan Jerman-Italia yang menjadi tokoh penting dalam transisi dari Skolastisisme abad pertengahan menuju filsafat modern. Ia dikenal karena gagasannya tentang docta ignorantia (pengetahuan melalui ketidaktahuan), serta pandangannya tentang kesatuan Tuhan dan alam semesta. Cusano berupaya mengharmoniskan antara iman dan rasio, antara dunia teologis dan ilmiah, menjadikannya salah satu pemikir paling berpengaruh dalam filsafat Renaisans awal.
Daftar Isi
Biografi Niccolò Cusano
Niccolò Cusano lahir pada tahun 1401 di Kues, Jerman (sekarang Bernkastel-Kues), dari keluarga pedagang. Sejak muda, ia menampakkan kecerdasan luar biasa dalam bidang matematika, logika, dan hukum kanonik. Ia belajar di Universitas Heidelberg dan Padua, kemudian melanjutkan pendidikan teologi di Cologne, di mana ia terpengaruh oleh tradisi mistik Jerman seperti Meister Eckhart dan Johannes Tauler.
Pada awal kariernya, Cusano bekerja dalam pelayanan gereja dan akhirnya menjadi kardinal serta diplomat Vatikan. Namun, di balik karier keagamaannya, ia menulis karya-karya filsafat yang mendalam dan inovatif. Karya terkenalnya De Docta Ignorantia (1440) merupakan salah satu risalah teologis-filosofis paling penting di abad ke-15, membahas keterbatasan akal manusia dalam memahami Tuhan dan kosmos.
Cusano wafat pada 11 Agustus 1464 di Todi, Italia. Meskipun sering dianggap sebagai teolog, pemikirannya juga membuka jalan bagi filsafat modern melalui gagasan tentang relativitas pengetahuan, kesatuan makrokosmos dan mikrokosmos, serta ide tentang alam semesta tak terbatas — yang mendahului pemikiran Copernicus dan Giordano Bruno.
Konsep-Konsep Utama
Docta Ignorantia (Pengetahuan melalui Ketidaktahuan)
Konsep utama Cusano adalah docta ignorantia, yang berarti pengetahuan sejati diperoleh melalui kesadaran akan ketidaktahuan manusia terhadap kebenaran absolut. Ia menolak pandangan bahwa manusia dapat mencapai pengetahuan sempurna tentang Tuhan melalui rasio semata.
Omnis nostra cognitio ignorantia est; quanto perfectior, tanto propinquior ignorantiæ doctæ. (De Docta Ignorantia, 1440, hlm. 12)
Segala pengetahuan kita adalah ketidaktahuan; semakin sempurna pengetahuan itu, semakin dekat ia pada ketidaktahuan yang terdidik.
Dalam pandangan Cusano, Tuhan adalah tak terbatas (infinite), sedangkan pikiran manusia terbatas (finite). Karena itu, manusia hanya dapat mendekati kebenaran melalui simbol dan analogi, bukan melalui konsep rasional mutlak. Docta ignorantia menjadi bentuk kerendahan epistemologis yang justru membuka jalan bagi kebijaksanaan sejati: kesadaran bahwa semua pengetahuan bersifat relatif terhadap misteri ilahi.
Pandangan ini melahirkan pendekatan teologi negatif (negative theology) — bahwa Tuhan hanya dapat dipahami melalui apa yang Ia bukan (via negativa), bukan melalui afirmasi positif tentang hakikat-Nya.
Coincidentia Oppositorum (Kesatuan Pertentangan)
Cusano juga memperkenalkan konsep coincidentia oppositorum, yaitu kesatuan segala hal yang tampak bertentangan dalam kesempurnaan Tuhan. Ia berargumen bahwa di dalam Tuhan, segala dikotomi — seperti terbatas dan tak terbatas, satu dan banyak, besar dan kecil — berpadu menjadi satu kesatuan yang melampaui logika manusia.
In Deo oppositorum coincidentia est. (De Docta Ignorantia, 1440, hlm. 24)
Dalam Tuhan terdapat kesatuan segala yang berlawanan.
Melalui gagasan ini, Cusano menolak pandangan dualistik yang memisahkan antara Tuhan dan dunia. Bagi Cusano, Tuhan adalah pusat dan keliling sekaligus — sumber segala hal dan kehadiran yang meliputi seluruh realitas. Pemikiran ini memberi dasar bagi metafisika kesatuan ontologis, yang kelak memengaruhi Giordano Bruno, Spinoza, hingga Hegel.
Visio Intellectualis (Penglihatan Intelektual)
Selain itu, Cusano mengemukakan gagasan tentang visio intellectualis atau penglihatan intelektual, yaitu kemampuan jiwa untuk memahami kebenaran ilahi secara intuitif, melampaui batas rasionalitas. Menurutnya, akal manusia tidak dapat mengukur Tuhan, tetapi dapat “melihat” refleksi-Nya dalam harmoni dan keteraturan alam.
Pemikiran ini menandai pergeseran dari rasionalisme skolastik menuju mistisisme intelektual, di mana intuisi menjadi sarana utama pengetahuan transendental.
Dalam Konteks Lain
Filsafat Agama
Dalam konteks filsafat agama, Cusano berusaha mengintegrasikan iman dan rasio. Ia menolak konflik antara keduanya dan berpendapat bahwa rasio sejati selalu berujung pada pengakuan terhadap misteri iman. Dengan demikian, ia menjadi pelopor dialog antara teologi dan sains — sebuah upaya yang menginspirasi banyak pemikir Renaisans dan modern.
Fides et ratio sunt duae viae ad eundem veritatis fontem. (De Concordantia Catholica, 1433, hlm. 66)
Iman dan rasio adalah dua jalan menuju sumber kebenaran yang sama.
Melalui gagasan ini, Cusano mengajarkan bahwa iman tidak bertentangan dengan pengetahuan ilmiah, melainkan memperluas cakrawala rasio menuju pengertian yang lebih tinggi. Pandangan ini kelak dihidupkan kembali oleh Marsilio Ficino dan Giordano Bruno, serta menjadi dasar bagi renaisans teologis di Eropa.
Filsafat Ilmu dan Kosmologi
Cusano juga memberikan sumbangsih awal terhadap filsafat ilmu dan kosmologi modern. Ia menolak model geosentris Aristotelian dan menyatakan bahwa alam semesta tidak memiliki pusat, sebab Tuhan hadir di mana-mana dan tidak terbatas oleh ruang.
Gagasannya bahwa alam semesta tak terhingga dan Bumi bukan pusat jagat raya merupakan terobosan berani untuk zamannya — jauh mendahului teori Copernicus. Ia memandang bahwa seluruh ciptaan adalah manifestasi harmoni ilahi, di mana keteraturan matematika menjadi tanda kebijaksanaan Tuhan.
Kesimpulan
Niccolò Cusano merupakan salah satu pemikir transisi paling penting antara abad pertengahan dan zaman modern. Melalui gagasan-gagasannya seperti docta ignorantia dan coincidentia oppositorum, ia membangun sistem filsafat yang memadukan teologi mistik dan rasionalitas ilmiah. Cusano membuka jalan bagi pemahaman baru tentang Tuhan, pengetahuan, dan kosmos, menjadikannya pelopor bagi perkembangan filsafat Renaisans dan metafisika modern.
Frequently Asked Questions (FAQ)
Apa yang dimaksud dengan docta ignorantia?
Docta ignorantia adalah kesadaran filosofis bahwa manusia tidak dapat mencapai pengetahuan sempurna tentang Tuhan; pengetahuan tertinggi adalah menyadari keterbatasan pengetahuan kita sendiri.
Apa arti coincidentia oppositorum dalam pemikiran Cusano?
Coincidentia oppositorum berarti kesatuan pertentangan — bahwa dalam Tuhan semua hal yang tampak berlawanan berpadu secara harmonis.
Mengapa Cusano penting dalam sejarah filsafat?
Cusano penting karena ia memperkenalkan cara berpikir baru yang menggabungkan iman, rasio, dan intuisi, serta menginspirasi pemikiran kosmologis modern yang menolak pandangan geosentris.
Referensi
- Cusanus, N. (1440). De Docta Ignorantia. Paris: Desclée.
- Cusanus, N. (1433). De Concordantia Catholica. Rome: Vatican Press.
- Hopkins, J. (1981). Nicholas of Cusa on Learned Ignorance. Minneapolis: Banning Press.
- Bond, H. L. (1997). Reason and Revelation in Nicholas of Cusa. Aldershot: Ashgate.
- Klibansky, R. (1982). Philosophical Change in the Renaissance: Nicholas of Cusa and His Age. Oxford: Clarendon Press.
- Moran, D. (2000). Introduction to Phenomenology. London: Routledge.