Neo-Marxisme

Raymond Kelvin Nando — Neo-Marxisme adalah pengembangan teori Marxis klasik yang menekankan analisis struktur sosial, ekonomi, dan budaya secara lebih kompleks, dengan memperhatikan faktor ideologi, kekuasaan, dan institusi non-ekonomi. Neo-Marxisme muncul pada pertengahan abad ke-20 sebagai respons terhadap keterbatasan Marxisme klasik dalam menjelaskan fenomena sosial modern seperti budaya, media, dan dominasi ideologis. Ideologi ini menggabungkan prinsip-prinsip Marxisme dengan teori kritis, membuka ruang untuk menganalisis ketidaksetaraan, hegemoni, dan reproduksi kekuasaan dalam masyarakat modern.

Pengertian Neo-Marxisme

Neo-Marxisme dapat didefinisikan sebagai pendekatan kritis yang memperluas analisis Marxis klasik, menekankan peran ideologi, budaya, dan institusi sosial dalam mempertahankan atau menantang ketimpangan dan dominasi kelas.

“The task of the critical theorist is to reveal the mechanisms of social domination and ideological control that perpetuate inequality.”
— Max Horkheimer, Critical Theory (1937), p. 5

Pendekatan ini tidak hanya melihat ekonomi, tetapi juga memahami bagaimana kekuasaan dan budaya membentuk struktur sosial.

Tokoh Neo-Marxisme

  • Antonio Gramsci — mengembangkan konsep hegemoni budaya, menunjukkan bagaimana kelas dominan mempengaruhi ideologi masyarakat.
  • Max Horkheimer — tokoh Mazhab Frankfurt yang menekankan analisis kritis terhadap budaya dan institusi sosial.
  • Theodor W. Adorno — mengkaji budaya massa dan media sebagai alat reproduksi ideologi dominan.
  • Herbert Marcuse — menganalisis alienasi modern dan peran budaya dalam menahan perubahan sosial.
Orang lain juga membaca :  Agnostisisme Politik

Prinsip dan Gagasan Utama Neo-Marxisme

Hegemoni Budaya

Neo-Marxisme menekankan bahwa kelas dominan mempertahankan kekuasaan melalui pengendalian budaya, nilai, dan norma sosial, bukan semata-mata melalui kekuatan ekonomi atau politik.

“The ruling class maintains power not just through coercion but by shaping the cultural consciousness of society.”
— Antonio Gramsci, Prison Notebooks (1929-1935), p. 12

Pengaruh budaya menciptakan konsensus yang membuat ketidaksetaraan tampak alami.

Analisis Ideologi dan Media

Neo-Marxisme memandang media dan institusi budaya sebagai sarana reproduksi ideologi, yang dapat mengukuhkan dominasi kelas tertentu.

“Culture is the instrument through which dominant ideologies are transmitted and internalized by the masses.”
— Theodor W. Adorno, Dialectic of Enlightenment (1947), p. 72

Analisis ini membantu memahami bagaimana opini publik dibentuk dan dikontrol.

Kritik terhadap Kapitalisme Modern

Neo-Marxisme menekankan kebutuhan untuk mengkaji kapitalisme kontemporer, termasuk dampaknya pada hubungan sosial, alienasi, dan distribusi kekuasaan.

“Modern capitalist societies produce not only economic inequality but also psychological and cultural domination.”
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man (1964), p. 45

Kritik ini mencakup aspek sosial, politik, dan psikologis dari ketidakadilan.

Peran Transformasi Sosial dan Emansipasi

Neo-Marxisme mendorong penciptaan kesadaran kritis untuk menantang struktur dominasi dan mencapai emansipasi sosial.

“Emancipation requires consciousness-raising that enables people to recognize and resist social oppression.”
— Max Horkheimer, Critical Theory (1937), p. 23

Kesadaran ini memungkinkan masyarakat bergerak menuju struktur yang lebih adil dan demokratis.

Interaksi Ekonomi, Politik, dan Budaya

Neo-Marxisme menekankan analisis interdisipliner, melihat hubungan antara struktur ekonomi, kekuasaan politik, dan budaya sebagai kesatuan dalam reproduksi atau transformasi sosial.

“Social structures cannot be understood solely in economic terms; politics and culture are intertwined in the exercise of power.”
— Antonio Gramsci, Prison Notebooks (1929-1935), p. 48

Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang ketimpangan dan konflik dalam masyarakat modern.

Orang lain juga membaca :  Elitisme

FAQ

Apa perbedaan neo-Marxisme dengan Marxisme klasik?

Neo-Marxisme menekankan peran ideologi, budaya, dan institusi sosial dalam reproduksi dominasi, sementara Marxisme klasik fokus pada konflik kelas yang bersumber dari ekonomi dan kepemilikan alat produksi.

Bagaimana neo-Marxisme memandang media dan budaya populer?

Neo-Marxisme melihat media dan budaya populer sebagai sarana untuk menanamkan ideologi dominan, membentuk kesadaran, dan mempertahankan ketidaksetaraan sosial.

Apakah neo-Marxisme relevan di dunia modern?

Ya, neo-Marxisme digunakan untuk menganalisis globalisasi, kapitalisme modern, politik identitas, media massa, dan mekanisme hegemoni dalam masyarakat kontemporer.

Referensi

  • Gramsci, A. (1929-1935). Prison Notebooks. New York: Columbia University Press.
  • Horkheimer, M. (1937). Critical Theory. New York: Continuum.
  • Adorno, T. W., & Horkheimer, M. (1947). Dialectic of Enlightenment. New York: Herder and Herder.
  • Marcuse, H. (1964). One-Dimensional Man. Boston: Beacon Press.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Nihilisme

Next Article

Neo-Imperialisme

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *