Nancy Fraser

Dipublikasikan: 12 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 12 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Nancy Fraser adalah salah satu filsuf politik dan teoritikus sosial paling berpengaruh dalam tradisi teori kritis kontemporer. Ia dikenal melalui analisisnya mengenai keadilan sosial, feminisme, demokrasi radikal, dan kritik terhadap kapitalisme global. Pemikirannya menekankan hubungan antara pengakuan (recognition), redistribusi (redistribution), representasi (representation), serta bagaimana dinamika kapitalisme memengaruhi struktur sosial dan politik. Fraser menjadi figur sentral dalam perdebatan mengenai feminisme, demokrasi transnasional, dan paradigma keadilan dalam masyarakat kompleks.

Biografi Nancy Fraser

Nancy Fraser lahir pada 20 Mei 1947 di Baltimore, Maryland, Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan di Bryn Mawr College dan memperoleh gelar doktor di bidang filsafat dari CUNY Graduate Center. Fraser dikenal luas karena posisi kritisnya terhadap neoliberalisme, globalisasi kapitalis, dan bentuk-bentuk feminisme yang menurutnya telah mengalami kooptasi oleh logika pasar.

Kariernya mencakup pengajaran di Northwestern University, The New School for Social Research, serta berbagai institusi internasional. Fraser menjabat sebagai editor Constellations, jurnal teori politik dan sosial global, serta aktif berkontribusi dalam perdebatan publik terkait krisis demokrasi, ketidaksetaraan ekonomi, dan masa depan feminisme. Ia dianggap sebagai salah satu penerus sekaligus kritikus kreatif tradisi Frankfurt School, menggabungkan teori kritis dengan analisis feminis, ekonomi politik, dan filsafat politik normatif.

Orang lain juga membaca :  Ibn Gabirol (Avicebron)

Pemikiran Nancy Fraser

Teori Pengakuan dan Redistribusi

Kerangka dualisme keadilan

Fraser mengusulkan bahwa keadilan sosial tidak dapat direduksi pada satu dimensi saja. Ada dua prinsip fundamental:

  • Redistribusi: menangani ketidaksetaraan ekonomi dan struktur material ketimpangan;
  • Pengakuan: menangani ketidakadilan budaya, status, dominasi simbolik, dan stigmatisasi kelompok.

Ia menolak dualisme ekstrem antara ekonomi dan budaya, menegaskan bahwa keduanya mustahil dipisahkan dalam masyarakat kapitalis. Ketidakadilan selalu memiliki aspek material dan simbolik.

Kritik terhadap identitarianisme

Fraser mengkritik bentuk feminisme atau gerakan sosial yang terlalu menekankan identitas dan pengakuan tanpa melihat ketimpangan ekonomi. Menurutnya, orientasi sempit pada pengakuan justru dapat mendukung neoliberalisme karena mengabaikan kondisi material seperti kerja sosial-reproduktif, upah, dan akses sumber daya.

Paradigma “perspektif dua dimensi”

Fraser kemudian memperluas model ke dalam tiga dimensi: redistribusi, pengakuan, dan representasi (political representation). Tiga dimensi ini saling terkait dan menjadi dasar kerangka analisis keadilan global.

Feminisme dan “Neoliberalism-Friendly Feminism”

Kritik terhadap feminisme liberal

Fraser berpendapat bahwa beberapa aliran feminisme telah berkontribusi tidak sengaja pada legitimasi neoliberalisme dengan mengedepankan wacana “empowerment” dan “individualisme” tanpa memajukan keadilan ekonomi. Misalnya:

  • Pengabaian kerja perawatan (care work)
  • Mendorong perempuan masuk ke pasar kerja tanpa mereformasi struktur ketenagakerjaan
  • Memprioritaskan representasi elite perempuan daripada kondisi mayoritas perempuan pekerja

Reintegrasi feminisme dan ekonomi politik

Fraser mengusulkan feminisme yang kembali ke akar sosialistik-demokratis, yang menekankan:

  • Pengakuan nilai kerja perawatan
  • Redistribusi ekonomi global
  • Demokratisasi ekonomi
  • Rekonstruksi sistem sosial agar memungkinkan kesetaraan nyata, bukan semata simbolik

Kritik terhadap Kapitalisme Global

Kapitalisme “kanibalis”

Fraser memperkenalkan konsep kapitalisme sebagai “order sosial institusional” yang tidak hanya melibatkan pasar, tetapi juga ketergantungan pada kondisi non-ekonomi seperti alam, perawatan, politik, dan reproduksi sosial. Kapitalisme modern, menurutnya, cenderung mengkanibalisasi basis-basis non-ekonomi tersebut demi akumulasi.

Orang lain juga membaca :  Michel de Montaigne

Krisis multidimensi

Ia menunjukkan bahwa kapitalisme kontemporer mengalami empat krisis:

  • Krisis ekonomi (ketimpangan global)
  • Krisis ekologi (eksploitasi alam)
  • Krisis sosial-reproduktif (kerja perawatan yang terabaikan)
  • Krisis politik (melemahnya demokrasi dan legitimasi)

Solusi normatif

Fraser menyerukan pembangunan tatanan demokratis transnasional, sistem ekonomi politik yang lebih egaliter, serta restrukturisasi institusi global untuk mengurangi dominasi kapitalisme finansial.

Teori Demokrasi Radikal dan Representasi

Dari “redistribusi-pengakuan” menuju “representasi”

Fraser memperluas kerangka keadilan menjadi tiga dimensi:

  • Redistribusi: keadilan ekonomi
  • Pengakuan: keadilan budaya
  • Representasi: keadilan politik

Keadilan politik menuntut bahwa semua orang yang terkena dampak suatu kebijakan harus memiliki hak representasi yang setara.

“Misframing” global

Fraser memperkenalkan istilah misframing untuk menggambarkan bagaimana skala politik global menyingkirkan kelompok tertentu dari proses pengambilan keputusan. Misalnya, pekerja migran, pengungsi, atau komunitas transnasional tidak memiliki akses representasi politik padahal terdampak oleh kebijakan ekonomi global.

Demokrasi post-Westphalian

Fraser menyerukan pembentukan demokrasi baru yang tidak berbasis negara-bangsa, tetapi skala politik transnasional yang sesuai dengan struktur global ekonomi dan kekuasaan modern.

Karya-Karya Penting Nancy Fraser

  • Unruly Practices: Power, Discourse and Gender in Contemporary Social Theory (1989)
  • Justice Interruptus: Critical Reflections on the “Postsocialist” Condition (1997)
  • Redistribution or Recognition? A Political-Philosophical Exchange (2003, bersama Axel Honneth)
  • Scales of Justice: Reimagining Political Space in a Globalizing World (2008)
  • Fortunes of Feminism: From State-Managed Capitalism to Neoliberal Crisis (2013)
  • Capitalism: A Conversation in Critical Theory (2018, bersama Rahel Jaeggi)
  • Cannibal Capitalism (2022)

Referensi

  • Fraser, N. (1997). Justice interruptus: Critical reflections on the “postsocialist” condition. Routledge.
  • Fraser, N. (2008). Scales of justice: Reimagining political space in a globalizing world. Polity Press.
  • Fraser, N. (2013). Fortunes of feminism: From state-managed capitalism to neoliberal crisis. Verso.
  • Fraser, N., & Honneth, A. (2003). Redistribution or recognition? A political-philosophical exchange. Verso.
  • Fraser, N., & Jaeggi, R. (2018). Capitalism: A conversation in critical theory. Polity Press.
  • Butler, J., & Fraser, N. (2011). The power of feminist theory: Justice, gender, and the politics of difference. Routledge.
Orang lain juga membaca :  Kwame Anthony Appiah

Citation

Previous Article

Jürgen Habermas

Next Article

Axel Honneth

Citation copied!