Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Monotelitisme adalah aliran teologi kristologis yang menekankan bahwa Yesus Kristus memiliki dua sifat (ilahi dan manusiawi) tetapi hanya satu kehendak. Aliran ini muncul pada abad ke-7 sebagai upaya untuk menyatukan komunitas Kristen yang terpecah akibat perselisihan antara Chalcedonian (dua sifat Kristus) dan Monofisit (satu sifat Kristus). Monotelitisme menekankan kehendak ilahi Kristus sebagai dominan, dengan tujuan menjaga kesatuan pribadi Kristus sambil tetap menghormati keberadaan dua sifat-Nya.
Daftar Isi
Ajaran Monotelitisme menyatakan bahwa Kristus memiliki dua sifat—ilahi dan manusiawi—tetapi hanya satu kehendak, yaitu kehendak ilahi yang mengarahkan keseluruhan eksistensi-Nya. Dengan kata lain, kehendak manusia Kristus diserap atau sepenuhnya tunduk pada kehendak ilahi. Ajaran ini dimaksudkan untuk menjembatani ketegangan antara dualisme Chalcedonian dan Monofisitisme, sehingga menjaga persatuan Kristus sebagai satu pribadi tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan atau keilahian.
Dalam praktik teologis, Monotelitisme menekankan kesatuan dan ketaatan Kristus kepada kehendak Allah Bapa, serta menekankan pentingnya rahmat dan keselamatan melalui dominasi kehendak ilahi. Pendekatan ini juga memengaruhi liturgi dan refleksi spiritual, menekankan kepatuhan penuh terhadap kehendak Allah sebagai teladan bagi umat.
Monotelitisme berkembang pada abad ke-7 di Kekaisaran Bizantium sebagai upaya penyatuan gereja-gereja yang terpecah akibat perbedaan doktrin Kristologi. Kaisar Heraklius dan Patriark Sergius dari Konstantinopel mendukung ajaran ini sebagai solusi politik dan teologis untuk meredam konflik antara Chalcedonian dan Monofisit di wilayah timur kekaisaran.
Meskipun awalnya mendapat dukungan politik dan sebagian penerimaan di kalangan gereja, Monotelitisme menghadapi penolakan dari para teolog dan konsili ekumenis. Konsili Konstantinopel III (680–681 M) menolak Monotelitisme secara resmi, menegaskan bahwa Kristus memiliki dua sifat dan dua kehendak yang harmonis, sesuai dengan prinsip Chalcedon. Setelah penolakan ini, ajaran Monotelitisme menyusut menjadi minoritas, tetapi beberapa komunitas tetap mempertahankan doktrin ini secara lokal untuk waktu tertentu, terutama di wilayah yang sulit dijangkau oleh otoritas kekaisaran.
Tokoh utama termasuk Patriark Sergius dari Konstantinopel, yang menjadi pendukung utama Monotelitisme dan berperan dalam mengembangkan doktrin ini untuk menenangkan ketegangan teologis. Kaisar Heraklius juga mendukung gerakan ini sebagai upaya persatuan politik dan religius. Tokoh lainnya termasuk beberapa uskup dan pemimpin gereja timur yang mencoba mempertahankan kesatuan komunitas melalui ajaran Monotelitisme meskipun menghadapi tekanan dari konsili ekumenis.