Dipublikasikan: 2 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 2 Desember 2025
Dipublikasikan: 2 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 2 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Misleading Vividness Fallacy adalah salah satu jenis kesalahan logika di mana seseorang menggunakan contoh atau cerita yang sangat hidup, emosional, atau dramatis untuk membentuk kesan umum yang tidak akurat atau menyesatkan. Fallacy ini sering muncul dalam debat publik, media, iklan, dan argumen sehari-hari, karena contoh yang mencolok cenderung lebih mudah diingat dan memengaruhi persepsi audiens meskipun tidak mewakili keseluruhan fakta. Misalnya, seorang jurnalis yang menekankan satu kasus kecelakaan langka sebagai bukti bahwa sebuah produk berbahaya melakukan Misleading Vividness Fallacy. Kesalahan ini berbahaya karena dapat membuat audiens melebih-lebihkan risiko atau frekuensi kejadian tertentu, sehingga keputusan yang diambil tidak rasional.
Daftar Isi
Misleading Vividness Fallacy, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “Kesalahan Logika Kecerahan Menyesatkan,” adalah kesalahan berpikir yang terjadi ketika contoh yang sangat jelas, emosional, atau dramatis digunakan untuk menyimpulkan tren atau fakta yang lebih luas, padahal contoh tersebut jarang atau tidak representatif. Fallacy ini termasuk dalam kategori informal fallacy, karena menyerang kualitas argumen melalui manipulasi emosional dan visual, bukan kesalahan logika formal.
Ciri khas Misleading Vividness Fallacy meliputi:
Fallacy ini sering muncul dalam:
Secara psikologis, fallacy ini memanfaatkan availability heuristic, yaitu kecenderungan manusia menilai frekuensi atau risiko berdasarkan contoh yang mudah diingat atau menonjol.
Berikut beberapa contoh konkret dari Misleading Vividness Fallacy:
Beberapa strategi untuk mengenali dan menghindari fallacy ini meliputi: