Mikhail Bakunin

Raymond Kelvin Nando — Mikhail Bakunin adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah anarkisme revolusioner dan sosialisme libertarian. Ia dikenal karena kritik tajamnya terhadap otoritas, negara, agama, dan kapitalisme. Bakunin menentang segala bentuk kekuasaan hierarkis dan memperjuangkan kebebasan sejati melalui solidaritas sosial dan pemberontakan kolektif.

Biografi Mikhail Bakunin

Mikhail Aleksandrovich Bakunin lahir pada 30 Mei 1814 di Premukhino, Rusia, dari keluarga bangsawan kecil. Awalnya, ia menempuh pendidikan militer dan menjadi perwira di Angkatan Darat Rusia, tetapi meninggalkan karier itu untuk mengejar filsafat dan politik di Moskwa.

Di Eropa, Bakunin berinteraksi dengan berbagai tokoh radikal, termasuk Karl Marx, Pierre-Joseph Proudhon, dan George Sand. Ia terlibat dalam berbagai gerakan revolusioner di Prancis, Jerman, dan Italia. Aktivismenya membuatnya beberapa kali dipenjara dan diasingkan ke Siberia, dari mana ia akhirnya melarikan diri ke Jepang dan kemudian ke Eropa Barat.

Bakunin menjadi figur utama dalam International Workingmen’s Association (IWA) atau First International, di mana ia berselisih dengan Karl Marx mengenai peran negara dalam revolusi. Ia meninggal dunia pada 1 Juli 1876 di Bern, Swiss.

Konsep-Konsep Utama

Kritik terhadap Negara dan Otoritas

Bagi Bakunin, negara adalah sumber utama perbudakan sosial dan moral. Ia berpendapat bahwa kebebasan sejati tidak bisa dicapai melalui lembaga negara, bahkan negara proletariat sekalipun, karena semua bentuk pemerintahan pada akhirnya menghasilkan tirani.

“If you take the most ardent revolutionary, vest him in absolute power, within a year he will be worse than the Tsar himself.”
(God and the State, 1871)

Bakunin menolak ide Marx tentang “diktator proletariat”, karena menurutnya kekuasaan apa pun akan merusak moralitas manusia dan memperkuat dominasi. Ia memandang bahwa kebebasan hanya dapat diwujudkan melalui penghapusan negara dan pembentukan struktur sosial berdasarkan asosiasi bebas.

Orang lain juga membaca :  Ferdinand de Saussure

Anarkisme Kolektivis

Bakunin mengembangkan gagasan anarkisme kolektivis, yaitu bentuk sosialisme tanpa negara di mana alat produksi dimiliki secara kolektif oleh komunitas pekerja, bukan oleh negara.

“We wish for the abolition of the State, but we wish for the social organization and collective ownership of production.”
(The Revolutionary Catechism, 1866)

Berbeda dengan Proudhon yang menekankan mutualisme dan kepemilikan pribadi terbatas, Bakunin menolak kepemilikan individu atas alat produksi sepenuhnya. Ia percaya bahwa hanya dengan menghapus kepemilikan dan negara, masyarakat bisa mencapai kesetaraan sejati.

Namun, Bakunin juga menolak bentuk komunisme otoriter yang memaksa kolektivitas. Ia menekankan bahwa kebebasan individu adalah dasar setiap hubungan sosial yang sejati.

Kebebasan dan Solidaritas Sosial

Bakunin menegaskan bahwa kebebasan sejati tidak dapat dipisahkan dari solidaritas sosial. Manusia, menurutnya, adalah makhluk sosial yang hanya dapat berkembang dalam hubungan timbal balik dengan orang lain.

“I am truly free only when all human beings around me are equally free.”
(Letters to a Frenchman on the Present Crisis, 1870)

Dengan kata lain, kebebasan individu hanya bisa ada dalam konteks sosial yang bebas dari dominasi. Karena itu, Bakunin menganggap perjuangan untuk kebebasan pribadi dan kolektif sebagai hal yang tak terpisahkan.

Kritik terhadap Agama dan Tuhan

Dalam God and the State (1871), Bakunin menulis salah satu kritik paling tajam terhadap agama dalam sejarah filsafat politik. Baginya, Tuhan adalah simbol dari dominasi dan perbudakan manusia, karena ide tentang Tuhan menempatkan manusia di posisi tunduk.

“If God really existed, it would be necessary to abolish him.”
(God and the State, 1871)

Bakunin menilai bahwa semua sistem kepercayaan yang memuja otoritas ilahi berujung pada penindasan duniawi. Ia melihat ateisme bukan sebagai penolakan spiritualitas, tetapi sebagai pembebasan manusia dari dogma dan hierarki.

Orang lain juga membaca :  Austromarxisme

Revolusi Sosial dan Pemberontakan

Bakunin bukan hanya pemikir, tetapi juga seorang aktivis revolusioner. Ia percaya bahwa transformasi sosial tidak akan datang dari reformasi lembut, tetapi dari pemberontakan rakyat secara spontan dan kolektif.

“The passion for destruction is also a creative passion.”
(The Reaction in Germany, 1842)

Namun, maksudnya bukan kehancuran buta, melainkan kehancuran terhadap struktur kekuasaan yang menindas. Dari kehancuran itulah muncul tatanan sosial baru yang bebas dan adil.

Bagi Bakunin, revolusi sejati harus dilakukan oleh rakyat, bukan oleh elite atau partai politik. Ia menolak segala bentuk hierarki revolusioner karena itu akan menggantikan satu tirani dengan tirani yang lain.

Dalam Konteks Lain

Hubungan dengan Karl Marx

Bakunin dan Marx memiliki tujuan yang sama — keadilan sosial dan pembebasan kelas pekerja — tetapi berbeda dalam metode. Marx percaya pada pengambilalihan kekuasaan negara oleh proletariat, sedangkan Bakunin menolaknya sepenuhnya.

Perselisihan mereka dalam First International berakhir dengan perpecahan besar antara sayap sosialis otoritarian (Marxis) dan sosialis libertarian (anarkis).

“They [the Marxists] say that such a dictatorship is necessary to develop liberty; we say that all dictatorship must end in slavery.”
(Statism and Anarchy, 1873)

Konflik ini menjadi titik awal perbedaan antara komunisme negara dan anarkisme libertarian dalam sejarah gerakan kiri.

Filsafat Manusia dan Kebebasan

Bakunin memiliki pandangan antropologis yang positif tentang manusia. Ia percaya bahwa manusia pada dasarnya baik, dan korupsi moral muncul dari kekuasaan serta struktur dominasi.

“Power corrupts those who wield it, and absolute power corrupts absolutely.”
(God and the State, 1871)

Bagi Bakunin, tatanan sosial yang adil tidak membutuhkan hukum dari atas, karena moralitas sejati lahir dari kesadaran bersama dan tanggung jawab sosial, bukan dari paksaan eksternal.

Orang lain juga membaca :  Hugo Grotius

Kesimpulan

Mikhail Bakunin merupakan salah satu filsuf politik paling radikal dalam sejarah modern. Ia menolak semua bentuk otoritas — negara, agama, kapitalisme — dan menggantinya dengan visi masyarakat yang bebas, egaliter, dan kolektif.

Pemikirannya menjadi dasar bagi anarkisme kolektivis, sosialisme libertarian, dan gerakan anti-otoritarian di seluruh dunia. Bakunin mengajarkan bahwa kebebasan sejati tidak bisa dipaksakan dari atas, tetapi hanya bisa lahir dari bawah — dari rakyat yang sadar dan bersatu dalam solidaritas.

FAQ

Apa perbedaan utama antara Bakunin dan Marx?

Bakunin menolak penggunaan negara dalam revolusi, sementara Marx menganggap negara proletariat sebagai tahap sementara menuju masyarakat tanpa kelas.

Apa makna kebebasan bagi Bakunin?

Kebebasan sejati adalah kebebasan yang bersifat sosial — seseorang hanya benar-benar bebas jika semua orang di sekitarnya juga bebas.

Apa itu anarkisme kolektivis?

Sistem sosial tanpa negara di mana alat produksi dimiliki secara kolektif oleh para pekerja melalui asosiasi sukarela dan desentralisasi kekuasaan.

Referensi

  • Bakunin, M. (1842). The Reaction in Germany: A Fragment from a Frenchman.
  • Bakunin, M. (1866). The Revolutionary Catechism.
  • Bakunin, M. (1870). Letters to a Frenchman on the Present Crisis.
  • Bakunin, M. (1871). God and the State.
  • Bakunin, M. (1873). Statism and Anarchy.
  • Lehning, A. (1973). Michael Bakunin: Selected Writings. London: Jonathan Cape.
  • Dolgoff, S. (1971). Bakunin on Anarchy. New York: Knopf.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Pierre-Joseph Proudhon

Next Article

Rudolf Rocker