Dipublikasikan: 13 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 13 Desember 2025
Dipublikasikan: 13 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 13 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Michel Serres adalah seorang filsuf Prancis kontemporer yang dikenal karena pemikirannya yang lintas disiplin, menggabungkan filsafat, sejarah ilmu pengetahuan, sastra, mitologi, dan refleksi tentang teknologi modern. Ia menempati posisi unik dalam filsafat abad ke-20 dan awal abad ke-21 karena menolak spesialisasi sempit dan justru mengembangkan gaya berpikir ensiklopedis yang berusaha menjembatani ilmu pengetahuan alam, humaniora, dan etika. Pemikiran Serres berpusat pada relasi, komunikasi, dan mediasi, serta upayanya untuk memahami perubahan besar dalam cara manusia hidup, mengetahui, dan berhubungan dengan dunia di era sains dan teknologi.
Daftar Isi
Michel Serres lahir pada 1 September 1930 di Agen, Prancis. Latar belakang awalnya bukanlah filsafat murni, melainkan matematika dan ilmu pengetahuan alam, yang kemudian sangat memengaruhi cara berpikir filosofisnya. Ia menempuh pendidikan di École Navale dan École Normale Supérieure, dua institusi elite Prancis, sebelum akhirnya beralih ke filsafat dan sejarah ilmu pengetahuan. Perpaduan antara disiplin eksakta dan refleksi filosofis menjadi ciri khas karyanya sepanjang hidup.
Serres mengajar di berbagai institusi akademik terkemuka, termasuk Universitas Paris I (Panthéon-Sorbonne) dan Stanford University. Ia juga terpilih sebagai anggota Académie française pada 1990, sebuah pengakuan atas kontribusinya yang luas dalam pemikiran dan kebudayaan Prancis. Selain karya akademik, Serres dikenal sebagai intelektual publik yang menulis dengan gaya esai reflektif, puitis, dan metaforis, menjadikannya dapat diakses oleh khalayak luas di luar lingkungan filsafat profesional. Ia wafat pada 1 Juni 2019, meninggalkan warisan pemikiran yang sangat kaya dan sulit diklasifikasikan dalam satu aliran tertentu.
Inti dari pemikiran Michel Serres adalah gagasan bahwa realitas tidak terutama terdiri dari entitas yang terpisah, melainkan dari relasi, hubungan, dan jalur komunikasi. Ia menolak filsafat yang berfokus pada substansi statis dan menggantikannya dengan pemahaman dinamis tentang dunia sebagai jaringan pertemuan, perlintasan, dan pertukaran. Dalam pandangannya, pengetahuan lahir dari mediasi antara berbagai domain—antara sains dan seni, alam dan budaya, manusia dan teknologi. Serres sering menggunakan metafora “penghubung”, “jembatan”, dan “lintasan” untuk menggambarkan proses ini, menekankan bahwa pemikiran filosofis seharusnya berfungsi sebagai mediator, bukan hakim atau penguasa tunggal kebenaran.
Salah satu simbol sentral dalam filsafat Serres adalah figur Hermes, dewa Yunani pembawa pesan, pelindung para pengelana, dan penghubung antara dunia-dunia yang berbeda. Melalui seri karya Hermes, Serres mengembangkan filsafat komunikasi yang tidak terbatas pada bahasa atau informasi, tetapi mencakup segala bentuk pertukaran: energi, tanda, hukum, dan kekuasaan. Ia menekankan bahwa komunikasi selalu mengandung gangguan, kebisingan, dan ketidakpastian, dan justru dalam kondisi inilah makna muncul. Dengan pendekatan ini, Serres mengkritik model rasionalitas modern yang terlalu menekankan kejernihan, kontrol, dan keteraturan, serta membuka ruang bagi pemahaman pengetahuan yang lebih kompleks dan kontingen.
Serres memberikan kontribusi penting dalam filsafat dan sejarah ilmu pengetahuan dengan menolak narasi kemajuan linear dan dominasi rasionalitas tunggal. Ia menunjukkan bahwa sains modern berkembang melalui konflik, metafora, imajinasi, dan bahkan mitos, bukan semata-mata melalui metode rasional yang steril. Dalam banyak karyanya, Serres memperlihatkan bagaimana sastra, mitologi, dan ilmu pengetahuan saling berkelindan dalam pembentukan pengetahuan manusia. Kritiknya terhadap modernitas tidak bersifat anti-sains, melainkan anti-reduksionisme, yakni penolakan terhadap pandangan yang mengisolasi sains dari konteks kultural, etis, dan ekologis.
Dalam karya The Natural Contract, Serres mengembangkan gagasan radikal tentang hubungan manusia dengan alam. Ia berargumen bahwa modernitas ditandai oleh relasi kekerasan terhadap alam, di mana manusia bertindak sebagai subjek penguasa dan alam sebagai objek eksploitasi. Untuk mengatasi krisis ekologis global, Serres mengusulkan perlunya “kontrak alam”, yakni pengakuan etis dan politis bahwa alam memiliki hak dan harus diperlakukan sebagai mitra, bukan sekadar sumber daya. Gagasan ini mendahului dan memengaruhi diskursus etika lingkungan kontemporer, termasuk refleksi tentang antropogenik, keberlanjutan, dan tanggung jawab ekologis global.
Dalam karya-karya akhirnya, Serres banyak merefleksikan dampak teknologi digital terhadap cara manusia berpikir, belajar, dan membentuk identitas. Ia melihat generasi muda sebagai subjek baru yang hidup dalam lanskap kognitif yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Alih-alih bersikap nostalgis atau pesimistis, Serres menekankan potensi emansipatoris teknologi dalam mendemokratisasi pengetahuan dan merombak struktur otoritas tradisional. Namun, ia juga mengingatkan bahwa perubahan ini menuntut etika baru, cara belajar baru, dan pemahaman ulang tentang relasi antara tubuh, bahasa, dan dunia.