Dipublikasikan: 17 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 18 Oktober 2025
Dipublikasikan: 17 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 18 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Michael Oakeshott adalah seorang filsuf politik dan epistemolog asal Inggris yang dikenal karena pandangannya yang skeptis terhadap rasionalisme dalam politik, serta pembelaannya terhadap tradisi, pengalaman, dan praktik historis sebagai dasar pengetahuan dan kehidupan sosial. Ia sering digolongkan sebagai konservatif filosofis, bukan karena ideologi partikular, tetapi karena sikapnya yang menolak penyederhanaan rasional terhadap kompleksitas kehidupan manusia.
Daftar Isi
Michael Joseph Oakeshott lahir pada 11 Desember 1901 di Chelsfield, Inggris. Ia menempuh pendidikan di St. George’s School dan Gonville and Caius College, Cambridge, di mana ia mempelajari sejarah dan filsafat. Setelah mengajar di Cambridge, ia sempat bertugas di Angkatan Darat Inggris selama Perang Dunia II.
Setelah perang, Oakeshott menjadi dosen di London School of Economics (LSE), menggantikan Harold Laski. Di LSE inilah ia mengembangkan pemikiran politik yang berpengaruh dan sering berseberangan dengan arus dominan rasionalisme dan positivisme pada masa itu.
Karya-karya utamanya antara lain Experience and Its Modes (1933), Rationalism in Politics (1962), dan On Human Conduct (1975). Ia wafat pada 19 Desember 1990 di Acton, Inggris.
Dalam karya awalnya, Experience and Its Modes (1933), Oakeshott membahas bagaimana manusia memahami dunia melalui “modus” pengalaman — yakni cara tertentu dalam memandang realitas, seperti modus ilmiah, historis, atau praktis.
The world is not made up of “facts” waiting to be discovered, but of experiences interpreted within modes of understanding.
(Experience and Its Modes, 1933, hlm. 9)
Baginya, pengalaman tidak bersifat objektif atau netral; ia selalu dimediasi oleh cara pandang tertentu. Ini adalah kritik terhadap positivisme dan rasionalisme yang menganggap pengetahuan bisa bebas nilai.
Oakeshott menegaskan bahwa tidak ada satu “modus” yang superior. Misalnya, cara berpikir ilmiah tidak dapat menggantikan pemahaman historis atau moral, karena masing-masing memiliki logika dan tujuan sendiri.
Gagasan paling terkenal Oakeshott termuat dalam esainya Rationalism in Politics (1962). Di sini ia mengkritik apa yang disebutnya sebagai rasionalisme politik, yakni keyakinan bahwa masyarakat dan pemerintahan dapat direkayasa berdasarkan prinsip-prinsip rasional yang abstrak.
Rationalism in politics is the belief in the sovereignty of technique over tradition, of deliberate design over inherited knowledge.
(Rationalism in Politics, 1962, hlm. 6)
Menurut Oakeshott, rasionalis menganggap bahwa manusia dapat menciptakan tatanan sosial sempurna melalui teori atau sistem. Namun bagi Oakeshott, kehidupan politik tidak dapat dipahami seperti mesin yang bisa dirakit berdasarkan cetak biru rasional.
Politics is the art of attending to arrangements that already exist, not the pursuit of ideals that never were.
(Rationalism in Politics, 1962, hlm. 17)
Ia menilai bahwa kebijaksanaan politik lebih bersifat praktis dan historis, bukan teoretis. Pemahaman politik tumbuh dari pengalaman panjang suatu masyarakat — dari kebiasaan, adat, dan institusi yang telah teruji oleh waktu.
Karena itu, Oakeshott menentang revolusi sosial dan politik yang mencoba menghapus masa lalu demi “rasionalitas baru”. Ia menekankan pentingnya tradisi sebagai bentuk pengetahuan sosial yang terakumulasi, meskipun tidak selalu rasional secara sistematis.
Oakeshott menolak label “konservatif” dalam arti ideologis. Dalam pandangannya, konservatisme bukanlah seperangkat doktrin, melainkan cara memandang kehidupan — suatu sikap untuk menghargai apa yang ada, bukan mengejar kesempurnaan utopis.
To be conservative is to prefer the familiar to the unknown, the tried to the untried, fact to mystery, the actual to the possible.
(On Being Conservative, 1956, hlm. 168)
Menurutnya, manusia hidup dalam keterbatasan, dan upaya menghapus seluruh kekacauan melalui sistem ideal justru membawa bahaya tirani. Dengan demikian, konservatisme bukan anti-perubahan, tetapi menolak perubahan yang tidak tumbuh secara alami dari pengalaman kolektif.
Dalam On Human Conduct (1975), Oakeshott membedakan antara dua bentuk asosiasi politik:
The state is not an enterprise with a common goal, but a civil association under rules enabling each to pursue his own ends.
(On Human Conduct, 1975, hlm. 114)
Oakeshott berpihak pada model asosiasi sipil. Ia menolak negara yang berperan sebagai pengatur moral atau sosial secara aktif, karena hal itu mengekang kebebasan individu.
Negara yang baik, baginya, adalah yang menjaga kerangka hukum dan tatanan tanpa memaksakan tujuan tertentu kepada warga negara.
Michael Oakeshott menawarkan filsafat politik yang menentang penyederhanaan rasional terhadap kompleksitas kehidupan manusia. Ia menolak gagasan bahwa teori atau sistem dapat sepenuhnya menggantikan kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman dan tradisi.
Pemikirannya menekankan pentingnya tradisi, kebiasaan, dan sejarah sebagai sumber pengetahuan praktis — bukan dogma yang beku, tetapi warisan hidup yang memberi arah bagi kehidupan sosial. Dalam dunia modern yang sering dikuasai oleh ideologi dan rekayasa sosial, Oakeshott mengingatkan kita untuk lebih menghargai realitas yang ada, bukan hanya cita-cita yang belum tentu dapat diwujudkan.
Itu adalah keyakinan bahwa politik dapat dikelola sepenuhnya berdasarkan prinsip rasional dan teori, yang menurut Oakeshott justru mengabaikan kebijaksanaan praktis dari tradisi dan pengalaman.
Karena ia menekankan pentingnya menghargai tradisi, kontinuitas, dan pengalaman historis, serta menolak perubahan sosial yang radikal dan spekulatif.
Asosiasi sipil memungkinkan individu bebas menentukan tujuannya dalam kerangka hukum umum, sedangkan asosiasi perusahaan memaksakan tujuan kolektif tertentu kepada semua anggotanya.