Raymond Kelvin Nando — Max Scheler adalah seorang filsuf Jerman yang dikenal sebagai tokoh penting dalam perkembangan fenomenologi nilai (axiology phenomenology) dan filsafat moral modern. Ia menggabungkan metode fenomenologi Edmund Husserl dengan pendekatan etika dan antropologi yang berakar pada spiritualitas dan humanisme. Melalui karya-karyanya, Scheler menekankan bahwa nilai-nilai moral dan spiritual memiliki keberadaan objektif yang dapat dialami melalui intuisi emosional (Gefühlsintuition).
Daftar Isi
Biografi Max Scheler
Max Scheler lahir pada 22 Agustus 1874 di Munich, Jerman, dari keluarga campuran Yahudi dan Katolik. Ia belajar di Universitas Munich, Berlin, dan Jena di bawah bimbingan Rudolf Eucken dan Wilhelm Dilthey, yang memperkenalkannya pada filsafat hidup (Lebensphilosophie). Namun, pertemuannya dengan fenomenologi Husserl di awal abad ke-20 menjadi titik balik dalam pemikiran filosofisnya.
Scheler memulai karier akademiknya sebagai dosen di Universitas Jena dan kemudian di Göttingen. Pada masa ini ia menulis karya penting seperti Der Formalismus in der Ethik und die materiale Wertethik (1913–1916), yang menjadi landasan bagi etika material nilai. Berbeda dari Kant, Scheler menolak etika formal yang kaku dan berpendapat bahwa nilai-nilai moral tidak ditentukan oleh rasio, melainkan ditangkap melalui intuisi emosional.
Selama Perang Dunia I, Scheler menulis tentang nilai-nilai solidaritas dan cinta kemanusiaan, namun setelah perang ia semakin mengarahkan pemikirannya ke arah antropologi filosofis dan teologi fenomenologis. Ia kemudian berpindah dari Katolik menuju pandangan spiritual universal.
Scheler meninggal pada 19 Mei 1928 di Frankfurt am Main pada usia 53 tahun, meninggalkan warisan filosofis yang berpengaruh pada tokoh-tokoh seperti Martin Heidegger, Dietrich von Hildebrand, dan Karol Wojtyła (Paus Yohanes Paulus II).
Konsep-Konsep Utama
Materielle Wertethik (Etika Material Nilai)
Konsep utama dalam pemikiran Scheler adalah Materielle Wertethik, yaitu etika yang didasarkan pada nilai-nilai material yang objektif dan dapat dialami secara fenomenologis.
Werte sind unabhängig von den Dingen, die sie tragen, und von den Akten, durch die sie erkannt werden. (Der Formalismus in der Ethik, 1916, hlm. 20)
Nilai-nilai bersifat independen dari benda yang memuatnya maupun dari tindakan yang mengenalinya.
Scheler menolak pandangan Kant bahwa moralitas bersumber dari hukum rasional universal (imperatif kategoris). Baginya, nilai moral tidak dihasilkan oleh rasio, tetapi ditemukan oleh hati yang sensitif terhadap hierarki nilai. Ia memperkenalkan intuisi emosional (Gefühlsintuition) sebagai cara manusia menangkap nilai-nilai moral, estetika, dan spiritual.
Dalam struktur nilai-nilainya, Scheler membedakan lima tingkatan hierarki:
- Nilai kenikmatan (Wert des Angenehmen)
- Nilai vital (Lebenswerte)
- Nilai spiritual (Geistige Werte) — meliputi kebenaran, keindahan, dan keadilan
- Nilai kesucian (Heilige Werte)
- Nilai pribadi dan cinta (Personwerte)
Semakin tinggi nilai, semakin universal dan abadi sifatnya. Oleh karena itu, tindakan moral sejati tidak berasal dari ketaatan terhadap hukum formal, tetapi dari ordo amoris, yaitu tatanan cinta yang benar terhadap nilai-nilai tertinggi.
Ordo Amoris (Tatanan Cinta)
Konsep ordo amoris adalah inti dari pemikiran etika Scheler. Ia menegaskan bahwa struktur cinta seseorang menentukan pandangan moral dan spiritualnya terhadap dunia.
Im Ordo amoris eines Menschen offenbart sich sein eigentliches Wesen. (Der Formalismus in der Ethik, 1916, hlm. 261)
Dalam tatanan cinta seseorang terungkap hakikat dirinya yang sejati.
Menurut Scheler, cinta bukan sekadar emosi, tetapi tindakan dinamis yang membuka manusia pada nilai-nilai yang lebih tinggi. Melalui cinta, manusia naik dari nilai-nilai rendah (kenikmatan, utilitas) menuju nilai-nilai spiritual dan ilahi.
Cinta sejati tidak menilai berdasarkan kegunaan, melainkan melihat nilai intrinsik yang melekat pada pribadi dan dunia. Dengan demikian, ordo amoris adalah struktur batin yang memandu bagaimana manusia menilai, memilih, dan bertindak.
Cinta juga memiliki kekuatan kognitif — ia memperluas wawasan moral dan menyingkap realitas nilai yang tak dapat dijangkau oleh akal semata.
Person und Geist (Pribadi dan Roh)
Dalam filsafat antropologinya, Scheler memandang manusia sebagai makhluk pribadi (Person), bukan sekadar organisme biologis atau rasional.
Der Mensch ist ein ens amans, ein liebendes Wesen. (Die Stellung des Menschen im Kosmos, 1928, hlm. 8)
Manusia adalah ens amans — makhluk yang mencinta.
Manusia bukan hanya makhluk berpikir (ens cogitans seperti Descartes), melainkan makhluk yang mencintai, yang melalui cinta dan nilai-nilai rohani mengatasi determinasi biologisnya. Jiwa manusia bersifat terbuka terhadap nilai-nilai universal, sementara tubuh dan naluri terikat pada dunia alamiah.
Dengan demikian, Scheler menegaskan keunggulan roh (Geist) dalam diri manusia — bukan dalam arti rasionalisme, tetapi sebagai dimensi spiritual yang memungkinkan manusia memahami makna, moralitas, dan keilahian.
Dalam Konteks Lain
Fenomenologi dan Etika
Scheler memperluas metode fenomenologi Husserl dari analisis kesadaran menuju analisis nilai dan emosi moral. Ia menunjukkan bahwa pengalaman nilai bersifat intensional, sama seperti persepsi objek, namun tidak dapat direduksi pada sensasi atau konsep rasional.
Das Fühlen ist eine Art des Erkennens. (Der Formalismus in der Ethik, 1916, hlm. 65)
Merasa adalah suatu bentuk pengetahuan.
Dengan pendekatan ini, Scheler membuka jalan bagi fenomenologi etis, yang kemudian dikembangkan oleh Edith Stein, Emmanuel Levinas, dan Karol Wojtyła.
Bagi Scheler, moralitas tidak berasal dari perintah luar, tetapi dari pengalaman langsung terhadap nilai-nilai moral yang dihayati dalam perasaan cinta, simpati, dan empati.
Antropologi Filosofis
Dalam karya terakhirnya, Die Stellung des Menschen im Kosmos (1928), Scheler mengembangkan pandangan antropologis bahwa manusia menempati posisi unik di kosmos karena kemampuannya menjadi sadar akan nilai dan melampaui dunia instingtif.
Manusia bukan sekadar hasil evolusi biologis, melainkan makhluk spiritual yang sadar akan dirinya dan tujuan eksistensialnya. Pemikiran ini memengaruhi banyak tokoh, termasuk Helmuth Plessner dan Arnold Gehlen, dalam pengembangan antropologi filosofis Jerman.
Kesimpulan
Max Scheler menempatkan nilai, cinta, dan pribadi manusia di pusat refleksi filosofisnya. Ia memperlihatkan bahwa moralitas tidak dapat direduksi pada rasionalitas formal, melainkan berakar pada pengalaman langsung terhadap hierarki nilai yang dihayati melalui cinta dan emosi moral.
Dengan konsep Materielle Wertethik, Ordo Amoris, dan Person und Geist, Scheler menciptakan sintesis unik antara fenomenologi, etika, dan spiritualitas, yang menjadikannya salah satu filsuf moral paling berpengaruh abad ke-20.
Frequently Asked Questions (FAQ)
Apa yang dimaksud dengan etika material nilai?
Etika material nilai adalah teori Scheler tentang moralitas yang didasarkan pada nilai-nilai objektif yang dapat dialami melalui intuisi emosional, bukan melalui hukum rasional formal.
Apa arti ordo amoris dalam pemikiran Scheler?
Ordo amoris adalah tatanan cinta batin yang menentukan bagaimana seseorang menghayati dan menilai nilai-nilai; ia menyingkap hakikat moral seseorang.
Bagaimana pandangan Scheler tentang manusia?
Scheler memandang manusia sebagai ens amans — makhluk yang mencinta — yang melampaui dunia biologis melalui roh dan nilai-nilai spiritual.
Referensi
- Scheler, M. (1913–1916). Der Formalismus in der Ethik und die materiale Wertethik. Halle: Niemeyer.
- Scheler, M. (1928). Die Stellung des Menschen im Kosmos. Darmstadt: Reichl.
- Scheler, M. (1923). Vom Ewigen im Menschen. Leipzig: Der Neue Geist.
- Frings, M. S. (1995). Max Scheler: A Concise Introduction into the World of a Great Thinker. Pittsburgh: Duquesne University Press.
- Kelly, E. (1977). Material Ethics of Value: Max Scheler and Nicolai Hartmann. New York: Springer.
- Spader, P. (2002). Scheler’s Ethical Personalism. New York: Fordham University Press.