Maurice Merleau-Ponty

Raymond Kelvin Nando — Maurice Merleau-Ponty adalah seorang filsuf Prancis yang dikenal sebagai tokoh utama fenomenologi eksistensial dan salah satu pemikir yang paling berpengaruh dalam tradisi filsafat Eropa abad ke-20. Ia berupaya memahami hubungan antara tubuh, kesadaran, dan dunia, dengan menolak dualisme klasik antara subjek dan objek. Melalui karya monumentalnya Phénoménologie de la perception (Fenomenologi Persepsi, 1945), Merleau-Ponty menegaskan bahwa kesadaran selalu berinkarnasi dalam tubuh, dan bahwa pengalaman manusia terhadap dunia bersifat pra-reflektif, embodied, dan intersubjektif.

Biografi Maurice Merleau-Ponty

Maurice Merleau-Ponty lahir pada 14 Maret 1908 di Rochefort-sur-Mer, Prancis. Ia menempuh pendidikan di École Normale Supérieure di Paris, di mana ia berteman dekat dengan Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Di bawah pengaruh Edmund Husserl dan Martin Heidegger, Merleau-Ponty mulai mengembangkan pendekatan fenomenologis yang menekankan pengalaman konkret manusia dalam dunia.

Pada tahun 1942, ia menerbitkan karya pertamanya La Structure du comportement (Struktur Perilaku), yang mencoba menolak pandangan mekanistik tentang manusia. Namun karya besarnya adalah Phénoménologie de la perception (1945), di mana ia mengajukan gagasan bahwa tubuh bukanlah objek pasif, melainkan subjek yang mengetahui dan merasakan dunia.

Merleau-Ponty juga aktif dalam bidang politik dan jurnalistik, menjadi salah satu pendiri majalah Les Temps Modernes bersama Sartre. Namun, perbedaan pandangan filosofis dan politis menyebabkan mereka berpisah. Ia kemudian mengajar di Sorbonne dan Collège de France hingga wafat mendadak pada tahun 1961.

Orang lain juga membaca :  George Berkeley

Pemikiran Merleau-Ponty menandai peralihan penting dari fenomenologi idealis Husserl menuju fenomenologi eksistensial yang menekankan tubuh, persepsi, dan intersubjektivitas sebagai dasar kesadaran manusia.

Konsep-Konsep Utama

Le corps propre (Tubuh sebagai Subjek)

Konsep paling penting dalam filsafat Merleau-Ponty adalah le corps propre, yaitu tubuh yang dialami dari dalam sebagai pusat kesadaran dan tindakan, bukan sekadar benda fisik.

Le corps n’est pas dans l’espace; il habite l’espace. (Phénoménologie de la perception, 1945, hlm. 171)

Tubuh bukan berada di dalam ruang; ia mendiami ruang.

Merleau-Ponty menolak pandangan Cartesian yang memisahkan tubuh (res extensa) dan pikiran (res cogitans). Baginya, kesadaran tidak mungkin dipahami tanpa tubuh, karena melalui tubuhlah manusia berhubungan dengan dunia.

Tubuh bukan alat yang digunakan oleh pikiran, melainkan cara keberadaan manusia di dunia. Dalam tindakan sehari-hari seperti berjalan, berbicara, atau melihat, manusia tidak perlu “memikirkan” tubuhnya — karena tubuh sudah mengetahui dunia secara langsung melalui kebiasaan dan persepsi.

Dengan demikian, tubuh memiliki inteligensi praktis yang tidak dapat direduksi pada kesadaran reflektif. Tubuh adalah “subjek yang hidup”, bukan sekadar objek biologis.

La perception (Persepsi)

Dalam filsafat Merleau-Ponty, persepsi adalah dasar seluruh pengetahuan. Ia menolak pandangan empirisisme yang melihat persepsi sebagai sekadar hasil sensasi pasif, maupun rasionalisme yang menilainya sebagai konstruksi intelektual. Persepsi, baginya, adalah cara manusia berada di dunia secara langsung dan bermakna.

Toute conscience est conscience perceptive. (Phénoménologie de la perception, 1945, hlm. 211)

Setiap kesadaran adalah kesadaran perseptif.

Artinya, sebelum berpikir atau menafsirkan dunia, manusia sudah terlebih dahulu mengalami dunia secara pra-reflektif melalui persepsi. Persepsi bukan hasil interpretasi, melainkan pengalaman asli tentang kehadiran dunia sebagaimana ditangkap oleh tubuh.

Orang lain juga membaca :  Benjamin Constant

Merleau-Ponty menegaskan bahwa persepsi tidak netral — ia selalu terikat pada perspektif tubuh yang spesifik, pada situasi dan arah pandang tertentu. Karena itu, tidak ada pengetahuan murni yang terlepas dari tubuh dan dunia.

Intersubjectivité (Intersubjektivitas)

Merleau-Ponty juga mengembangkan konsep intersubjektivitas, yaitu pemahaman bahwa keberadaan manusia selalu bersifat bersama dengan orang lain. Ia menolak gagasan bahwa subjek terisolasi, dan sebaliknya menunjukkan bahwa diri dan orang lain saling mengungkap melalui tubuh.

Autrui est un autre moi-même. (Phénoménologie de la perception, 1945, hlm. 412)

Yang lain adalah diriku yang lain.

Melalui ekspresi tubuh — gerak, tatapan, bahasa — manusia mengenali kesadaran orang lain tanpa perlu inferensi intelektual. Hubungan antarpribadi bukan hasil konstruksi rasional, tetapi pengalaman langsung dalam dunia yang sama.

Dengan konsep ini, Merleau-Ponty menolak solipsisme fenomenologis dan menunjukkan bahwa kesadaran manusia selalu berakar pada keterbukaan terhadap orang lain.

Dalam Konteks Lain

Fenomenologi dan Eksistensialisme

Pemikiran Merleau-Ponty berdiri di antara fenomenologi Husserl dan eksistensialisme Sartre. Namun, ia menolak idealisme Husserl yang menekankan kesadaran murni, sekaligus mengkritik Sartre yang terlalu menekankan kebebasan radikal.

Nous sommes dans le monde par notre corps, et nous percevons le monde avec notre corps. (Phénoménologie de la perception, 1945, hlm. 239)

Kita berada di dunia melalui tubuh kita, dan kita mempersepsi dunia dengan tubuh kita.

Bagi Merleau-Ponty, eksistensi manusia adalah perwujudan yang berakar dalam tubuh dan dunia. Ia memandang kebebasan bukan sebagai kebebasan absolut, tetapi kebebasan yang terkondisi oleh situasi tubuh, sejarah, dan dunia bersama.

Dengan demikian, filsafatnya menekankan kehadiran konkret manusia di dunia, bukan kesadaran abstrak atau metafisika ideal.

Orang lain juga membaca :  Justus Lipsius

Bahasa dan Seni

Dalam karya-karya terakhirnya, seperti Le Visible et l’invisible (1964), Merleau-Ponty semakin menekankan bahasa, seni, dan persepsi estetis sebagai cara khas manusia menyingkap dunia.

Bahasa, menurutnya, bukan hanya alat komunikasi, tetapi tindakan tubuh yang mengungkap makna dunia. Ia juga memandang seni, terutama lukisan Cézanne, sebagai contoh konkret bagaimana persepsi dan ekspresi saling menyatu dalam pengalaman dunia yang hidup.

Pemikirannya memberi pengaruh besar pada estetika modern, teori seni, psikologi persepsi, dan ilmu kognitif.

Kesimpulan

Maurice Merleau-Ponty adalah salah satu filsuf paling penting dalam tradisi fenomenologi eksistensial. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak dapat dipahami terpisah dari tubuh dan dunia, karena melalui tubuhlah kesadaran berhubungan dengan realitas.

Dengan konsep le corps propre, la perception, dan intersubjectivité, Merleau-Ponty menegaskan bahwa pengalaman manusia bersifat inkarnatif, relasional, dan terbuka terhadap dunia. Pemikirannya terus memengaruhi filsafat kontemporer, psikologi, estetika, dan bahkan ilmu saraf modern.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Apa arti le corps propre dalam filsafat Merleau-Ponty?

Le corps propre berarti tubuh sebagai subjek yang sadar, bukan sekadar benda; tubuh adalah cara manusia berada di dunia.

Mengapa persepsi dianggap dasar pengetahuan?

Karena persepsi adalah pengalaman langsung terhadap dunia sebelum refleksi atau penalaran; semua kesadaran berakar dalam persepsi.

Apa itu intersubjektivitas menurut Merleau-Ponty?

Intersubjektivitas adalah relasi langsung antara diri dan orang lain melalui tubuh; kesadaran selalu terbuka terhadap keberadaan orang lain.

Referensi

  • Merleau-Ponty, M. (1945). Phénoménologie de la perception. Paris: Gallimard.
  • Merleau-Ponty, M. (1964). Le Visible et l’invisible. Paris: Gallimard.
  • Merleau-Ponty, M. (1942). La Structure du comportement. Paris: Alcan.
  • Dreyfus, H. L., & Wrathall, M. (Eds.). (2006). A Companion to Phenomenology and Existentialism. Oxford: Blackwell.
  • Carman, T. (2008). Merleau-Ponty. London: Routledge.
  • Landes, D. A. (2013). The Merleau-Ponty Dictionary. London: Bloomsbury.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Maurice Blondel

Next Article

Max Horkheimer