Dipublikasikan: 1 November 2025
Terakhir diperbarui: 1 November 2025
Dipublikasikan: 1 November 2025
Terakhir diperbarui: 1 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Materialisme Historis merupakan kerangka teori yang dikembangkan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, yang menekankan bahwa perubahan sosial, politik, dan budaya ditentukan oleh kondisi material masyarakat, khususnya cara produksi dan hubungan ekonomi, bukan oleh ide atau moral semata. Teori ini melihat sejarah manusia sebagai proses dialektis yang berkembang melalui kontradiksi internal dalam sistem produksi, di mana konflik sosial dan perjuangan kelas menjadi motor perubahan. Materialisme Historis menjadi dasar bagi analisis kritis Marxis terhadap kapitalisme, feodalisme, dan berbagai bentuk ketimpangan sosial di sepanjang sejarah.
Daftar Isi
Materialisme Historis dapat didefinisikan sebagai pendekatan ilmiah untuk memahami sejarah manusia dan perkembangan masyarakat, yang menekankan bahwa struktur ekonomi mendasari semua aspek kehidupan sosial, termasuk hukum, politik, ideologi, dan budaya.
“It is not the consciousness of men that determines their existence, but their social existence that determines their consciousness.”
— Karl Marx, Preface to A Contribution to the Critique of Political Economy (1859), p. 1
Dengan kerangka ini, ide dan budaya dianggap sebagai refleksi dari kondisi material masyarakat, sehingga perubahan sosial sejati hanya dapat terjadi melalui transformasi struktur ekonomi dan hubungan produksi.
Materialisme Historis menekankan bahwa struktur ekonomi membentuk semua institusi sosial, hukum, dan politik, sehingga perubahan dalam sistem produksi secara langsung memengaruhi norma, hukum, dan kebijakan yang berlaku.
“The mode of production of material life conditions the social, political, and intellectual life process in general.”
— Karl Marx, A Contribution to the Critique of Political Economy (1859), p. 21
Perubahan dalam basis ekonomi memicu evolusi institusi dan struktur sosial, baik melalui reformasi maupun konflik revolusioner.
Konflik antara kelompok-kelompok sosial yang memiliki kepentingan ekonomi berbeda merupakan faktor utama yang mendorong transformasi masyarakat.
“The history of all hitherto existing society is the history of class struggles.”
— Karl Marx & Friedrich Engels, The Communist Manifesto (1848), p. 14
Pertentangan antara pihak yang menguasai alat produksi dan mereka yang bekerja untuknya menghasilkan tekanan struktural yang memaksa perubahan sosial dan politik.
Materialisme Historis memandang perkembangan masyarakat sebagai proses dialektis, di mana kontradiksi dalam sistem ekonomi menghasilkan ketegangan yang memicu perubahan kualitas sosial.
“Social progress is the result of the conflict of forces within society, leading to qualitative transformations.”
— Friedrich Engels, Anti-Dühring (1878), p. 57
Konflik ini bukan sekadar pertentangan individu, melainkan pergeseran sistemik yang menghasilkan perubahan besar, misalnya transisi dari feodalisme ke kapitalisme.
Kesadaran manusia, norma sosial, dan sistem nilai terbentuk oleh kondisi material dan hubungan produksi, sehingga ideologi yang dominan mencerminkan kepentingan kelas penguasa.
“Men make their own history, but they do not make it as they please; they do not make it under self-selected circumstances.”
— Karl Marx, The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte (1852), p. 13
Ini menunjukkan bahwa kebebasan berpikir dan bertindak individu selalu berada dalam batasan yang ditentukan oleh struktur sosial-ekonomi yang ada.
Materialisme Historis menekankan bahwa perubahan dalam teknologi, metode produksi, dan distribusi sumber daya berperan penting dalam memengaruhi pola sosial, hirarki kelas, dan organisasi politik.
“The development of the productive forces is the fundamental factor in social evolution; all other changes follow from it.”
— Karl Marx & Friedrich Engels, The German Ideology (1846), p. 36
Transformasi ekonomi memicu adaptasi dalam norma sosial dan budaya, menciptakan masyarakat yang terus berkembang seiring waktu.
Materialisme historis menekankan faktor ekonomi dan kondisi material sebagai penentu utama sejarah, sedangkan idealisme sejarah menekankan ide, moral, atau kesadaran manusia sebagai faktor dominan dalam perubahan sosial.
Revolusi muncul dari kontradiksi dalam sistem produksi dan pertentangan kepentingan antara kelas penguasa dan kelas pekerja, yang memuncak dalam perubahan struktural masyarakat.
Prinsip ini tetap relevan untuk menganalisis ketimpangan ekonomi, konflik sosial, globalisasi, dan dinamika politik modern, serta digunakan dalam kajian kritis terhadap kapitalisme dan pembangunan sosial.