Raymond Kelvin Nando — Martin Buber adalah seorang filsuf Yahudi asal Austria yang dikenal sebagai pelopor filsafat dialogis (philosophy of dialogue) dan tokoh penting dalam eksistensialisme religius abad ke-20. Pemikirannya berfokus pada relasi eksistensial antara manusia dengan manusia lain, dan antara manusia dengan Tuhan. Melalui karyanya yang monumental, Ich und Du (Aku dan Engkau), Buber memperkenalkan struktur dasar eksistensi manusia dalam dua bentuk relasi: Aku–Engkau (Ich–Du) dan Aku–Itu (Ich–Es), yang menggambarkan dua cara manusia berhubungan dengan dunia — sebagai kehadiran dialogis atau sebagai objek yang dikuasai.
Daftar Isi
Biografi Martin Buber
Martin Buber lahir pada tahun 1878 di Wina, Austria, dalam keluarga Yahudi yang terdidik dan religius. Masa kecilnya banyak dihabiskan di rumah kakeknya di Lemberg (kini Lviv, Ukraina), seorang sarjana Talmud terkemuka. Di sana, Buber mendapat pendidikan awal dalam tradisi Yahudi dan mistisisme Hasidisme, yang kemudian membentuk fondasi spiritual dalam filsafatnya.
Ia belajar filsafat, filologi, dan sejarah seni di Universitas Wina, Leipzig, dan Zürich. Pada awal kariernya, Buber banyak terpengaruh oleh Nietzsche dan Dilthey, serta menunjukkan ketertarikan terhadap mistisisme Yahudi. Tahun 1900-an awal, ia aktif dalam gerakan Zionisme, tetapi kemudian meninggalkan politik praktis demi fokus pada dimensi spiritual kehidupan Yahudi.
Selama Perang Dunia I, Buber menulis dan mengajar di Frankfurt, mengembangkan gagasan bahwa hubungan dialogis merupakan inti eksistensi manusia. Karya puncaknya, Ich und Du, diterbitkan tahun 1923 dan menjadi tonggak dalam filsafat relasional. Setelah naiknya rezim Nazi, ia diasingkan ke Yerusalem pada 1938 dan menjadi profesor di Universitas Ibrani. Ia wafat pada tahun 1965, meninggalkan warisan pemikiran yang sangat berpengaruh dalam teologi, etika, dan pendidikan humanistik.
Konsep-Konsep Utama
Ich–Du (Aku–Engkau)
Konsep paling fundamental dalam filsafat Buber adalah pembedaan antara dua bentuk hubungan manusia dengan dunia: Ich–Du (Aku–Engkau) dan Ich–Es (Aku–Itu). Relasi Ich–Du menggambarkan perjumpaan langsung, dialogis, dan penuh kehadiran antara dua eksistensi yang saling menghormati dan mengakui.
Der Mensch wird am Du zum Ich. (Ich und Du, 1923, hlm. 62)
Manusia menjadi “Aku” melalui “Engkau.”
Menurut Buber, eksistensi manusia tidak ditentukan oleh kesadaran individu semata, tetapi oleh relasi autentik dengan yang lain. Dalam hubungan Aku–Engkau, tidak ada objektifikasi — yang lain tidak dilihat sebagai benda, melainkan sebagai pribadi yang hadir dalam keterbukaan dan timbal balik.
Hubungan ini bersifat sakral karena membuka jalan bagi perjumpaan dengan Tuhan, yang bagi Buber adalah “Engkau yang kekal” (das ewige Du). Dengan demikian, seluruh kehidupan dialogis manusia adalah refleksi dari dialog ilahi yang terus berlangsung antara Tuhan dan ciptaan-Nya.
Ich–Es (Aku–Itu)
Sebaliknya, relasi Ich–Es menggambarkan cara manusia berhubungan dengan dunia secara objektif dan instrumental, di mana sesuatu diperlakukan sebagai benda atau alat untuk kepentingan diri.
Without It man cannot live. But whoever lives only with It is not a man. (Ich und Du, 1923, hlm. 85)
Tanpa “Itu”, manusia tidak dapat hidup. Tetapi siapa pun yang hanya hidup dengan “Itu” bukanlah manusia.
Relasi Aku–Itu diperlukan dalam kehidupan praktis — ilmu, teknologi, dan pekerjaan bergantung padanya — namun menjadi berbahaya bila manusia kehilangan kemampuan untuk membangun hubungan Aku–Engkau. Dunia modern, menurut Buber, cenderung jatuh ke dalam krisis spiritual karena mengobjektifikasi manusia dan alam, mengubah relasi menjadi transaksi tanpa kehadiran sejati.
Dengan membedakan dua modus ini, Buber ingin memulihkan dimensi personal dan sakral dalam eksistensi, di mana kehidupan sejati ditemukan dalam dialog, bukan dalam dominasi.
Das Ewige Du (Engkau yang Kekal)
Hubungan tertinggi dalam struktur eksistensi manusia adalah perjumpaan dengan Tuhan sebagai Engkau yang kekal. Dalam setiap relasi Aku–Engkau yang sejati, manusia sebenarnya berhadapan dengan Tuhan yang hadir di balik setiap “Engkau” yang temporal.
Every particular Thou is a glimpse of the eternal Thou. (Ich und Du, 1923, hlm. 115)
Setiap “Engkau” yang partikular adalah sekilas dari “Engkau” yang kekal.
Bagi Buber, Tuhan bukanlah objek pengetahuan, tetapi Pribadi yang dihadapi dalam keheningan dialog. Relasi ini bukan hasil spekulasi teologis, melainkan pengalaman eksistensial — suatu perjumpaan yang mengubah diri. Dengan demikian, religiositas sejati bagi Buber bukan ritual atau dogma, melainkan dialog langsung dengan realitas ilahi yang hidup.
Dalam Konteks Lain
Etika dan Filsafat Dialog
Pemikiran Buber memberi dasar bagi etika relasional, di mana moralitas muncul dari perjumpaan antarmanusia. Dalam hubungan Aku–Engkau, manusia menemukan tanggung jawab dan kebajikan melalui pengakuan terhadap martabat yang lain.
In the beginning is the relation. (Ich und Du, 1923, hlm. 69)
Pada awalnya adalah relasi.
Etika Buber tidak bersifat legalistik, tetapi eksistensial dan dialogis: kebaikan bukanlah perintah eksternal, melainkan sesuatu yang muncul dari kehadiran sejati antara Aku dan Engkau. Gagasan ini kemudian memengaruhi pemikir seperti Emmanuel Levinas dan Gabriel Marcel, serta menjadi dasar bagi teologi relasional modern dan psikologi eksistensial.
Eksistensialisme Religius
Buber sering dikaitkan dengan eksistensialisme, tetapi posisinya berbeda dari Sartre atau Heidegger. Ia menolak solipsisme eksistensial dan menegaskan bahwa eksistensi manusia selalu bersifat relasional.
Eksistensi sejati bukan berada “sendiri dalam dunia”, tetapi berada bersama dan untuk yang lain. Hubungan dengan Tuhan — “Engkau yang kekal” — memberi makna dan arah bagi seluruh eksistensi. Bagi Buber, keberadaan manusia adalah dialog, dan melalui dialog itu ia menemukan makna keberadaannya di hadapan Tuhan.
Kesimpulan
Martin Buber menghadirkan paradigma baru dalam filsafat modern: eksistensi sebagai dialog. Ia menolak pandangan individualistik dan objektivistik, menggantinya dengan visi bahwa kehidupan manusia hanya memiliki makna dalam relasi yang tulus dan dialogis dengan sesama dan dengan Tuhan.
Melalui Ich–Du, Ich–Es, dan Das Ewige Du, Buber menunjukkan bahwa dialog adalah bentuk tertinggi kehadiran eksistensial, di mana cinta, tanggung jawab, dan kehadiran sejati menyatu dalam satu pengalaman religius yang hidup.
Frequently Asked Questions (FAQ)
Apa makna utama dari konsep Ich–Du?
Ich–Du adalah hubungan dialogis antara dua pribadi yang saling hadir dan menghormati tanpa objektifikasi, membuka jalan bagi perjumpaan dengan Tuhan.
Mengapa Buber menolak hubungan Ich–Es sebagai dasar kehidupan?
Karena Ich–Es menjadikan yang lain sebagai objek, bukan pribadi. Hidup yang hanya didasarkan pada relasi semacam itu kehilangan makna spiritual dan kemanusiaan.
Apa yang dimaksud dengan Das Ewige Du?
Das Ewige Du adalah Tuhan sebagai Engkau yang kekal, yang hadir dalam setiap hubungan Aku–Engkau yang sejati.
Referensi
- Buber, M. (1923). Ich und Du. Leipzig: Insel Verlag.
- Buber, M. (1951). Between Man and Man. London: Routledge.
- Friedman, M. (1955). Martin Buber: The Life of Dialogue. Chicago: University of Chicago Press.
- Mendes-Flohr, P. (2002). Martin Buber: A Life of Faith and Dissent. New Haven: Yale University Press.
- Zank, M. (2014). The Philosophy of Martin Buber. London: Routledge.
- Gawlick, G. (1996). Dialogical Thinking: Martin Buber’s Concept of Man. Berlin: De Gruyter.