Dipublikasikan: 1 November 2025
Terakhir diperbarui: 1 November 2025
Dipublikasikan: 1 November 2025
Terakhir diperbarui: 1 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Maoisme merupakan ideologi politik dan teori revolusi yang dikembangkan oleh Mao Zedong, sebagai adaptasi Marxisme-Leninisme untuk konteks Tiongkok agraris. Ideologi ini menekankan peran petani sebagai kekuatan utama revolusi, strategi perang gerilya, dan pembangunan sosialisme di negara yang mayoritas penduduknya adalah petani. Maoisme menekankan transformasi sosial, politik, dan ekonomi melalui revolusi rakyat berkelanjutan untuk mencapai masyarakat tanpa kelas.
Daftar Isi
Maoisme dapat didefinisikan sebagai teori revolusi yang menekankan kepemimpinan Partai Komunis, mobilisasi massa petani, dan strategi gerilya untuk menggulingkan kapitalisme dan feodalisme, sekaligus membangun sosialisme.
“The revolutionary war is the only way for the Chinese people to liberate themselves.”
— Mao Zedong, Selected Works of Mao Tse-tung, Vol. I (1937), p. 42
Maoisme menekankan bahwa revolusi tidak bisa hanya dipimpin oleh proletariat perkotaan, melainkan harus melibatkan rakyat pedesaan secara aktif.
Maoisme menekankan bahwa petani adalah kekuatan utama revolusi di negara agraris, berbeda dari Marxisme klasik yang menekankan proletariat perkotaan.
“Without the peasants there can be no revolution in China; they are the sea in which the revolution swims.”
— Mao Zedong, Report on an Investigation of the Peasant Movement in Hunan (1927), p. 21
Mobilisasi massa dilakukan melalui pendidikan politik, partisipasi langsung dalam perjuangan, dan organisasi kolektif di tingkat desa.
Maoisme menekankan strategi perang rakyat yang fleksibel dan berkelanjutan, mengandalkan mobilisasi lokal dan pengetahuan geografis untuk menghadapi musuh yang lebih kuat.
“The guerrilla must move amongst the people as a fish swims in the sea.”
— Mao Zedong, On Guerrilla Warfare (1937), p. 101
Perang gerilya bukan hanya strategi militer, tetapi juga sarana membangun kesadaran politik massa.
Maoisme menekankan revolusi yang harus berkelanjutan untuk mencegah kebangkitan kelas penguasa dan memastikan pembangunan sosialisme tetap sesuai prinsip rakyat.
“Revolution is not a one-time event; it must be continuous to cleanse society of bourgeois elements.”
— Mao Zedong, Quotations from Chairman Mao Tse-tung (1964), p. 55
Ini tercermin dalam kebijakan seperti Revolusi Kebudayaan, yang menekankan kritik terhadap birokrasi dan konservatisme politik.
Maoisme menekankan peran Partai Komunis sebagai pemimpin revolusi dan pengatur strategi, dengan disiplin ketat dalam organisasi partai.
“The Party commands the gun, and must lead the people in all revolutionary tasks.”
— Mao Zedong, Selected Works of Mao Tse-tung, Vol. II (1940), p. 33
Partai bertugas menjaga ideologi, mengorganisasi rakyat, dan memastikan kemenangan revolusi melalui strategi terpusat.
Maoisme menekankan transformasi sosial-ekonomi melalui kolektivisasi, reformasi tanah, dan industrialisasi berfokus pada desa.
“The countryside is the basis of industry; without transforming agriculture, socialism cannot advance.”
— Mao Zedong, Selected Works of Mao Tse-tung, Vol. III (1950), p. 72
Kebijakan ini menekankan kemandirian lokal dan pengembangan ekonomi desa sebagai fondasi pembangunan nasional.
Maoisme menekankan peran petani dan revolusi di negara agraris, strategi perang gerilya, dan revolusi berkelanjutan, sementara Marxisme-Leninisme klasik menekankan proletariat perkotaan dan industrialisasi sebagai basis revolusi.
Ya, Maoisme memandang revolusi bersenjata sebagai sarana untuk menggulingkan feodalisme dan kapitalisme, tetapi selalu digabung dengan mobilisasi massa dan pendidikan politik.
Beberapa prinsip, seperti mobilisasi masyarakat dan pembangunan berbasis desa, tetap relevan dalam konteks pembangunan sosial-politik di negara agraris, meski praktik revolusi bersenjata lebih jarang digunakan.