Maimonides

Raymond Kelvin Nando — Maimonides adalah seorang filsuf Yahudi abad pertengahan yang dikenal sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam tradisi filsafat agama monoteistik. Nama aslinya adalah Moses ben Maimon (bahasa Arab: Mūsā ibn Maymūn), sering disebut Rambam. Ia berhasil memadukan rasionalisme Aristotelian dengan teologi Yahudi, berusaha menunjukkan bahwa iman dan akal bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam memahami Tuhan dan dunia.

Biografi Maimonides

Maimonides lahir di Córdoba, Spanyol, pada tahun 1138, pada masa kekuasaan Dinasti Almoravid. Sejak kecil, ia mempelajari Taurat, Talmud, dan filsafat Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Ia hidup di zaman ketika dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Ketika kelompok fanatik Almohad merebut Córdoba pada 1148, keluarga Maimonides melarikan diri ke Fez, Maroko, lalu ke Palestina, sebelum akhirnya menetap di Fustat (Kairo Lama), Mesir. Di sana, ia menjadi dokter istana Sultan Saladin dan pemimpin komunitas Yahudi Mesir.

Selain karya medis dan hukum, karya filsafatnya yang paling monumental adalah Dalālat al-Ḥā’irīn (The Guide for the Perplexed), yang ditulis dalam bahasa Arab-Yahudi. Buku ini membahas hubungan antara filsafat dan agama, serta menafsirkan Kitab Suci secara alegoris dan rasional. Maimonides wafat pada tahun 1204 di Fustat, namun pemikirannya terus menjadi dasar bagi rasionalisme teologis dalam Yudaisme, Islam, dan Kristen.

Orang lain juga membaca :  Ralph Waldo Emerson

Konsep-Konsep Utama

Dalālat al-Ḥā’irīn (Petunjuk bagi yang Bingung)

Karya utama Maimonides ini membahas konflik antara wahyu dan rasio, serta cara menafsirkan teks-teks suci secara filosofis. Ia menulisnya untuk orang-orang beriman yang terdidik, yang merasa “bingung” karena mendapati perbedaan antara kebenaran wahyu dan filsafat.

Al-ʿaql huwa al-wasīla allatī tuhaddid al-insān wa tuqarribuhu ilā al-maʿrifa al-ilāhiyya. (Dalālat al-Ḥā’irīn, 1190, hlm. 112)

Akal adalah sarana yang membedakan manusia dan mendekatkannya kepada pengetahuan ilahi.

Bagi Maimonides, akal adalah anugerah Tuhan yang memungkinkan manusia memahami ciptaan-Nya. Pengetahuan rasional tidak meniadakan iman, melainkan mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi. Ia menolak pemahaman literal terhadap kitab suci dan menekankan ta’wil (penafsiran simbolik), karena kebenaran sejati hanya dapat dipahami melalui intelek yang tercerahkan.

Tawḥīd al-Ḥaqq (Ke-Esa-an Tuhan yang Murni)

Maimonides menegaskan bahwa Tuhan adalah esa secara mutlak, tanpa komposisi atau atribut fisik. Ia mengadopsi konsep metafisika Aristoteles dan Neoplatonisme, namun menafsirkan Tuhan sebagai “Wujud Niscaya” (Necessary Being).

Laysa fī dhātihi taʿaddud wa lā ṣifa yufarriquhā ʿan al-jawhar al-awwal. (Dalālat al-Ḥā’irīn, 1190, hlm. 203)

Dalam hakikat-Nya tidak ada keragaman, dan tidak ada sifat yang membedakannya dari substansi pertama.

Dari sini muncul teologi negatif (negative theology): Tuhan tidak dapat digambarkan dengan sifat-sifat positif, karena setiap deskripsi akan membatasi-Nya. Maka, cara terbaik mengenal Tuhan adalah melalui apa yang bukan Dia — dengan menyangkal sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya.

Iman wa ‘Aql (Iman dan Akal)

Salah satu prinsip utama filsafat Maimonides adalah bahwa iman sejati tidak bertentangan dengan akal. Jika tampak ada pertentangan, maka penafsiran terhadap wahyu harus diperbarui, bukan menolak rasio.

Lā tanāqud bayna al-sharʿ wa al-ḥikma, li’anna al-ḥaqq lā yuʿāriḍ al-ḥaqq. (Dalālat al-Ḥā’irīn, 1190, hlm. 256)

Tidak ada pertentangan antara syariat dan kebijaksanaan, karena kebenaran tidak dapat bertentangan dengan kebenaran.

Orang lain juga membaca :  Giordano Bruno

Dengan prinsip ini, Maimonides menegaskan kesatuan epistemologis antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Ia percaya bahwa hukum-hukum alam juga merupakan bagian dari kehendak Tuhan, sehingga mempelajari alam berarti mendekati Tuhan secara intelektual.

Siyāsa wa Akhlāq (Etika dan Kehidupan Sosial)

Bagi Maimonides, filsafat bukan sekadar spekulasi metafisis, melainkan jalan menuju kesempurnaan moral dan sosial. Manusia mencapai kebahagiaan sejati bukan dengan kenikmatan fisik, tetapi dengan kesempurnaan intelektual dan etika.

Al-saʿāda al-ḥaqīqiyya hiya maʿrifat Allāh bi’l-ʿaql wa al-ʿamal al-ṣāliḥ. (Dalālat al-Ḥā’irīn, 1190, hlm. 310)

Kebahagiaan sejati adalah mengenal Tuhan melalui akal dan amal saleh.

Tujuan tertinggi hukum dan agama adalah menuntun manusia menuju kebaikan, keadilan, dan kebijaksanaan. Dalam pandangan ini, Maimonides meletakkan dasar bagi etika rasionalis dalam Yudaisme dan memberi pengaruh besar terhadap etika naturalis para filsuf modern.

Dalam Konteks Lain

Filsafat Agama dan Tradisi Abrahamik

Pemikiran Maimonides melampaui batas agama Yahudi. Ia menjadi jembatan antara filsafat Yunani, Islam, dan Kristen. Gagasannya tentang Tuhan dan rasio berpengaruh pada Thomas Aquinas, Averroes, dan bahkan Spinoza.

Ha-emet lo yira min ha-sekhel, ki ha-sekhel noten emet. (Moreh Nevukhim, 1190, hlm. 372)

Kebenaran tidak akan takut pada akal, karena akal sendiri memberi kebenaran.

Bagi Maimonides, Tuhan adalah sumber kebenaran universal; dengan demikian, siapa pun yang mencari kebenaran — baik melalui wahyu maupun akal — sebenarnya sedang mencari Tuhan. Ia menolak pandangan sempit keagamaan dan menyerukan dialog intelektual antaragama yang berlandaskan pada rasionalitas.

Warisan Intelektual

Pemikiran Maimonides menjadi dasar bagi rasionalisme teologis abad pertengahan. Ia membuka jalan bagi teologi skolastik Kristen dan filsafat Islam peripatetik. Karya-karyanya menginspirasi pemikir modern seperti Spinoza, Leibniz, dan Mendelssohn.

Orang lain juga membaca :  Jean-Paul Sartre

Maimonides membuktikan bahwa iman dan ilmu dapat bersatu dalam pencarian kebenaran. Ia menolak fanatisme, mengedepankan rasionalitas, dan menempatkan filsafat sebagai bagian dari ibadah intelektual kepada Tuhan.

Kesimpulan

Maimonides menempatkan dirinya di persimpangan antara wahyu dan rasio, antara iman dan ilmu. Ia adalah simbol keharmonisan antara agama dan filsafat, menunjukkan bahwa pemikiran kritis tidak menghapus iman, melainkan memperdalamnya.

Karya-karyanya menegaskan bahwa kebenaran Tuhan dapat ditemukan melalui akal, dan bahwa pencarian intelektual adalah bentuk tertinggi dari pengabdian spiritual.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Apa karya utama Maimonides?

Karya utamanya adalah Dalālat al-Ḥā’irīn (The Guide for the Perplexed), yang membahas hubungan antara iman dan rasio.

Apa yang dimaksud dengan teologi negatif?

Teologi negatif adalah pandangan bahwa Tuhan hanya dapat digambarkan melalui negasi — dengan mengatakan apa yang bukan Tuhan, bukan apa yang Ia adalah.

Bagaimana pengaruh Maimonides terhadap pemikir modern?

Pemikirannya memengaruhi Thomas Aquinas, Spinoza, dan Leibniz, terutama dalam bidang metafisika dan etika rasionalis.

Referensi

  • Maimonides, M. (1190). Dalālat al-Ḥā’irīn (The Guide for the Perplexed). Kairo: Yahudi-Arab Press.
  • Pines, S. (1963). The Guide of the Perplexed (Translation). Chicago: University of Chicago Press.
  • Davidson, H. (2005). Maimonides: The Man and His Works. Oxford: Oxford University Press.
  • Kellner, M. (1991). Maimonides on Human Perfection. Atlanta: Scholars Press.
  • Harvey, W. Z. (2007). Maimonides in His World: Portrait of a Mediterranean Thinker. Princeton: Princeton University Press.
  • Strauss, L. (1952). Persecution and the Art of Writing. Glencoe: Free Press.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Lucretius

Next Article

Marcus Aurelius