Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Liberation Theology adalah gerakan teologis yang menekankan pembebasan orang miskin dan tertindas sebagai pusat iman Kristen. Berkembang terutama di Amerika Latin pada abad ke-20, teologi ini menekankan hubungan antara iman, keadilan sosial, dan transformasi struktural masyarakat. Liberation Theology menekankan bahwa Allah berdiri di pihak yang tertindas dan memanggil umat-Nya untuk aktif dalam perjuangan melawan ketidakadilan, kemiskinan, dan penindasan.
Daftar Isi
Ajaran Liberation Theology menekankan bahwa keselamatan Kristen tidak hanya bersifat rohani, tetapi juga bersifat sosial dan politik. Prinsip utama adalah bahwa iman Kristen menuntut keterlibatan aktif dalam membebaskan mereka yang mengalami ketidakadilan dan kemiskinan. Gerakan ini menggunakan analisis sosial dan ekonomi untuk memahami ketidaksetaraan, dan menekankan perlunya solidaritas, reformasi sosial, serta kritik terhadap struktur kekuasaan yang menindas.
Liberation Theology menekankan pentingnya membaca Alkitab dari perspektif orang miskin, sehingga narasi Injil dipahami sebagai panggilan untuk membela keadilan dan martabat manusia. Pendidikan, organisasi komunitas, dan praktik pastoral diarahkan untuk memperkuat kesadaran sosial umat, mendorong partisipasi dalam perubahan masyarakat, dan menegakkan nilai-nilai moral dan etika yang sejalan dengan ajaran Kristus.
Liberation Theology muncul pada 1960-an di Amerika Latin, dipengaruhi oleh kondisi ketidakadilan sosial, kemiskinan meluas, dan rezim otoriter di wilayah tersebut. Gerakan ini dikembangkan oleh teolog seperti Gustavo Gutiérrez, Leonardo Boff, dan Jon Sobrino, yang menekankan peran aktif Gereja dalam perjuangan melawan penindasan. Doktrin ini mengintegrasikan analisis sosial dengan hermeneutika Alkitab, menekankan bahwa tindakan moral dan iman harus bersifat konkret dalam memperjuangkan keadilan.
Pada dekade 1970-an dan 1980-an, Liberation Theology menjadi gerakan penting dalam Gereja Katolik Amerika Latin, meskipun menghadapi kritik dari Vatikan karena beberapa pendekatan politik dianggap terlalu radikal atau terlibat dalam ideologi Marxis. Meskipun demikian, gerakan ini berhasil membangkitkan kesadaran sosial di kalangan umat dan mendorong partisipasi gereja dalam program pembangunan, pendidikan, dan advokasi hak asasi manusia.
Pada era modern, Liberation Theology tetap memengaruhi teologi sosial Kristen di berbagai belahan dunia, termasuk Afrika, Asia, dan Amerika Utara. Ajaran ini juga memberikan kerangka bagi gerakan keadilan sosial, hak asasi manusia, dan solidaritas internasional, menekankan bahwa iman Kristen harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk membela mereka yang tertindas.
Gustavo Gutiérrez dianggap sebagai bapak Liberation Theology, dengan karya seminalnya A Theology of Liberation (1971) yang menekankan hubungan antara iman dan keadilan sosial. Leonardo Boff, seorang teolog Brasil, menekankan ekologi dan transformasi sosial sebagai bagian dari misi Gereja. Jon Sobrino berfokus pada konteks El Salvador, menekankan perspektif mereka yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Tokoh-tokoh lain termasuk Juan Luis Segundo dan Paulo Freire, yang mengaitkan pendidikan dengan kesadaran sosial dan pembebasan.