Leonardo da Vinci

Dipublikasikan: 5 Oktober 2025

Terakhir diperbarui: 5 Oktober 2025

Raymond Kelvin Nando — Leonardo da Vinci adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan seniman Italia yang mewujudkan cita-cita homo universalis dalam era Renaissance. Ia dikenal bukan hanya karena karya seninya, tetapi juga karena pandangan filsafatnya tentang hubungan antara alam, rasionalitas, dan keindahan sebagai satu kesatuan ontologis. Dalam pemikiran Leonardo, alam (natura) merupakan sistem rasional yang penuh keteraturan, dan manusia sebagai mikrokosmos dapat memahami tatanan itu melalui observasi, pengalaman, dan refleksi. Ia memadukan empirisme ilmiah dengan estetika metafisik, menjadikannya salah satu figur terpenting dalam sejarah filsafat alam dan epistemologi Renaissance.

Biografi Leonardo da Vinci

Leonardo da Vinci lahir pada 15 April 1452 di Vinci, sebuah desa kecil dekat Firenze, Italia. Ia adalah anak tidak sah dari seorang notaris dan seorang petani, namun sejak kecil menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam seni menggambar dan pengamatan alam. Ia belajar di studio Andrea del Verrocchio di Florence, di mana ia menguasai teknik melukis, arsitektur, anatomi, dan matematika.

Pada tahun 1482, Leonardo pindah ke Milan dan bekerja di bawah perlindungan Ludovico Sforza. Di sana ia menghasilkan karya besar seperti The Last Supper dan mulai menulis Codex Atlanticus serta Codex Leicester, kumpulan catatan filosofis dan ilmiahnya tentang alam, cahaya, gerak, dan anatomi.

Leonardo percaya bahwa seni dan sains bukan dua hal yang terpisah, tetapi dua cara berbeda untuk memahami realitas yang sama. Ia menulis ribuan halaman catatan yang menunjukkan upaya sistematis untuk menghubungkan pengamatan empiris dengan prinsip rasional. Setelah kembali ke Florence dan kemudian bekerja untuk Raja Francis I di Prancis, Leonardo wafat pada tahun 2 Mei 1519 di Amboise, meninggalkan warisan filsafat yang menggabungkan estetika, ilmu, dan metafisika alam.

Orang lain juga membaca :  Proclus

Konsep-Konsep Utama

Natura come Arte (Alam sebagai Seni)

Bagi Leonardo, alam adalah artis tertinggi yang menciptakan dengan rasio dan harmoni. Dalam catatannya, ia menulis bahwa memahami alam berarti memahami karya seni terbesar yang pernah ada — karena di dalamnya terkandung prinsip-prinsip universal yang dapat dijelaskan melalui geometri, proporsi, dan keteraturan.

La natura è piena d’infinite ragioni che non furono mai in isperienza. (Codex Atlanticus, 1490, hlm. 132r)

Alam, tulis Leonardo, penuh dengan alasan yang tak terbatas yang belum pernah dialami sebelumnya.
Kutipan ini menunjukkan pandangannya bahwa alam bukan objek pasif, melainkan sistem rasional yang menyingkapkan prinsip logika universal. Leonardo memandang bahwa tugas filsuf dan ilmuwan adalah menelusuri rasionalitas yang tersembunyi di balik fenomena alam.

Dengan demikian, natura come arte mencerminkan filsafat naturalistik yang menolak dualisme antara materi dan bentuk. Alam, bagi Leonardo, adalah ekspresi tertinggi dari intelek ilahi (intelletto divino), dan manusia sebagai pencipta kecil (artifex minor) dapat menirunya melalui pengetahuan dan seni.

Scienza della Pittura (Ilmu Lukis)

Dalam karyanya Trattato della pittura, Leonardo mengembangkan gagasan bahwa melukis adalah ilmu pengetahuan rasional yang memadukan matematika, optika, dan filsafat. Ia menolak anggapan bahwa seni hanyalah keterampilan manual; bagi Leonardo, seni adalah cara memahami struktur realitas.

La pittura è una cosa mentale. (Trattato della pittura, 1498, hlm. 25)

Lukisan adalah sesuatu yang bersifat mental, tulisnya. Pandangan ini mengandung makna bahwa tindakan artistik adalah kegiatan intelektual yang meniru tatanan rasional alam semesta. Dalam melukis, seniman bukan sekadar menyalin alam, tetapi memahami dan mengekspresikan prinsip universal keindahan dan keteraturan.

Leonardo memandang scienza della pittura sebagai bentuk filsafat visual: seni sebagai epistemologi yang melatih manusia untuk berpikir proporsional, harmonis, dan analitis. Baginya, melukis adalah laboratorium rasionalitas estetis.

Orang lain juga membaca :  Edward Caird

Connessione Universale (Keterhubungan Universal)

Leonardo juga mengajarkan bahwa semua fenomena di alam saling berhubungan. Dalam catatannya, ia berulang kali menulis tentang “keteraturan yang mengikat semua bentuk kehidupan dan gerak alam”.

Tutte le cose sono connesse per legge di necessità. (Codex Arundel, 1508, hlm. 201v)

Segala sesuatu saling terhubung oleh hukum keharusan.
Konsep ini menunjukkan bahwa Leonardo memahami alam secara holistik dan deterministik. Setiap unsur, dari gerak air hingga struktur tubuh manusia, merupakan bagian dari jaringan sebab akibat yang tunduk pada prinsip rasional.

Connessione universale menjadi dasar bagi filsafat ilmiahnya: memahami satu fenomena berarti memahami sistem yang lebih luas di mana fenomena itu berada. Ini menjadi akar bagi pendekatan interdisipliner yang kelak menjadi ciri khas ilmu modern.

Dalam Konteks Lain

Filsafat Alam dan Sains Renaissance

Leonardo da Vinci menolak pandangan skolastik yang memisahkan sains dari filsafat. Ia percaya bahwa pengalaman (esperienza) dan rasio (ragione) adalah dua aspek dari pencarian yang sama menuju kebenaran.

Nessuna umana investigazione si può dimandare vera scienza, s’essa non passa per le matematiche dimostrazioni. (Codex Madrid I, 1503, hlm. 89r)

Tidak ada penyelidikan manusia yang dapat disebut ilmu sejati jika tidak melalui pembuktian matematis.
Pandangan ini memperlihatkan peralihan dari metafisika skolastik menuju empirisme rasional — suatu bentuk proto-ilmiah yang menggabungkan observasi dan deduksi. Leonardo menyadari bahwa matematika adalah bahasa universal alam, dan bahwa semua fenomena dapat dijelaskan melalui hukum keteraturan numerik.

Dalam konteks ini, Leonardo merupakan pelopor dalam membangun filsafat ilmiah yang berbasis pada kesatuan seni, matematika, dan pengalaman empiris.

Filsafat Estetika dan Keindahan Alamiah

Keindahan, bagi Leonardo, adalah manifestasi visual dari kebenaran rasional. Ia percaya bahwa harmoni proporsional yang ditemukan dalam tubuh manusia, gerak air, atau cahaya, merupakan ekspresi langsung dari prinsip universal yang sama.

La bellezza è la somma delle parti in proporzione armoniosa al tutto. (Trattato della pittura, 1498, hlm. 47)

Keindahan adalah jumlah bagian-bagian yang seimbang secara harmonis terhadap keseluruhan.
Bagi Leonardo, seni sejati bukan meniru bentuk luar, tetapi meniru prinsip rasional dari keteraturan. Estetika baginya adalah cabang ontologi, karena keindahan menyingkap struktur realitas yang tersembunyi.

Orang lain juga membaca :  Aristoteles

Dengan demikian, filsafat estetika Leonardo melampaui seni rupa — ia menjadi metafisika visual, di mana bentuk, cahaya, dan proporsi adalah ekspresi intelek kosmik.

Kesimpulan

Leonardo da Vinci adalah filsuf alam dan estetika rasional, yang menyatukan seni, sains, dan filsafat menjadi satu sistem pengetahuan universal. Melalui konsep natura come arte, scienza della pittura, dan connessione universale, ia menunjukkan bahwa pengetahuan sejati lahir dari harmoni antara pengamatan empiris dan pemahaman rasional.

Dalam dirinya, Renaissance mencapai puncaknya: manusia menjadi cermin alam semesta, dan penciptaan menjadi bentuk tertinggi dari pemahaman terhadap keteraturan kosmik.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Apa gagasan utama Leonardo da Vinci dalam filsafat?

Ia menegaskan bahwa alam adalah sistem rasional yang dapat dipahami melalui observasi dan rasio, serta bahwa seni adalah bentuk pengetahuan ilmiah.

Mengapa Leonardo menyebut melukis sebagai “sesuatu yang mental”?

Karena baginya, melukis bukan sekadar keterampilan tangan, melainkan kegiatan intelektual yang meniru tatanan rasional alam semesta.

Apa hubungan antara seni dan sains dalam pemikiran Leonardo?

Seni dan sains adalah dua ekspresi dari rasionalitas yang sama; keduanya mencari harmoni dan hukum keteraturan yang menjadi dasar seluruh realitas.

Referensi

  • Leonardo da Vinci. (1490–1519). Codex Atlanticus. Milan: Biblioteca Ambrosiana.
  • Leonardo da Vinci. (1498). Trattato della pittura. Florence: Biblioteca Medicea Laurenziana.
  • Leonardo da Vinci. (1503). Codex Madrid I. Madrid: Biblioteca Nacional de España.
  • Kemp, M. (2006). Leonardo da Vinci: The Marvellous Works of Nature and Man. Oxford: Oxford University Press.
  • Capra, F. (2007). The Science of Leonardo: Inside the Mind of the Great Genius of the Renaissance. New York: Doubleday.
  • Gombrich, E. H. (1995). The Renaissance Idea of Nature. Princeton: Princeton University Press.

Citation

Previous Article

Leonardo Bruni

Next Article

Leucippus

Citation copied!