Dipublikasikan: 31 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 31 Oktober 2025
Dipublikasikan: 31 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 31 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Leninisme merupakan ideologi politik dan teori revolusi yang dikembangkan oleh Vladimir Ilyich Lenin, sebagai adaptasi dari Marxisme untuk kondisi Rusia awal abad ke-20. Ideologi ini menekankan peran partai revolusioner sebagai pemimpin kelas proletariat, perlunya demokrasi terpusat (democratic centralism), serta strategi revolusi yang menekankan perlawanan terhadap kapitalisme dan imperialisme. Leninisme bertujuan membentuk negara sosialis yang terorganisir dan disiplin untuk mempersiapkan transisi menuju masyarakat tanpa kelas.
Daftar Isi
Leninisme dapat didefinisikan sebagai teori revolusi proletariat yang menekankan kepemimpinan partai sebagai avant-garde kelas pekerja, penghapusan kapitalisme, dan pembangunan negara sosialis sebagai langkah transisi menuju komunisme.
“Without revolutionary theory there can be no revolutionary movement.”
— Vladimir I. Lenin, What Is To Be Done? (1902), p. 15
Leninisme menekankan bahwa kelas pekerja membutuhkan partai terorganisir untuk memimpin perjuangan, karena kesadaran kelas yang spontan dari proletariat saja tidak cukup untuk menggulingkan struktur kapitalis.
Lenin menekankan bahwa kelas pekerja membutuhkan partai terorganisir dan disiplin untuk memimpin revolusi.
“The task of the revolutionary party is to raise the working class from trade-union consciousness to revolutionary consciousness.”
— Lenin, What Is To Be Done? (1902), p. 19
Partai avant-garde bertugas mengedukasi proletariat, merencanakan aksi revolusioner, dan menjamin kemenangan sosialisme di tengah perlawanan kelas penguasa.
Leninisme menganut prinsip diskusi internal yang demokratis diikuti dengan disiplin penuh dalam pelaksanaan keputusan partai.
“Freedom of discussion, unity in action.”
— Lenin, The State and Revolution (1917), p. 89
Dengan mekanisme ini, partai tetap demokratis secara internal, tetapi bertindak tegas sebagai unit tunggal dalam menghadapi lawan eksternal dan mengatur negara transisi sosialis.
Lenin menekankan perlunya revolusi bersenjata oleh proletariat untuk menggulingkan negara borjuis.
“The dictatorship of the proletariat is a necessary phase in the transition from capitalism to communism.”
— Lenin, The State and Revolution (1917), p. 92
Fase ini menuntut pengambilalihan alat-alat produksi dan kontrol negara untuk membasmi sisa-sisa struktur kapitalis, mempersiapkan masyarakat tanpa kelas.
Leninisme menekankan bahwa revolusi harus memiliki perspektif internasional karena kapitalisme adalah sistem global.
“Proletarian revolution is impossible in a single country alone; it requires the solidarity of the working class worldwide.”
— Lenin, Imperialism, the Highest Stage of Capitalism (1917), p. 42
Lenin percaya bahwa keberhasilan sosialisme di satu negara bergantung pada dukungan gerakan pekerja di negara lain, sehingga strategi revolusi bersifat transnasional.
Leninisme menekankan negara proletariat sebagai alat sementara untuk mempertahankan revolusi, menata ekonomi, dan menegakkan disiplin sosial.
“The state is an instrument for suppressing one class by another.”
— Lenin, The State and Revolution (1917), p. 72
Negara ini bersifat sementara, dan perannya adalah menghapus ketimpangan kelas sambil mempersiapkan kondisi untuk komunisme murni.
Leninisme menekankan peran partai avant-garde, demokrasi terpusat, dan revolusi bersenjata, sementara Marxisme klasik lebih menekankan transformasi proletariat melalui kesadaran spontan dan proses sejarah.
Tidak secara teori. Leninisme menekankan disiplin partai dan negara proletariat sementara, tetapi sejarah menunjukkan praktik otoritarianisme muncul akibat konteks perang dan ancaman internal.
Ya. Leninisme tetap menjadi referensi teori politik revolusioner, strategi partai politik, dan analisis hubungan kekuasaan antara kelas dalam konteks global.