Dipublikasikan: 19 Januari 2026
Terakhir diperbarui: 19 Januari 2026
Dipublikasikan: 19 Januari 2026
Terakhir diperbarui: 19 Januari 2026
Raymond Kelvin Nando — La Madukelleng adalah folklor kepahlawanan dari Sulawesi Selatan yang mengisahkan tokoh bangsawan dan pejuang Bugis sebagai simbol keberanian, harga diri, dan perlawanan terhadap penindasan kolonial. Kisah La Madukelleng hidup dalam tradisi lisan Bugis serta catatan sejarah setempat, berada di persimpangan antara legenda dan sejarah. Dalam kajian folklor, La Madukelleng dipahami sebagai legenda heroik yang merepresentasikan konsep siri’, identitas Bugis, dan semangat mempertahankan kedaulatan serta martabat bangsa.
Daftar Isi
Folklor La Madukelleng berpusat pada sosok bangsawan Bugis dari Wajo yang mengalami pengasingan akibat konflik politik dan tekanan kekuasaan asing. Dalam pengembaraannya, La Madukelleng dikenal sebagai pelaut tangguh, pemimpin karismatik, dan pejuang yang tidak tunduk pada ketidakadilan. Ia berlayar ke berbagai wilayah Nusantara, mengumpulkan kekuatan, pengalaman, dan pengaruh.
Puncak kisahnya terjadi ketika La Madukelleng kembali ke tanah Bugis untuk membebaskan Wajo dari dominasi dan ketidakadilan, termasuk campur tangan kekuasaan kolonial Belanda. Dengan kecerdikan strategi, keberanian militer, dan dukungan rakyat, ia memimpin perlawanan yang berhasil mengembalikan kehormatan dan kedaulatan wilayahnya. Dalam beberapa versi folklor, keberhasilan La Madukelleng tidak hanya bersifat militer, tetapi juga moral, karena ia mengembalikan tatanan adat dan keadilan sosial.
Cerita La Madukelleng sering ditutup dengan penegasan bahwa perjuangan sejati bukan semata kemenangan fisik, melainkan pemulihan siri’, harga diri kolektif masyarakat Bugis. Oleh karena itu, ia dikenang bukan hanya sebagai pahlawan perang, tetapi juga penjaga nilai adat dan identitas budaya.
Folklor La Madukelleng termasuk dalam kategori legenda heroik dengan unsur sejarah yang kuat. Dalam klasifikasi folklor, kisah ini dapat dikelompokkan sebagai:
Sebagai legenda, cerita ini dipercaya berakar pada tokoh nyata, namun diperkaya oleh imajinasi kolektif dan simbolisme budaya.
Folklor La Madukelleng berkembang dalam konteks budaya Bugis yang menjunjung tinggi nilai siri’ na pacce, yaitu harga diri, solidaritas, dan empati sosial. Dalam pandangan Bugis, kehilangan siri’ berarti kehilangan makna hidup, sehingga perlawanan terhadap penindasan menjadi kewajiban moral.
Konteks maritim juga sangat kuat dalam cerita ini. La Madukelleng digambarkan sebagai pelaut ulung, mencerminkan identitas Bugis sebagai bangsa pelayar dan perantau. Kisah ini berfungsi sebagai narasi pemersatu yang menanamkan kebanggaan budaya, keberanian politik, dan kesadaran historis masyarakat Sulawesi Selatan, terutama di Wajo.
Folklor La Madukelleng memiliki makna dan fungsi penting dalam kebudayaan Bugis dan Nusantara, antara lain: