Dipublikasikan: 18 November 2025
Terakhir diperbarui: 18 November 2025
Dipublikasikan: 18 November 2025
Terakhir diperbarui: 18 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Kwame Anthony Appiah adalah filsuf, teoritikus budaya, dan pemikir etika kontemporer kelahiran Inggris-Ghana, yang dikenal karena kontribusinya pada etika kosmopolitan, identitas, ras, dan multikulturalisme kritis. Pemikirannya menekankan bahwa identitas manusia selalu bersifat terhubung, cair, dan dibentuk oleh praktik sosial lintas budaya.
Daftar Isi
Kwame Anthony Appiah lahir pada 8 Mei 1954 di London, dari ayah Ghana dan ibu Inggris. Ia dibesarkan di Kumasi, Ghana, sebelum kembali ke Eropa untuk pendidikan formalnya. Ia menempuh studi filsafat di Clare College, Cambridge, dan menjadi salah satu sarjana Afrika pertama yang mencapai posisi akademik prestisius di universitas top dunia.
Karier akademiknya berkembang di berbagai institusi seperti Yale University, Cornell University, Harvard University, dan Princeton University. Ia juga dikenal sebagai intelektual publik dengan kontribusi pada media global, kolom The Ethicist di The New York Times Magazine, serta berbagai kuliah umum tentang pluralisme moral dan globalisasi.
Appiah banyak menulis tentang hubungan antara identitas kelompok dengan struktur moral global, menempatkannya sebagai salah satu pemikir etika kosmopolitan paling berpengaruh abad ke-21.
Konsep cosmopolitanism dalam pemikiran Appiah menekankan bahwa setiap manusia adalah bagian dari komunitas moral global. Solidaritas manusia melampaui batas bangsa, agama, atau ras. Ia mengembangkan kosmopolitanisme yang menekankan kepedulian universal tanpa menghapus perbedaan lokal.
all of us are responsible for taking seriously the lives of others
(Cosmopolitanism, 2006)
Appiah melihat kosmopolitanisme bukan sebagai ideal utopis, tetapi sebagai prinsip praktis untuk hidup berdampingan secara moral dalam dunia yang semakin terhubung. Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa ia memandang hubungan moral antarindividu sebagai kewajiban yang khas bagi zaman global.
Appiah menjelaskan bahwa identitas bukanlah kategori tertutup, tetapi struktur dinamis yang dibentuk oleh pilihan individu dan tekanan sosial. Identitas ras, agama, budaya, atau gender tidak bersifat esensial, melainkan performatif dan negosiatif.
identities do not dictate destiny, but they shape the horizons of our choices
(The Ethics of Identity, 2005)
Kutipan ini menunjukkan bahwa identitas mempengaruhi cara seseorang membuat keputusan, namun bukan penentu mutlak nasib manusia. Pemahaman ini menjadi dasar bagi pendekatan etika liberal Appiah yang menghargai kebebasan individu dalam memilih identitasnya.
Berbeda dari multiculturalism tradisional, Appiah menawarkan pendekatan critical multiculturalism, yang mengakui keberagaman tetapi menolak klaim absolut budaya tertentu. Ia menentang gagasan bahwa budaya harus dipelihara secara “murni”, karena semua budaya adalah hasil pertukaran dan hibriditas.
Appiah berargumen bahwa identitas budaya semestinya terbuka terhadap dialog dan perubahan.
Appiah mengkritik esensialisme rasial dan menekankan bahwa konsep ras lebih merupakan konstruksi sosial daripada realitas biologis. Meskipun demikian, ia tetap mengakui bahwa struktur rasial memiliki dampak politis yang nyata dan tidak dapat diabaikan begitu saja.
Appiah menegaskan bahwa kewarganegaraan global bukan berarti penghapusan negara-bangsa, melainkan penguatan tanggung jawab moral global. Ia mengajak masyarakat untuk mengembangkan rasa keterhubungan universal tanpa kehilangan akar lokal.
Dalam filsafat moral, Appiah memadukan liberalisme, komunitarianisme, dan kosmopolitanisme. Ia menghindari absolutisme moral dan menekankan pentingnya percakapan etis sebagai cara membangun kehidupan bersama yang lebih manusiawi.
conversation across differences is the core of moral progress
(Cosmopolitanism, 2006)
Kutipan ini menegaskan pandangan Appiah bahwa kemajuan moral terjadi melalui percakapan lintas-budaya, bukan dengan dominasi atau penyeragaman moral. Percakapan dianggap sebagai sarana untuk membangun saling pengertian di dunia yang plural.
Appiah meneliti bagaimana konstruksi identitas bekerja dalam masyarakat global, termasuk isu ras, agama, dan nasionalitas. Ia sering mengkritik nasionalisme etnis yang tertutup dan menekankan pentingnya keterbukaan budaya.
Appiah mempromosikan etos humanisme global, yakni pendekatan yang memuliakan martabat manusia melalui dialog, keterbukaan, dan rasa tanggung jawab universal. Baginya, humanisme harus inklusif dan adaptif terhadap realitas multikultural kontemporer.
Ia adalah kosmopolitan moderat: menghargai identitas lokal namun menekankan tanggung jawab moral global.
Appiah mempertahankan kebebasan individu dalam memilih identitas, namun menuntut tanggung jawab moral terhadap komunitas global.
Karena ras tidak memiliki dasar biologis yang kuat, namun tetap memiliki efek sosial dan politis sehingga perlu dianalisis secara kritis.