Korporatisme

Raymond Kelvin Nando — Korporatisme merupakan ideologi politik dan ekonomi yang menekankan kerja sama antara negara, dunia usaha, dan kelompok sosial dalam mengatur kehidupan ekonomi serta sosial masyarakat. Ideologi ini berangkat dari gagasan bahwa konflik antara kelas pekerja dan pengusaha dapat diatasi melalui koordinasi yang terpusat dan terencana. Korporatisme menolak individualisme liberal dan perjuangan kelas ala marxisme, menggantikannya dengan sistem kolaboratif yang menempatkan negara sebagai penengah utama dalam menjaga harmoni sosial.

Pengertian Korporatisme

Korporatisme dapat didefinisikan sebagai sistem sosial-ekonomi di mana kelompok-kelompok fungsional seperti serikat buruh, asosiasi pengusaha, dan lembaga profesi diorganisasikan secara resmi dan diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan negara.

“The fascist conception of the State is all-embracing; outside of it no human or spiritual values can exist, much less have value.”
— Benito Mussolini, The Doctrine of Fascism (1932), p. 11

Dalam bentuk klasiknya, terutama pada era Italia Fasis, korporatisme digunakan untuk menciptakan “kesatuan nasional” di mana seluruh elemen masyarakat bekerja demi kepentingan negara, bukan kepentingan individu atau kelas tertentu. Namun dalam konteks modern, korporatisme sering kali dipahami sebagai bentuk negosiasi terlembaga antara negara dan kelompok kepentingan ekonomi.

Tokoh Korporatisme

  • Benito Mussolini — pelopor korporatisme negara dalam rezim Fasis Italia, yang berupaya menggantikan kapitalisme liberal dan sosialisme revolusioner dengan “negara korporatif.”
  • Giovanni Gentile — filsuf Italia yang menegaskan peran negara sebagai ekspresi moral tertinggi masyarakat; gagasannya menjadi dasar filosofis bagi korporatisme fasis.
  • Émile Durkheim — sosiolog Prancis yang memandang korporatisme sebagai mekanisme moral untuk mengatasi anomi sosial dalam masyarakat industri.
  • John Maynard Keynes — meskipun bukan korporatis sejati, beberapa aspek teori ekonominya tentang koordinasi antara negara dan pasar sering dianggap beririsan dengan korporatisme pragmatis.
Orang lain juga membaca :  Anarkisme Pemberontakan

Prinsip dan Gagasan Utama Korporatisme

Kerja Sama Antar Kelas Sosial

Korporatisme menolak konsep perjuangan kelas yang menjadi dasar sosialisme dan menggantikannya dengan prinsip harmoni sosial.

“For the Fascist, everything is in the State, and nothing human or spiritual exists, much less has value, outside the State.”
— Benito Mussolini, The Doctrine of Fascism (1932), p. 12

Kaum buruh, pengusaha, dan negara dianggap sebagai tiga elemen yang harus saling bekerja sama untuk mencapai kesejahteraan kolektif. Konflik antara modal dan tenaga kerja diatur melalui lembaga korporatif yang bertugas menengahi kepentingan masing-masing.

Negara sebagai Penengah dan Pengatur

Dalam sistem korporatis, negara berperan sebagai mediator dan pengatur utama dalam kehidupan ekonomi.

“The State is not merely the sum of individuals; it is the unity of moral, political, and economic life.”
— Giovanni Gentile, The Philosophy of Fascism (1933), p. 42

Negara bertindak bukan sebagai pelindung kepentingan individu, melainkan sebagai ekspresi moral dari masyarakat secara keseluruhan. Melalui struktur korporatif, pemerintah dapat mengoordinasikan sektor-sektor ekonomi agar berfungsi secara harmonis.

Penolakan terhadap Liberalisme dan Marxisme

Korporatisme menolak dua kutub ekstrem abad ke-20: kapitalisme liberal yang dianggap menciptakan ketimpangan, dan marxisme yang memicu konflik sosial.

“Neither capitalist nor socialist, but corporative.”
— Motto of the Italian Fascist Party, 1930s

Ideologi ini mencoba menyeimbangkan efisiensi ekonomi kapitalisme dengan solidaritas sosial sosialisme. Dalam praktiknya, hasil yang muncul sering kali berupa sistem ekonomi terpusat yang dikontrol oleh negara.

Struktur Ekonomi Berbasis Korporasi Sosial

Korporatisme membagi masyarakat ke dalam kelompok-kelompok fungsional seperti pertanian, industri, perdagangan, dan jasa.

“Each corporation represents not a class, but a function of national life.”
— Benito Mussolini, Speech to the Chamber of Deputies (1934), p. 67

Setiap sektor memiliki perwakilan dalam lembaga-lembaga negara untuk ikut menentukan kebijakan ekonomi. Dengan demikian, keputusan politik dan ekonomi tidak dibuat oleh individu, tetapi oleh korporasi sosial yang diakui negara.

Orang lain juga membaca :  Ekofeminisme

Korporatisme Modern dan Demokrasi Sosial

Dalam versi modernnya, korporatisme berkembang menjadi sistem konsultasi sosial antara pemerintah, serikat pekerja, dan pengusaha — terutama di negara-negara Skandinavia dan Eropa Barat.

“Corporatism, in its democratic form, represents the institutionalization of social dialogue.”
— Philippe C. Schmitter, Still the Century of Corporatism? (1974), p. 93

Korporatisme demokratis menekankan negosiasi dan partisipasi sosial dalam kebijakan publik tanpa harus menghapus kebebasan politik.

FAQ

Apakah korporatisme sama dengan kapitalisme korporat?

Tidak. Kapitalisme korporat merujuk pada dominasi perusahaan besar dalam ekonomi, sedangkan korporatisme adalah sistem kerja sama antara negara, pengusaha, dan buruh di bawah koordinasi terpusat.

Apakah korporatisme identik dengan fasisme?

Tidak selalu. Meskipun korporatisme berkembang di bawah rezim fasis Italia, bentuk moderatnya juga diterapkan dalam model ekonomi sosial-demokratis di Eropa Barat pasca Perang Dunia II.

Apakah korporatisme masih relevan saat ini?

Ya. Dalam konteks modern, prinsip korporatisme tetap digunakan dalam model neo-corporatism, yang memfasilitasi dialog sosial dan perencanaan ekonomi antara pemerintah, serikat, dan sektor swasta.

Referensi

  • Mussolini, B. (1932). The Doctrine of Fascism. Rome: Hoepli.
  • Gentile, G. (1933). The Philosophy of Fascism. Milan: Treves.
  • Durkheim, É. (1893). The Division of Labor in Society. Paris: Alcan.
  • Schmitter, P. C. (1974). Still the Century of Corporatism? London: Sage Publications.
  • Keynes, J. M. (1936). The General Theory of Employment, Interest and Money. London: Macmillan.

Dukung berbagai Project Raymond Kelvin Nando kedepannya


Citation


Previous Article

Konservatisme

Next Article

Komunitarianisme

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *