Konfusianisme

Dipublikasikan: 7 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 7 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Konfusianisme adalah sebuah tradisi filsafat, etika, dan keagamaan yang berakar pada ajaran Kongzi (Confucius) yang hidup pada abad ke-6 sampai ke-5 SM. Tradisi ini menjadi salah satu fondasi peradaban Tiongkok, memengaruhi struktur sosial, politik, pendidikan, serta nilai-nilai moral masyarakat Asia Timur selama lebih dari dua milenium. Konfusianisme menekankan harmoni sosial, keselarasan antara individu dan masyarakat, serta pengembangan karakter moral melalui kebajikan, pendidikan, dan hubungan yang etis. Dalam perjalanannya, Konfusianisme berkembang menjadi sistem pemikiran yang bukan hanya etika sosial, tetapi juga mencakup unsur keagamaan, metafisika, dan ritual.

Ajaran Konfusianisme

Konfusianisme berfokus pada pembentukan pribadi yang berbudi luhur (junzi) melalui kebajikan moral. Ajaran utamanya mencakup:

  1. Ren (仁) – Kebajikan Kemanusiaan
    Ren adalah inti ajaran Konfusianisme yang meliputi kasih sayang, empati, dan keinginan untuk memperlakukan orang lain dengan kebaikan.
  2. Li (禮) – Tata Krama dan Ritual
    Li meliputi aturan perilaku, etika, dan ritual sosial yang menjaga harmoni masyarakat. Li dipandang sebagai sarana untuk membentuk karakter dan menjaga keseimbangan sosial.
  3. Yi (義) – Kebenaran atau Moralitas
    Yi merujuk pada kemampuan membedakan benar dan salah serta bertindak sesuai prinsip moral.
  4. Xiao (孝) – Bakti kepada Orang Tua
    Xiao merupakan kebajikan sentral yang mengatur hubungan keluarga, menekankan penghormatan kepada orang tua, leluhur, dan senior.
  5. Zhong (忠) dan Shu (恕)
    Zhong berarti kesetiaan, sedangkan Shu merupakan kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain, serupa dengan “aturan emas” etika.
  6. Junzi (君子) – Manusia Berbudi Luhur
    Tujuan Konfusianisme adalah membentuk individu menjadi junzi, seseorang yang memiliki integritas moral, hikmat, dan tanggung jawab sosial.
Orang lain juga membaca :  Eko-Sosialisme

Selain itu, Konfusianisme juga menekankan pentingnya pendidikan, pemerintahan yang bermoral, serta tanggung jawab pemimpin untuk mengutamakan kesejahteraan rakyat.

Sejarah Perkembangan Konfusianisme

Konfusianisme bermula dari ajaran Kongzi yang dikodifikasikan dalam Analekta (Lunyu). Setelah wafatnya Confucius, murid-muridnya meneruskan ajaran ini dan membuatnya berpengaruh pada masa Dinasti Han (206 SM–220 M), ketika Konfusianisme dijadikan dasar ideologi negara dan sistem pendidikan kekaisaran.

Pada masa Dinasti Tang dan Song, Konfusianisme berkembang melalui Neo-Konfusianisme, terutama melalui tokoh seperti Zhu Xi dan Wang Yangming. Neo-Konfusianisme memadukan unsur metafisik dari Daoisme dan Buddhisme, menciptakan sistem filsafat yang lebih spekulatif mengenai kosmos, hakikat manusia, dan jalan moral.

Pada abad ke-20, Konfusianisme mengalami tantangan besar akibat Revolusi Tiongkok dan modernisasi, yang menganggapnya sebagai simbol tradisi feodal. Namun, sejak akhir abad ke-20 hingga kini, Konfusianisme mengalami kebangkitan kembali di Tiongkok dan Asia Timur sebagai sumber nilai-nilai etika, stabilitas budaya, dan identitas nasional.

Konfusianisme modern berkembang dalam bentuk New Confucianism, yang menafsirkan kembali ajaran klasik untuk menjawab isu-isu kontemporer seperti etika global, pendidikan modern, dan politik demokratis.

Tokoh-Tokoh Konfusianisme

  1. Kongzi (Confucius, 551–479 SM) – Pendiri Konfusianisme dan penyusun dasar etika yang memengaruhi seluruh Asia Timur.
  2. Mengzi (Mencius, 372–289 SM) – Menegaskan bahwa sifat dasar manusia adalah baik dan menekankan pentingnya belas kasih dalam pemerintahan.
  3. Xunzi (312–230 SM) – Berpandangan bahwa manusia cenderung jahat dan memerlukan pendidikan serta aturan untuk menjadi baik.
  4. Zhu Xi (1130–1200) – Tokoh sentral Neo-Konfusianisme yang merumuskan standar ortodoksi Konfusianisme klasik.
  5. Wang Yangming (1472–1529) – Filsuf Neo-Konfusian yang mengajarkan kesatuan antara pengetahuan dan tindakan (unity of knowledge and action).
Orang lain juga membaca :  Anarkisme

Referensi

  • Ames, R. T., & Rosemont, H. (1998). The Analects of Confucius: A Philosophical Translation. Ballantine Books.
  • De Bary, W. T., & Bloom, I. (1999). Sources of Chinese Tradition. Columbia University Press.
  • Fingarette, H. (1972). Confucius: The Secular as Sacred. Harper & Row.
  • Nivison, D. S. (1996). The Ways of Confucianism. Open Court.
  • Tu, W. (1998). Confucius and Confucianism. Meridian.

Citation

Previous Article

Christian Science

Next Article

Kongregasionalisme

Citation copied!