Dipublikasikan: 30 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 30 Oktober 2025
Dipublikasikan: 30 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 30 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Komunisme Nasional Tiongkok merupakan bentuk khas dari komunisme yang dikembangkan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) di bawah kepemimpinan Mao Zedong, dengan penekanan kuat pada identitas nasional, kemandirian ekonomi, dan perjuangan rakyat agraris. Ideologi ini menggabungkan prinsip-prinsip komunisme Marxist–Leninist dengan kondisi sosio-historis Tiongkok yang feodal dan agraris, sehingga menghasilkan varian unik yang dikenal sebagai Maoisme. Komunisme nasional versi Tiongkok menolak subordinasi terhadap Uni Soviet dan menegaskan bahwa revolusi sosialis harus berakar pada kekuatan rakyat dalam negeri serta semangat nasional Tiongkok.
Daftar Isi
Komunisme nasional Tiongkok dapat dipahami sebagai adaptasi lokal dari komunisme yang berfokus pada kemandirian nasional dan perjuangan melawan imperialisme asing. Ia menempatkan rakyat tani sebagai motor revolusi, bukan proletariat industri sebagaimana dalam model Eropa.
“The people, and the people alone, are the motive force in the making of world history.”
— Mao Zedong, On Coalition Government (1945), p. 107
Ideologi ini berakar pada keinginan untuk membangun sosialisme yang tidak bergantung pada kekuatan luar, melainkan tumbuh dari sejarah, budaya, dan realitas sosial Tiongkok sendiri.
Mao menolak anggapan bahwa revolusi proletar hanya bisa terjadi di negara industri. Dalam konteks Tiongkok yang mayoritas petani, ia menegaskan bahwa rakyat tani adalah kekuatan revolusioner utama.
“A revolution is not a dinner party… it is an act of violence by which one class overthrows another.”
— Mao Zedong, Report on an Investigation of the Peasant Movement in Hunan (1927), p. 25
Dengan mendasarkan revolusi pada pedesaan, komunisme nasional Tiongkok menciptakan bentuk sosialisme yang berpijak pada realitas rakyat, bukan teori dogmatis.
Komunisme nasional Tiongkok lahir dari penolakan terhadap dominasi asing — baik kolonial Barat maupun pengaruh Soviet.
“We should depend on ourselves, and the foreigners can only be a supplementary help.”
— Mao Zedong, On the Ten Major Relationships (1956), p. 19
Prinsip zili gengsheng (自力更生) atau “berdiri di atas kaki sendiri” menjadi dasar politik luar negeri dan ekonomi nasional Tiongkok. Kemandirian dipandang sebagai syarat mutlak bagi pembangunan sosialisme sejati.
PKT dianggap sebagai pelopor revolusi dan penjaga kesadaran ideologis rakyat.
“Without the Communist Party, there would be no New China.”
— Mao Zedong, Selected Works, Vol. II (1952), p. 3
Partai berfungsi bukan hanya sebagai organisasi politik, tetapi juga sebagai pendidik moral dan ideologis yang menanamkan semangat kolektivisme dan pengabdian total terhadap rakyat.
Mao mengembangkan prinsip “mencari kebenaran dari fakta” (shi shi qiu shi 实事求是), yang menekankan bahwa teori sosialisme harus disesuaikan dengan kenyataan nasional.
“No investigation, no right to speak.”
— Mao Zedong, Oppose Book Worship (1930), p. 12
Gagasan ini menolak peniruan buta terhadap model Soviet dan menegaskan perlunya inovasi sesuai kondisi lokal — suatu ciri khas komunisme nasional Tiongkok.
Setelah era Mao, Deng Xiaoping melanjutkan semangat komunisme nasional melalui pendekatan pragmatis.
“It doesn’t matter whether a cat is black or white, as long as it catches mice.”
— Deng Xiaoping, Selected Works, Vol. II (1962), p. 17
Prinsip ini mencerminkan fleksibilitas ideologis — mempertahankan sosialisme, tetapi membuka diri terhadap mekanisme pasar untuk memperkuat kekuatan nasional.
Komunisme nasional Tiongkok menolak ketergantungan pada Uni Soviet dan menekankan revolusi agraria serta kemandirian ekonomi, sedangkan komunisme Soviet berpusat pada industrialisasi dan kepemimpinan proletariat perkotaan.
Maoisme merupakan bentuk paling menonjol dari komunisme nasional Tiongkok. Ia menggabungkan teori Marxist–Leninist dengan kondisi lokal, menjadikan revolusi rakyat tani dan nasionalisme anti-imperialis sebagai fondasinya.
Dalam bentuk modern, komunisme nasional terus hidup melalui kebijakan “sosialisme dengan karakteristik Tiongkok,” yang menggabungkan prinsip kontrol politik Partai Komunis dengan ekonomi pasar terarah.