Dipublikasikan: 5 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 5 Oktober 2025
Dipublikasikan: 5 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 5 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Kitarō Nishida adalah seorang filsuf Jepang yang dianggap sebagai pendiri Kyoto School (Kyōto Gakuha), aliran filsafat yang berusaha mengintegrasikan pemikiran Timur—terutama Buddhisme Zen—dengan tradisi filsafat Barat, khususnya idealisme Jerman dan fenomenologi. Melalui gagasan utamanya tentang kesadaran murni, tempat (basho), dan logika kontradiksi identitas, Nishida berusaha membangun jembatan antara pengalaman langsung dan rasionalitas konseptual.
Daftar Isi
Kitarō Nishida lahir pada 19 Mei 1870 di Prefektur Ishikawa, Jepang, dalam sebuah keluarga samurai yang menjunjung tinggi pendidikan dan nilai moral. Sejak kecil, ia menunjukkan minat besar terhadap matematika dan filsafat, namun juga mendalami praktik Zen di kuil Myōshinji di Kyoto. Pengalaman kontemplatif ini kelak menjadi landasan bagi pemikirannya tentang kesadaran murni (junsui keiken).
Pada tahun 1893, Nishida masuk Universitas Kekaisaran Tokyo dan belajar di bawah bimbingan Ernest Fenollosa, seorang pengajar yang memperkenalkan filsafat Barat ke Jepang. Ia mempelajari karya-karya Immanuel Kant, William James, dan Hegel, serta memperdalam epistemologi dan logika. Setelah lulus, Nishida mengajar di berbagai universitas, hingga akhirnya menjadi profesor di Universitas Kyoto, tempat ia mendirikan fondasi intelektual yang dikenal sebagai Kyoto School.
Karya pertamanya, Zen no kenkyū (A Study of Good, 1911), menjadi tonggak pemikiran filsafat modern Jepang. Di dalamnya, ia mengemukakan konsep pengalaman murni sebagai kesadaran yang belum terpecah oleh subjek dan objek.
Selama masa hidupnya, Nishida terus mengembangkan gagasan tentang “basho” (tempat) sebagai struktur dasar realitas, dan memperkenalkan logika basho, yaitu upaya memahami realitas melalui relasi timbal balik, bukan melalui oposisi. Ia wafat pada 7 Juni 1945 di Kamakura, Jepang.
Pemikirannya berpengaruh besar terhadap filsuf Jepang modern seperti Hajime Tanabe dan Keiji Nishitani, serta menjadi simbol dialog antara Timur dan Barat dalam filsafat kontemporer.
Konsep junsui keiken atau pengalaman murni adalah dasar seluruh sistem filsafat Nishida. Ia menolak pandangan Cartesian yang memisahkan subjek dan objek. Bagi Nishida, pengalaman sejati terjadi sebelum pemisahan tersebut—suatu kesadaran langsung yang utuh.
Junsui keiken to wa, shukan to taisho no kubetsu ni saki-datsu keiken no jittai de aru. (Zen no kenkyū, 1911, hlm. 12)
Kalimat ini menegaskan bahwa pengalaman murni mendahului segala bentuk pemisahan konseptual antara subjek dan objek. Dalam keadaan ini, kesadaran tidak lagi bersifat reflektif, melainkan langsung, intuitif, dan non-dualis.
Pemikiran ini dipengaruhi oleh satori (pencerahan dalam Zen) serta fenomenologi Husserl. Namun, berbeda dengan fenomenologi, pengalaman murni Nishida tidak berpusat pada ego transendental, melainkan pada aktivitas kesadaran yang mengada bersama dunia (sekai to tomo ni aru ishiki).
Dalam karya Basho-teki Ronri to Shūkyō-teki Sekai-kan (The Logic of Place and the Religious Worldview, 1945), Nishida memperkenalkan konsep basho atau “tempat”. Basho adalah wadah ontologis tempat segala hal muncul dan saling menegasikan namun juga menyatu.
Basho to wa, subete no sonzai ga sono naka de sōgo ni mujun shi nagara jitsuzai suru tokoro de aru. (Basho-teki Ronri to Shūkyō-teki Sekai-kan, 1945, hlm. 37)
Kutipan ini menunjukkan bahwa bagi Nishida, realitas bersifat paradoksal—suatu kesatuan dalam pertentangan (sokuhi), di mana segala sesuatu ada melalui negasi dirinya sendiri. Basho bukanlah ruang fisik, melainkan struktur eksistensial yang menampung segala dialektika kehidupan.
Dengan konsep ini, Nishida menolak logika Aristoteles yang menekankan prinsip nonkontradiksi, dan menggantinya dengan logika kontradiksi identitas, di mana sesuatu dapat “menjadi dirinya dengan menyangkal dirinya sendiri.”
Logika ini merupakan upaya Nishida untuk menjelaskan bagaimana realitas dapat dipahami secara dinamis. Sokuhi berarti “adalah-tidak adalah”, menunjuk pada proses di mana setiap eksistensi hanya dapat dipahami melalui negasinya.
Konsep ini memperlihatkan bahwa realitas bukanlah kumpulan entitas statis, melainkan proses relasional yang terus-menerus menjadi. Dalam hal ini, Nishida menggemakan baik dialektika Hegel maupun prinsip mu (ketiadaan) dalam Buddhisme Zen.
Dalam konteks filsafat agama, Nishida melihat Tuhan bukan sebagai entitas personal yang terpisah dari dunia, melainkan sebagai fondasi kesadaran absolut. Ia menyebut Tuhan sebagai “tempat tertinggi” (saikō no basho), di mana semua kontradiksi menemukan kesatuan.
Kami wa mu no basho de ari, soko ni oite subete no sonzai wa onaji jissai ni musubarete iru. (Basho-teki Ronri to Shūkyō-teki Sekai-kan, 1945, hlm. 58)
Pernyataan ini mencerminkan bahwa pengalaman religius dalam pandangan Nishida bersifat ontologis dan universal, bukan sekadar teistik. Ia berusaha menyingkap “dimensi ilahi” dari keberadaan itu sendiri, di mana manusia dan Tuhan saling berelasi dalam ruang kesadaran yang sama.
Dalam karyanya Zange to Shite no Sekai (The World as Self-Negation, 1936), Nishida membahas tindakan etis sebagai ekspresi dari kesadaran murni. Tindakan sejati muncul bukan dari kehendak ego, melainkan dari mu no kokoro—hati yang telah mengosongkan diri dari kepentingan pribadi.
Etika Nishida tidak bersifat normatif, tetapi eksistensial, menekankan kesadaran langsung terhadap keterikatan diri dengan seluruh realitas. Tindakan moral sejati adalah tindakan yang muncul dari kesadaran non-dual antara diri dan dunia.
Kitarō Nishida adalah filsuf yang berusaha memadukan rasionalitas Barat dan spiritualitas Timur. Melalui konsep-konsep seperti junsui keiken, basho, dan sokuhi no ronri, ia membangun suatu sistem filsafat yang dinamis dan holistik, menolak dualisme antara pikiran dan dunia, subjek dan objek, serta iman dan rasio. Pemikirannya menjadi landasan bagi dialog lintas budaya dalam filsafat kontemporer dan menjadikan Jepang sebagai pusat pemikiran filosofis global pada abad ke-20.
Bahwa realitas hanya dapat dipahami melalui pengalaman murni yang melampaui dualisme antara subjek dan objek.
Bagi Nishida, Tuhan adalah “tempat tertinggi” di mana segala kontradiksi eksistensial disatukan dalam kesadaran absolut.
Karena ia adalah tokoh pertama yang berhasil mensintesiskan tradisi Zen dengan logika Barat secara sistematis dan mendalam.