Dipublikasikan: 13 Januari 2026
Terakhir diperbarui: 13 Januari 2026
Dipublikasikan: 13 Januari 2026
Terakhir diperbarui: 13 Januari 2026
Raymond Kelvin Nando — Keong Mas adalah folklor Jawa yang terkenal sebagai legenda transformasi dan kesetiaan, mengisahkan seorang putri yang dikutuk menjadi keong emas namun tetap mempertahankan kebajikan, ketabahan, dan cinta sejati. Cerita ini hidup kuat dalam tradisi lisan, sastra, dan seni pertunjukan Jawa, serta sering ditafsirkan sebagai alegori tentang kemenangan dharma atas kejahatan. Dalam kajian folklor, Keong Mas dipahami sebagai legenda moral-romantik yang menekankan nilai kesabaran, kejujuran, dan keadilan kosmis.
Daftar Isi
Folklor Keong Mas berkisah tentang Dewi Candra Kirana, putri Kerajaan Daha (atau Kediri dalam beberapa versi), yang dikenal akan kecantikan dan keluhuran budi. Ia bertunangan dengan Raden Inu Kertapati, pangeran dari Kerajaan Kahuripan. Namun kebahagiaan mereka terancam oleh kecemburuan Dewi Galuh Ajeng, saudari Candra Kirana, yang menginginkan Inu Kertapati untuk dirinya sendiri.
Melalui tipu daya dan bantuan kekuatan gaib, Galuh Ajeng mengutuk Candra Kirana menjadi seekor keong emas dan membuangnya ke sungai. Keong emas tersebut kemudian ditemukan oleh seorang nenek miskin yang hidup sederhana. Setiap kali nenek itu pergi bekerja, keong emas berubah kembali menjadi manusia dan menyiapkan makanan, hingga akhirnya rahasia tersebut terbongkar.
Sementara itu, Raden Inu Kertapati berkelana mencari tunangannya. Berkat pertolongan dewa dan terbongkarnya kejahatan Galuh Ajeng, kutukan Candra Kirana akhirnya dipatahkan. Ia kembali ke wujud semula dan bersatu kembali dengan Inu Kertapati. Kisah ini ditutup dengan keadilan kosmis: kebaikan memperoleh ganjaran, sementara kejahatan menerima hukuman.
Folklor Keong Mas termasuk dalam kategori legenda, dengan unsur magis dan romantik yang kuat. Dalam klasifikasi folklor, cerita ini dapat dikelompokkan sebagai:
Sebagai legenda, Keong Mas memiliki keterkaitan simbolik dengan nilai sosial dan pandangan kosmologis masyarakat Jawa.
Folklor Keong Mas berkembang dalam konteks budaya Jawa yang menekankan harmoni, kesabaran, dan keseimbangan antara kehendak manusia dan kekuatan adikodrati. Transformasi manusia menjadi hewan atau benda kerap muncul dalam cerita Jawa sebagai ujian moral, bukan sekadar hukuman fisik.
Cerita ini juga merefleksikan struktur sosial kerajaan Jawa, di mana konflik internal istana, kecemburuan, dan perebutan kekuasaan menjadi sumber tragedi. Kehadiran tokoh nenek miskin menegaskan nilai kebajikan rakyat kecil, yang sering digambarkan sebagai penjaga moralitas sejati. Dalam seni pertunjukan seperti wayang dan drama tari, Keong Mas berfungsi sebagai sarana pendidikan etika dan estetika.
Folklor Keong Mas memiliki makna dan fungsi penting dalam kebudayaan Jawa dan pendidikan moral, antara lain:
Keong Mas adalah cerita rakyat Jawa yang mengisahkan seorang putri cantik yang dikutuk menjadi seekor keong emas. Folklor ini termasuk dongeng tradisional yang diwariskan secara lisan dan populer di berbagai daerah di Indonesia.
Inti cerita Keong Mas berpusat pada Putri Candra Kirana yang dikutuk oleh tokoh antagonis karena iri hati. Dalam wujud keong, ia akhirnya ditemukan oleh seorang nenek baik hati, hingga kutukan tersebut terlepas dan sang putri kembali ke wujud aslinya serta bersatu kembali dengan pangeran.
Cerita Keong Mas mengandung nilai moral tentang kesabaran, kebaikan hati, dan keadilan. Folklor ini mengajarkan bahwa kejahatan dan iri hati akan membawa penderitaan, sementara ketulusan dan kebaikan pada akhirnya akan mendapatkan balasan yang baik.