Raymond Kelvin Nando — Karl Popper adalah seorang filsuf asal Austria-Inggris yang dikenal luas karena kontribusinya pada filsafat ilmu, terutama melalui konsep falsifiability (dapat difalsifikasi) sebagai kriteria demarkasi antara ilmu dan non-ilmu. Ia juga terkenal sebagai pemikir politik liberal yang menekankan pentingnya masyarakat terbuka dan kritik terhadap totalitarianisme.
Daftar Isi
Biografi Karl Popper
Karl Raimund Popper lahir pada 28 Juli 1902 di Wina, Austria, dari keluarga Yahudi yang kemudian berpindah agama ke Lutheranisme. Ia tumbuh di lingkungan intelektual yang kaya dengan tradisi musik, filsafat, dan ilmu pengetahuan.
Pada masa mudanya, Popper sempat tertarik dengan ide-ide sosialisme dan bahkan berhubungan dengan gerakan Marxis. Namun, ia segera meninggalkan komunisme setelah kecewa terhadap kekerasan yang dilakukan oleh rezim-rezim otoriter.
Popper menempuh studi di Universitas Wina dan memperoleh gelar doktor dalam bidang psikologi pada 1928. Di Wina, ia berhubungan dengan Lingkaran Wina (Vienna Circle), meskipun ia menolak positivisme logis mereka, terutama anggapan bahwa verifikasi adalah dasar utama ilmu pengetahuan.
Pada 1937, Popper pindah ke Selandia Baru untuk mengajar di University of Canterbury, Christchurch. Setelah Perang Dunia II, ia menetap di Inggris dan menjadi profesor di London School of Economics, di mana ia menghasilkan karya-karya besar tentang filsafat ilmu dan politik.
Karl Popper meninggal pada 17 September 1994 di London. Warisannya mencakup teori ilmu pengetahuan modern, kritik terhadap totalitarianisme, serta pembelaan atas rasionalitas dan masyarakat terbuka.
Konsep-Konsep Utama
Falsifiability (Dapat Difalsifikasi)
Salah satu gagasan paling terkenal Popper adalah falsifiability sebagai kriteria demarkasi ilmu pengetahuan.
“In so far as a scientific statement speaks about reality, it must be falsifiable.” (The Logic of Scientific Discovery, 1934, hlm. 37)
“Sejauh sebuah pernyataan ilmiah berbicara tentang realitas, ia harus dapat difalsifikasi.”
Menurut Popper, teori ilmiah yang baik bukanlah yang dapat diverifikasi sepenuhnya, melainkan yang dapat diuji dan mungkin dibantah melalui pengalaman empiris.
The Open Society (Masyarakat Terbuka)
Dalam karya politiknya, Popper mengembangkan gagasan tentang the open society.
“The open society is one in which men have learned to be to some extent critical of taboos, and to base decisions on the authority of their own intelligence.” (The Open Society and Its Enemies, 1945, hlm. 210)
“Masyarakat terbuka adalah masyarakat di mana manusia telah belajar untuk kritis terhadap tabu, dan mendasarkan keputusan pada otoritas akal mereka sendiri.”
Konsep ini digunakan Popper untuk menentang totalitarianisme, baik dalam bentuk fasisme maupun komunisme, dan menekankan pentingnya kebebasan individu, demokrasi, dan rasionalitas.
Piecemal Social Engineering (Rekayasa Sosial Parsial)
Popper menolak revolusi total yang menjanjikan perubahan instan. Sebagai gantinya, ia menganjurkan piecemeal social engineering, yakni perubahan sosial bertahap yang bisa dievaluasi dan diperbaiki.
Menurut Popper, pendekatan ini lebih aman karena memungkinkan masyarakat belajar dari kesalahan tanpa menghancurkan tatanan yang ada.
Dalam Konteks Lain
Filsafat Ilmu
Popper menolak pandangan induktivisme yang mendominasi filsafat ilmu sebelumnya. Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan berkembang bukan melalui akumulasi fakta, tetapi melalui proses conjectures and refutations (dugaan dan sanggahan).
“Science must begin with myths, and with the criticism of myths.” (Conjectures and Refutations, 1963, hlm. 59)
“Ilmu pengetahuan harus dimulai dengan mitos, dan dengan kritik terhadap mitos.”
Dengan demikian, sains dilihat sebagai kegiatan kritis yang terus-menerus menguji hipotesis dan memperbaikinya.
Filsafat Politik
Sebagai filsuf politik, Popper menentang pandangan utopis yang sering menjadi dasar rezim totaliter. Ia menekankan pentingnya kritik terbuka dalam demokrasi dan menolak segala bentuk absolutisme ideologis.
Melalui karyanya The Open Society and Its Enemies, Popper mengkritik tradisi filsafat dari Plato, Hegel, hingga Marx, yang menurutnya memberi legitimasi pada totalitarianisme.
Kesimpulan
Karl Popper adalah filsuf besar abad ke-20 yang mengubah cara pandang terhadap ilmu pengetahuan melalui gagasan falsifiabilitas. Dalam filsafat politik, ia dikenal sebagai pembela masyarakat terbuka, demokrasi, dan rekayasa sosial bertahap. Pemikirannya tetap relevan dalam diskursus ilmu dan kebebasan politik hingga saat ini.
Frequently Asked Questions (FAQ)
Apa itu falsifiabilitas dalam pemikiran Popper?
Falsifiabilitas adalah kriteria yang menentukan bahwa suatu teori ilmiah harus bisa diuji dan berpotensi dibantah oleh pengalaman empiris.
Apa yang dimaksud masyarakat terbuka menurut Popper?
Masyarakat terbuka adalah masyarakat yang menghargai kebebasan, kritik rasional, dan demokrasi, serta menolak totalitarianisme.
Mengapa Popper menolak revolusi total?
Karena ia percaya bahwa perubahan besar-besaran berisiko menghancurkan tatanan sosial; lebih baik perubahan dilakukan secara bertahap dengan rekayasa sosial parsial.
Referensi
- Popper, K. (1934). The Logic of Scientific Discovery. Vienna: Springer.
- Popper, K. (1945). The Open Society and Its Enemies. London: Routledge.
- Popper, K. (1963). Conjectures and Refutations. London: Routledge.
- Magee, B. (1973). Popper. London: Fontana.
- Hacohen, M. H. (2000). Karl Popper: The Formative Years, 1902–1945. Cambridge: Cambridge University Press.
- Shearmur, J. (1996). The Political Thought of Karl Popper. London: Routledge.