John McDowell

Dipublikasikan: 12 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 12 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — John McDowell adalah salah satu filsuf analitik paling signifikan dalam filsafat kontemporer, dikenal melalui sintesis unik antara tradisi analitik dengan gagasan-gagasan Hermann Lotze, G. W. F. Hegel, dan Wilfrid Sellars. Ia mempengaruhi diskursus filsafat pikiran, epistemologi, metaetika, dan filsafat bahasa melalui konsep-konsep seperti “Mind and World,” “second nature,” serta kritiknya terhadap naturalisme reduksionistik. Pemikirannya memetakan kembali hubungan antara rasionalitas, pengalaman, dan dunia, menjadikannya figur sentral dalam perdebatan modern mengenai bagaimana pikiran manusia berhubungan dengan realitas eksternal.

Biografi John McDowell

John Henry McDowell lahir pada 7 Maret 1942 di Boksburg, Afrika Selatan. Ia menempuh pendidikan di University College, Oxford, di bawah bimbingan tokoh-tokoh besar seperti J. L. Austin dan Gilbert Ryle. McDowell menunjukkan bakat luar biasa dalam filsafat bahasa dan logika sejak awal studinya.

Setelah menyelesaikan studi, McDowell mengajar di University College, Oxford, sebelum pindah ke University of Pittsburgh pada 1986, di mana ia menduduki posisi Distinguished University Professor. Di Pittsburgh, ia bekerja bersama tokoh besar seperti Wilfrid Sellars dan Robert Brandom, memperkuat tradisi filsafat Pittsburgh yang menekankan hubungan antara normativitas dan rasionalitas.

Orang lain juga membaca :  Franz Magnis-Suseno

McDowell dikenal sebagai filsuf yang sangat hati-hati, metodis, dan mendalam. Meskipun tidak menulis sebanyak beberapa rekan sezamannya, setiap karyanya menjadi titik rujuk penting dalam perdebatan filosofis. Selain epistemologi dan metafisika, ia juga banyak menulis tentang metaetika, filsafat tindakan, dan hermeneutika.

Pemikiran John McDowell

Mind and World

Pengalaman sebagai bagian dari “space of reasons”

Dalam karya paling berpengaruhnya, Mind and World (1994), McDowell menolak oposisi tajam antara dunia empiris dan rasionalitas. Berlawanan dengan anggapan bahwa pengalaman hanyalah input pasif, ia menyatakan bahwa pengalaman memiliki kandungan konseptual (conceptual content). Maka pengalaman dapat menjadi alasan bagi keyakinan, bukan sekadar rangsangan kausal.

Ini adalah kritik terhadap representasionalisme yang memisahkan pikiran dari dunia.

Kritik terhadap dua ekstrem naturalisme

McDowell memaparkan dua bentuk naturalisme bermasalah:

  • Naturalisme reduksionistik: ingin menjelaskan pikiran hanya melalui ilmu alam.
  • Naturalisme dualistik: menganggap pikiran berada “di luar” dunia alam.

Ia menawarkan naturalism yang disempurnakan (re-enchanted naturalism), yakni melihat rasionalitas sebagai bagian dari alam, tetapi bukan jenis fenomena yang dapat direduksi secara ilmiah.

Second Nature

McDowell memperkenalkan konsep second nature, yaitu kapasitas normatif dan linguistik manusia yang berkembang melalui pembiasaan dan pendidikan (Bildung). Kedewasaan rasional manusia bukanlah keadaan bawaan, tetapi hasil dari proses sosial dan budaya.

Epistemologi dan Kritik terhadap Skeptisisme

Melawan “veiled reality”

Menurut McDowell, skeptisisme muncul karena asumsi keliru bahwa pikiran hanya menerima representasi internal, bukan dunia itu sendiri. Ia menolak ide bahwa ada “tirai persepsi” yang memisahkan pengalaman dari dunia.

Pengalaman bukan gambar mental, melainkan keterbukaan rasional terhadap dunia itu sendiri.

Epistemologi non-inferensial

McDowell mempertahankan bahwa:

  • Beberapa keyakinan dasar (misalnya persepsi visual) dapat memiliki rasionalitas intrinsik
  • Tanpa memerlukan langkah inferensial tambahan
    Dengan demikian, ia melawan foundationalism klasik dan internalism yang terlalu menekankan bukti internal.
Orang lain juga membaca :  Johann Gottfried Herder

Metaetika dan Rasionalitas Moral

Menghidupkan kembali gagasan Aristotelian tentang kebajikan

Dalam etika, McDowell menekankan peran pengalaman moral dan pembiasaan. Ia menolak gagasan bahwa nilai moral bersifat murni subjektif atau murni objektif. Alih-alih, nilai-nilai tersebut dapat dipahami oleh agen yang telah melalui pembentukan etis yang tepat.

Fakta nilai sebagai bagian dari “second nature”

Menurut McDowell, orang yang terdidik secara moral tidak hanya “merasa” tetapi melihat alasan moral dalam situasi tertentu. Rasionalitas moral bersifat praktis dan terwujud dalam sensitivitas terhadap alasan, bukan dalam kalkulasi deduktif.

Filsafat Bahasa dan Pikiran

Kritik terhadap semantik eksternalis ekstrem

Meskipun menerima beberapa aspek eksternalisme, McDowell menolak pandangan yang terlalu menekankan peran lingkungan eksternal sehingga mengesampingkan kapasitas normatif internal penutur. Makna melibatkan kombinasi antara:

  • normativitas linguistik
  • praktik sosial
  • pemahaman konseptual internal

The “no-priority view” antara pikiran dan dunia

McDowell menolak gagasan bahwa pikiran menentukan dunia (idealism), atau bahwa dunia menentukan pikiran (empiricism). Ia berpendapat bahwa hubungan antara keduanya bersifat interpenetrating: dunia dan pikiran saling membentuk dalam pengalaman.

Sellars, Kant, dan Fenomenologi

Integrasi antara fenomenologi dan analitik

McDowell memanfaatkan ide-ide dari Kant, Hegel, dan fenomenologi untuk merombak tradisi analitik:

  • Kant: hubungan antara konsep dan intuisi
  • Hegel: peran normativitas dalam kehidupan rasional
  • Sellars: kritik terhadap “the myth of the given”

McDowell mencoba menyatukan aspek positif dari ketiganya, sambil menghindari kesulitan-kesulitan ekstrem dari masing-masing tradisi.

Normativitas sebagai inti rasionalitas

Ia menolak pandangan bahwa kognisi dapat dijelaskan secara mekanistik. Rasionalitas, baginya, adalah kemampuan untuk terlibat dalam pertimbangan normatif—kemampuan membuat alasan dan memahami alasan.

Kritik terhadap Representasionalisme dan Naturalism Ilmiah

Dunia tidak perlu direduksi menjadi entitas-ilmiah semata

McDowell berpendapat bahwa ilmu alam hanya salah satu cara berhubungan dengan dunia. Ada bentuk penjelasan normatif yang tidak dapat direduksi pada penjelasan kausal. Ini membedakannya dari banyak filsuf analitik kontemporer.

Orang lain juga membaca :  Gottfried Wilhelm Leibniz

Representasionalisme adalah gambaran keliru tentang pikiran

Ia menolak pandangan bahwa pikiran bekerja seperti mesin pengolah simbol. Baginya, representasi bukan entitas mental yang dipindahkan dan ditransformasi, melainkan bagian dari keterlibatan rasional manusia dalam dunia.

Karya-Karya Penting John McDowell

  • Mind and World (1994)
  • Meaning, Knowledge, and Reality (1998)
  • Mind, Value, and Reality (1998)
  • Having the World in View: Essays on Kant, Hegel, and Sellars (2009)
  • The Engaged Intellect (2009)
  • The Logical Form of Addiction (1982, artikel berpengaruh dalam filsafat tindakan)
  • Virtue and Reason (makalah klasik dalam metaetika)

Referensi

  • McDowell, J. (1994). Mind and world. Harvard University Press.
  • McDowell, J. (1998). Mind, value, and reality. Harvard University Press.
  • Brandom, R. (2000). Articulating reasons: An introduction to inferentialism. Harvard University Press.
  • Heck, R. G. (Ed.). (2011). Reading McDowell: On mind and world. Harvard University Press.
  • Brewer, B. (2011). Perception and its objects. Oxford University Press.
  • Williams, M. (1999). Groundless beliefs: An essay on epistemology and mind. Princeton University Press.

Citation

Previous Article

Hilary Putnam

Next Article

Robert Brandom

Citation copied!