John Gray

Dipublikasikan: 17 Oktober 2025

Terakhir diperbarui: 17 Oktober 2025

Raymond Kelvin Nando — John Gray adalah seorang filsuf politik asal Inggris yang dikenal karena kritik tajamnya terhadap liberalisme modern, utopianisme politik, dan optimisme rasionalisme Barat. Ia menonjol sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam filsafat politik kontemporer, dengan karya-karya yang menyoroti keterbatasan manusia, pluralitas nilai, serta kebutuhan untuk memahami politik sebagai arena kompromi, bukan penyelamatan moral.

Biografi John Gray

John Nicholas Gray lahir pada 17 April 1948 di South Shields, Inggris. Ia menempuh pendidikan di University of Exeter dan kemudian melanjutkan studi di University of Oxford, di mana ia meraih gelar doktor dalam bidang filsafat politik. Gray sempat mengajar di sejumlah universitas ternama seperti Oxford, Harvard, Yale, dan London School of Economics (LSE), tempat ia menjadi profesor emeritus teori pemikiran politik.

Pada awal kariernya, Gray dikenal sebagai penganut liberalisme dan sempat mendukung karya John Rawls. Namun, sejak akhir 1980-an, pandangannya berubah drastis menjadi kritik terhadap liberalisme, terutama setelah pengaruh dari Isaiah Berlin dan Nietzsche.

Karya-karya pentingnya meliputi Liberalism (1986), Enlightenment’s Wake (1995), Straw Dogs: Thoughts on Humans and Other Animals (2002), dan Black Mass: Apocalyptic Religion and the Death of Utopia (2007). Ia dikenal karena gaya tulisnya yang tajam dan provokatif, menolak pandangan kemajuan linear manusia dan menyoroti sisi tragis eksistensi.

Konsep-Konsep Utama

Kritik terhadap Liberalisme

Gray memulai karier akademiknya sebagai pembela liberal equality, namun kemudian berbalik menjadi pengkritik utama liberalisme. Ia menilai bahwa liberalisme modern—baik dalam bentuk liberal egalitarianism ala Rawls maupun libertarianism ala Nozick—berasal dari asumsi utopis tentang sifat manusia dan rasionalitas moral universal.

Liberalism rests on the illusion that all human beings can be reconciled within a single moral framework of rights and reason.
(Enlightenment’s Wake, 1995, hlm. 22)

Menurut Gray, liberalisme gagal memahami pluralisme nilai yang melekat dalam kehidupan manusia. Tidak ada satu sistem moral atau politik yang bisa mencakup seluruh cara hidup manusia, karena nilai-nilai sering kali tidak dapat didamaikan (incommensurable). Ia mengambil inspirasi dari Isaiah Berlin dalam hal pluralisme ini, namun memperluasnya menjadi kritik mendasar terhadap rasionalisme moral modern.

Orang lain juga membaca :  Anarkisme Komunis

Bagi Gray, liberalisme adalah proyek sekuler yang diwarisi dari Pencerahan (Enlightenment), yang percaya pada kemajuan moral dan rasionalitas manusia. Ia menilai kepercayaan ini sebagai bentuk “agama politik baru” yang menggantikan mitos keselamatan religius dengan utopia sekuler.

Kritik terhadap Humanisme dan Kemajuan

Dalam Straw Dogs (2002), Gray melancarkan serangan tajam terhadap kepercayaan modern pada kemajuan manusia, sains, dan humanisme.

Modern humanism is the faith that through science and reason, humanity can transcend its animal origins. It is a secular religion, no less deluded than those it replaced.
(Straw Dogs, 2002, hlm. 5)

Gray menegaskan bahwa manusia bukanlah makhluk rasional yang mampu mengatasi keterbatasannya. Semua proyek besar modern—baik kapitalisme, sosialisme, maupun liberalisme—adalah varian dari keyakinan bahwa manusia dapat “menjadi tuhan bagi dirinya sendiri”.

Namun bagi Gray, sejarah menunjukkan bahwa manusia tetap tunduk pada dorongan biologis, konflik, dan hasrat kekuasaan. Ia melihat peradaban sebagai lapisan tipis yang menutupi naluri primitif, bukan bukti kemajuan moral.

Dengan demikian, Straw Dogs adalah pernyataan anti-humanis yang menolak pandangan antropocentris Barat. Gray menegaskan bahwa manusia hanyalah salah satu spesies di antara banyak makhluk hidup, dan tidak memiliki tujuan kosmik yang istimewa.

Anti-Utopianisme dan Agama Politik

Dalam Black Mass: Apocalyptic Religion and the Death of Utopia (2007), Gray berpendapat bahwa sebagian besar ideologi politik modern adalah turunan sekuler dari apokaliptisisme religius.

Modern political faiths are Christian heresies. They promise salvation in history rather than beyond it.
(Black Mass, 2007, hlm. 14)

Ia melihat proyek-proyek utopis seperti revolusi komunis, liberalisme global, atau intervensi demokrasi Barat sebagai manifestasi baru dari mitos keselamatan yang diambil dari agama Kristen. Bedanya, keselamatan kini dijanjikan dalam bentuk duniawi — melalui rasionalitas, sains, atau demokrasi liberal.

Orang lain juga membaca :  George Berkeley

Gray menolak pandangan ini dengan menegaskan bahwa sejarah tidak memiliki arah moral atau teleologi. Dunia, menurutnya, adalah arena tragedi berulang, bukan proses menuju kesempurnaan.

Pluralisme dan Realisme Tragis

Gray kemudian menawarkan pendekatan yang bisa disebut realisme tragis: pengakuan bahwa konflik nilai, keterbatasan moral, dan ketiadaan tujuan universal adalah bagian permanen dari kondisi manusia.

The truth is that there is no ultimate reconciliation. Human conflict and loss are not errors to be overcome but features of our fate.
(The Silence of Animals, 2013, hlm. 47)

Ia menyerukan sikap yang lebih rendah hati terhadap eksistensi—bukan pesimisme nihilistik, tetapi kesadaran akan ketidakterhinggaan konflik dan keterbatasan manusia. Dengan demikian, ia mengajak manusia untuk hidup secara etis tanpa mengandalkan ilusi kemajuan universal.

Dalam Konteks Lain

Filsafat Politik dan Moral Kontemporer

Pemikiran John Gray telah menjadi antitesis terhadap optimisme liberal dan teori keadilan modern. Ia berkontribusi dalam menghidupkan kembali realisme politik, sejalan dengan pemikir seperti Bernard Williams dan Raymond Geuss.

Political understanding begins when we stop expecting politics to redeem us.
(Gray’s Anatomy: Selected Writings, 2009, hlm. 33)

Kutipan ini menegaskan bahwa politik bukanlah sarana keselamatan, tetapi seni mengelola keterbatasan dan perbedaan.

Pemikiran Gray banyak memengaruhi diskursus tentang pasca-liberalisme, di mana ia menyerukan dunia yang menerima pluralitas tanpa memaksakan kesatuan moral. Ia menolak semua bentuk ideologi universal—baik sekuler maupun religius—dan mendorong sikap skeptis terhadap setiap klaim “akhir sejarah”.

Kesimpulan

John Gray menandai era baru dalam kritik terhadap modernitas. Ia mengguncang fondasi keyakinan akan kemajuan, rasionalitas, dan humanisme, sekaligus membuka ruang bagi pandangan yang lebih realistis, tragis, dan pluralistik terhadap kondisi manusia.

Orang lain juga membaca :  Galileo Galilei

Filsafat Gray adalah peringatan bahwa utopia selalu berujung pada kekacauan, dan bahwa kebijaksanaan sejati terletak pada pengakuan atas batasan manusia serta ketidaksempurnaan sejarah.

FAQ

Apa inti kritik John Gray terhadap liberalisme?

Gray menilai liberalisme didasarkan pada ilusi moral universal dan optimisme rasional, yang gagal memahami pluralitas nilai dan realitas konflik manusia.

Mengapa Gray disebut anti-humanis?

Karena ia menolak pandangan bahwa manusia memiliki posisi istimewa di alam semesta atau mampu mencapai kesempurnaan moral melalui akal dan sains.

Apa makna “Black Mass” dalam karya Gray?

Itu adalah metafora bagi agama-agama politik modern yang menjanjikan keselamatan duniawi, seperti komunisme dan liberalisme global.

Referensi

  • Gray, J. (1995). Enlightenment’s Wake: Politics and Culture at the Close of the Modern Age. Routledge.
  • Gray, J. (2002). Straw Dogs: Thoughts on Humans and Other Animals. Granta Books.
  • Gray, J. (2007). Black Mass: Apocalyptic Religion and the Death of Utopia. Farrar, Straus and Giroux.
  • Gray, J. (2013). The Silence of Animals: On Progress and Other Modern Myths. Farrar, Straus and Giroux.
  • Franco, P. (2012). The Political Philosophy of John Gray. Oxford University Press.
  • Geuss, R. (2008). Philosophy and Real Politics. Princeton University Press.

Citation

Previous Article

Michael Oakeshott

Next Article

Pierre-Joseph Proudhon

Citation copied!