Dipublikasikan: 23 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025
Dipublikasikan: 23 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Jaka Tarub adalah folklor Jawa yang sangat dikenal dalam tradisi lisan Nusantara, mengisahkan pertemuan antara manusia dan makhluk kahyangan yang berujung pada pernikahan, pelanggaran janji, dan perpisahan tragis. Cerita ini menempati posisi penting dalam khazanah legenda Jawa karena memuat refleksi tentang rasa ingin tahu, kejujuran, batas antara dunia manusia dan dunia sakral, serta konsekuensi dari pelanggaran etika. Dalam kajian folklor, Jaka Tarub dipahami sebagai legenda mitologis yang menjelaskan hubungan kosmis antara alam manusia dan alam dewata sekaligus menyampaikan pesan moral yang kuat.
Daftar Isi
Folklor Jaka Tarub mengisahkan seorang pemuda desa bernama Jaka Tarub yang hidup sederhana dan gemar berburu di hutan. Suatu hari, ia melihat sekelompok bidadari turun dari kahyangan untuk mandi di sebuah telaga. Terpesona oleh kecantikan mereka, Jaka Tarub menyembunyikan salah satu selendang bidadari bernama Nawang Wulan, yang merupakan sumber kekuatan magis untuk kembali ke kahyangan.
Karena kehilangan selendangnya, Nawang Wulan tidak dapat kembali ke dunia asalnya dan akhirnya menerima lamaran Jaka Tarub. Mereka hidup sebagai suami istri dan dikaruniai seorang anak. Nawang Wulan memiliki kesaktian yang memudahkan kehidupan rumah tangga, termasuk kemampuan memasak hanya dengan sebutir padi. Namun, ia menetapkan satu syarat penting: Jaka Tarub tidak boleh membuka tutup tempat penyimpanan beras.
Didorong rasa ingin tahu, Jaka Tarub melanggar larangan tersebut. Kesaktian Nawang Wulan pun lenyap, dan kehidupan mereka berubah menjadi lebih berat. Pada akhirnya, Nawang Wulan menemukan kembali selendangnya yang tersembunyi dan memutuskan kembali ke kahyangan, meninggalkan Jaka Tarub dan anak mereka. Perpisahan ini menandai konsekuensi atas pelanggaran janji dan batas kosmis antara manusia dan makhluk ilahi.
Folklor Jaka Tarub termasuk dalam kategori legenda, dengan unsur mitologis yang kuat. Dalam klasifikasi folklor, cerita ini dapat dikelompokkan sebagai:
Sebagai legenda, kisah ini dipercaya memiliki keterkaitan simbolik dengan dunia nyata dan nilai-nilai sosial masyarakat.
Folklor Jaka Tarub berkembang dalam konteks budaya Jawa yang sarat dengan konsep harmoni, keseimbangan, dan kepatuhan terhadap aturan tak tertulis. Hubungan antara manusia dan makhluk kahyangan mencerminkan pandangan kosmologis Jawa tentang adanya lapisan dunia yang saling berhubungan tetapi tidak boleh dilanggar secara sembarangan.
Cerita ini juga menegaskan nilai penting kejujuran dan pengendalian diri. Pelanggaran terhadap janji dan rasa ingin tahu yang berlebihan digambarkan membawa kehancuran keharmonisan rumah tangga. Dalam konteks sosial, Jaka Tarub sering ditafsirkan sebagai kritik terhadap perilaku laki-laki yang melanggar batas etika demi kepentingan pribadi.
Folklor Jaka Tarub memiliki makna dan fungsi penting dalam kebudayaan Jawa, antara lain:
Jaka Tarub adalah tokoh dalam folklor Jawa yang dikenal melalui kisah pertemuannya dengan bidadari dari kayangan. Cerita ini termasuk legenda rakyat yang menjelaskan asal-usul hubungan manusia dengan makhluk kahyangan dalam tradisi lisan Jawa.
Inti cerita Jaka Tarub berkisah tentang seorang pemuda yang menyembunyikan selendang bidadari bernama Nawang Wulan sehingga ia tidak dapat kembali ke kayangan dan akhirnya menikah dengannya. Konflik muncul ketika kejujuran dilanggar, yang berujung pada perpisahan mereka.
Cerita Jaka Tarub mengandung pesan tentang pentingnya kejujuran, kepercayaan, dan tanggung jawab dalam hubungan. Folklor ini juga mengajarkan bahwa pelanggaran janji dan tipu daya akan membawa konsekuensi, meskipun diawali dengan kebahagiaan.