Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Dipublikasikan: 8 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Jainisme adalah salah satu agama kuno yang berasal dari India, dikenal karena menekankan ahimsa atau non-kekerasan yang ketat, serta penghormatan terhadap semua makhluk hidup. Agama ini mengajarkan jalan spiritual untuk mencapai moksha, yaitu pembebasan jiwa dari siklus kelahiran dan kematian (samsara), melalui disiplin moral, meditasi, dan pengekangan diri. Jainisme menekankan tanggung jawab individu dalam menjaga karma agar jiwa dapat berkembang menuju kesucian dan pencerahan.
Daftar Isi
Ajaran Jainisme berpusat pada lima prinsip utama yang dikenal sebagai Mahavratas bagi biksu dan Anuvratas bagi umat awam: non-kekerasan (ahimsa), tidak berbohong (satya), tidak mencuri (asteya), menahan hawa nafsu berlebihan (brahmacharya), dan tidak menumpuk harta secara berlebihan (aparigraha). Ahimsa dianggap sebagai prinsip paling penting, yang diterapkan secara ketat dalam diet vegetarian, perilaku sehari-hari, dan interaksi dengan makhluk hidup. Jainisme juga menekankan karma sebagai hukum moral yang menentukan nasib jiwa, sehingga tindakan etis dan disiplin spiritual sangat penting untuk mencapai pembebasan.
Selain aspek etika, Jainisme memiliki ajaran metafisika yang kompleks, termasuk doktrin tentang jiwa (jiva), materi (ajiva), dan prinsip kosmologi yang unik. Umat Jain juga diajarkan untuk melakukan meditasi, puasa, dan ritual keagamaan yang memperkuat kesadaran spiritual, serta mengikuti ajaran para Tirthankara—para guru suci yang mencapai pencerahan dan membimbing umat menuju pembebasan.
Jainisme telah ada sejak ribuan tahun sebelum era modern, dengan akar yang sangat tua di India. Ajaran awal Jain dipopulerkan oleh para Tirthankara, yang merupakan guru spiritual yang mencapai pencerahan dan membimbing umat untuk menghindari kekerasan dan keterikatan duniawi. Mahavira, Tirthankara terakhir yang hidup pada abad ke-6 hingga ke-5 SM, dianggap sebagai tokoh penting yang merapikan dan menegaskan prinsip-prinsip Jainisme. Di bawah ajaran Mahavira, komunitas Jain mulai tersusun secara sistematis dengan aturan etika yang ketat dan praktik spiritual yang terorganisir.
Seiring berjalannya waktu, Jainisme berkembang di berbagai wilayah India, membentuk komunitas yang disiplin, terpelajar, dan berpengaruh dalam bidang perdagangan, pendidikan, dan seni. Sekitar abad pertama Masehi hingga pertengahan abad pertama Masehi, Jainisme membagi dirinya menjadi dua aliran utama: Digambara, yang menekankan asketisme ekstrem dan ketelanjangan simbolis bagi biksu, dan Svetambara, yang lebih moderat dalam praktik berpakaian biksu tetapi tetap menekankan kesalehan dan disiplin moral. Kedua aliran ini menyebar ke berbagai wilayah India, termasuk Gujarat, Rajasthan, Maharashtra, dan Karnataka, membangun kuil, institusi pendidikan, dan jaringan sosial yang mempromosikan ajaran non-kekerasan.
Pada era modern, Jainisme tetap eksis sebagai agama minoritas yang menekankan pendidikan, etika sosial, dan ekonomi. Komunitas Jain di India dan diaspora internasional aktif dalam perdagangan, filantropi, serta gerakan perdamaian dan lingkungan, sambil menjaga ajaran klasik mereka tentang ahimsa, disiplin, dan pembebasan jiwa.
Beberapa tokoh penting dalam Jainisme meliputi Mahavira, Tirthankara ke-24, yang merumuskan prinsip-prinsip etika dan spiritual Jain yang masih diikuti hingga saat ini. Tokoh-tokoh lainnya termasuk para biksu Digambara dan Svetambara yang menyebarkan ajaran Jainisme melalui pendidikan, meditasi, dan kepemimpinan spiritual. Para pemimpin Jain modern juga berperan dalam mempromosikan pendidikan, keterlibatan sosial, dan pelestarian budaya serta tradisi agama.