Dipublikasikan: 23 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025
Dipublikasikan: 23 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 23 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Inanna adalah dewi utama dalam folklor dan mitologi Mesopotamia kuno yang melambangkan cinta, kesuburan, hasrat seksual, kekuasaan, dan peperangan. Ia merupakan salah satu figur mitologis tertua yang tercatat dalam sejarah manusia, berasal dari peradaban Sumeria dan kemudian diserap ke dalam budaya Akkadia, Babilonia, dan Asyur dengan nama Ishtar. Dalam kajian folklor, Inanna dipahami sebagai figur mitos kosmik yang kompleks dan ambivalen, merepresentasikan kekuatan penciptaan sekaligus kehancuran, serta menjadi cermin pandangan dunia masyarakat Mesopotamia tentang kehidupan, kematian, dan kekuasaan.
Daftar Isi
Folklor Inanna mencakup berbagai mitos yang menggambarkan perannya sebagai dewi langit, cinta, dan perang. Salah satu kisah paling terkenal adalah Turunnya Inanna ke Dunia Bawah. Dalam cerita ini, Inanna memutuskan untuk mengunjungi dunia bawah yang dikuasai oleh saudara perempuannya, Ereshkigal. Untuk memasuki alam kematian, Inanna harus melewati tujuh gerbang dan melepaskan atribut ilahinya satu per satu, hingga akhirnya ia tiba dalam keadaan telanjang dan tak berdaya.
Di dunia bawah, Inanna diadili dan kemudian dibunuh, jasadnya digantung seperti bangkai. Kematian Inanna menyebabkan kekacauan di dunia atas: kesuburan menghilang, hasrat padam, dan kehidupan terhenti. Melalui campur tangan para dewa dan kecerdikan pelayannya, Ninshubur, Inanna akhirnya dihidupkan kembali dengan syarat harus menyerahkan pengganti untuk tinggal di dunia bawah. Ia kemudian memilih Dumuzi, kekasihnya, yang siklus kematian dan kebangkitannya menjelaskan pergantian musim.
Selain kisah dunia bawah, folklor Inanna juga menampilkan dirinya sebagai dewi yang ambisius dan politis. Dalam mitos Inanna dan Enki, ia mencuri me—prinsip-prinsip peradaban—dari dewa kebijaksanaan Enki, lalu membawanya ke kota Uruk. Tindakan ini menegaskan peran Inanna sebagai pembawa peradaban, kekuasaan kota, dan kemajuan budaya.
Folklor Inanna termasuk dalam kategori mitos, khususnya mitos kosmologis dan mitos dewa-dewi utama. Dalam klasifikasi folklor, kisah-kisah Inanna dapat dikelompokkan sebagai:
Sebagai mitos, cerita Inanna berfungsi menjelaskan struktur kosmos, siklus alam, serta hubungan antara manusia dan kekuatan ilahi.
Folklor Inanna berkembang dalam konteks peradaban Mesopotamia, khususnya Sumeria, sekitar milenium ke-3 SM. Ia dipuja sebagai pelindung kota Uruk dan menjadi simbol kekuatan urban, politik, dan religius. Dalam masyarakat yang bergantung pada pertanian dan irigasi, Inanna dipandang sebagai pengendali kesuburan tanah, kelahiran, dan kelangsungan hidup komunitas.
Budaya Mesopotamia memiliki pandangan dunia yang menekankan ketidakpastian hidup dan kekuasaan dewa-dewi yang sering bersifat ambivalen. Inanna mencerminkan pandangan ini secara ekstrem: ia dapat memberi kehidupan sekaligus membawa kehancuran. Perannya sebagai dewi perang juga menunjukkan bahwa kekuasaan dan kekerasan dipahami sebagai bagian sah dari tatanan kosmis dan politik.
Folklor Inanna memiliki makna dan fungsi penting dalam kehidupan religius dan simbolik masyarakat Mesopotamia, antara lain:
Inanna adalah dewi utama dalam mitologi Mesopotamia kuno, khususnya dalam kebudayaan Sumeria. Ia dikenal sebagai dewi cinta, kesuburan, perang, dan kekuasaan, serta merupakan salah satu dewa paling penting dan kompleks dalam panteon Mesopotamia.
Inanna berperan sebagai simbol kekuatan kehidupan dan kehancuran sekaligus. Ia muncul dalam berbagai mitos penting, termasuk kisah penurunannya ke dunia bawah, yang menggambarkan siklus kematian dan kelahiran kembali serta dinamika kekuasaan kosmis.
Inanna penting karena mencerminkan pandangan masyarakat Mesopotamia tentang kekuasaan, gender, dan keseimbangan kosmos. Pengaruhnya sangat luas, bahkan kemudian diserap dan diadaptasi dalam budaya lain, seperti dalam figur dewi Ishtar di Babilonia.