Ikonoklasme

Dipublikasikan: 8 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 8 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando — Ikonoklasme adalah gerakan atau doktrin dalam sejarah agama yang menentang penggunaan, penghormatan, atau pemujaan terhadap gambar, patung, dan ikon religius. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani eikon (gambar) dan klastes (pemecah), yang secara harfiah berarti “pemecah gambar.” Ikonoklasme muncul terutama dalam konteks Kekristenan Bizantium, Reformasi Protestan, dan beberapa tradisi Islam, dengan alasan bahwa penghormatan terhadap gambar dapat mengarah pada penyembahan berhala dan menyimpang dari prinsip monoteistik.

Ajaran Ikonoklasme

Beberapa prinsip dan ajaran utama dalam ikonoklasme meliputi:

  1. Penolakan terhadap Pemujaan Ikon
    Ikonoklasme menekankan bahwa pemujaan gambar atau patung dapat mengaburkan fokus pada Tuhan yang tidak terlihat. Penghormatan kepada benda-benda visual dianggap mengarah pada penyembahan berhala.
  2. Alasan Teologis
    • Berdasarkan Sepuluh Perintah Allah dalam Perjanjian Lama yang melarang pembuatan gambar untuk tujuan penyembahan.
    • Menekankan transcendensi Tuhan yang tidak dapat diwakili oleh bentuk materi.
  3. Distingsi Antara Veneration dan Worship
    Beberapa ikonoklast menolak pemujaan sama sekali, sedangkan yang lain membedakan antara penghormatan (veneration) terhadap ikon dan penyembahan (adoration) kepada Tuhan, meski tetap cenderung menolak praktik pemujaan ikon.
  4. Penerapan dalam Liturgi dan Seni
    Ikonoklasme menolak penggunaan patung, lukisan, atau simbol visual dalam ritual, dan mendorong pengajaran melalui kata-kata, teks suci, atau simbol abstrak.
  5. Etika dan Disiplin Spiritual
    Ikonoklast menekankan kehidupan moral dan spiritual yang murni, menghindari ketergantungan pada simbol visual untuk pengalaman religius.

Sejarah Perkembangan Ikonoklasme

  1. Bizantium (abad ke-8–9)
    • Kaisar Leo III memulai periode ikonoklasme Bizantium (726–787), yang menentang pemujaan ikon di gereja.
    • Konsili Nikea II (787) menegaskan legitimasi penggunaan ikon, tetapi ikonoklasme kembali muncul antara 814–842.
  2. Reformasi Protestan (abad ke-16)
    • Beberapa reformator seperti Ulrich Zwingli dan John Calvin menentang penggunaan patung dan lukisan di gereja, karena dianggap mengarah pada penyembahan berhala.
    • Beberapa gereja Protestan menghapus ikonografi, dekorasi, dan altar hias.
  3. Tradisi Islam dan Yahudi
    • Dalam Islam, terutama Sunni, ikonoklasme diterapkan secara luas, menghindari representasi visual makhluk hidup dalam seni religius.
    • Yahudi juga menerapkan larangan serupa berdasarkan hukum Taurat.
  4. Era Modern
    Ikonoklasme masih memengaruhi beberapa tradisi Protestan konservatif, serta seni dan kritik terhadap materialisme religius.
Orang lain juga membaca :  Monofisitisme

Tokoh-Tokoh Berpengaruh dalam Ikonoklasme

  1. Leo III (685–741) – Kaisar Bizantium, pemrakarsa ikonoklasme pertama.
  2. Theophilus (813–842) – Kaisar Bizantium yang mendukung kebijakan ikonoklasme kedua.
  3. John Calvin (1509–1564) – Reformator Protestan, menentang penggunaan ikon dalam ibadah.
  4. Ulrich Zwingli (1484–1531) – Reformator Swiss yang menekankan penghapusan gambar dalam gereja.
  5. Andreas Karlstadt (1486–1541) – Aktivis reformasi ikonoklastik di Jerman.

Referensi

  • Mango, C. (1990). Byzantium: The Empire of New Rome. Scribner.
  • Louth, A. (2007). Greek East and Latin West: The Church AD 681–1071. St Vladimir’s Seminary Press.
  • Lindberg, C. (1992). The European Reformations. Blackwell.
  • Calvin, J. (1536). Institutes of the Christian Religion. Westminster John Knox Press.
  • Schiller, G. (1971). Iconography of Christian Art. Lund Humphries.

Citation

Previous Article

Hyper-Calvinisme

Next Article

Imamisme

Citation copied!